Setiap manusia di muka bumi ini, tidak dapat melepaskan diri dari ruang dan waktu. Setiap mereka pasti memiliki masa lalu, masa kini dan masa depan. Waktu bagaikan sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa. Waktu bisa membangkitkan semangat manusia atau melalaikan manusia. Ia diam seribu bahasa, bahkan kita sebagai manusia sering tidak menyadari kehadirannya dan bahkan kita sering meupakan nilainya. Segala sesuatu takkan pernah terlepas dari waktu kecuali Allah, Tuhan yang maha Esa. Allah berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjukkan arti waktu. Allah sering bersumpah menggunakan waktu, yang waktu sendiri merupakan ciptaan-Nya.
Menurut ahli tafsir, Allah selalu bersumpah dengan menggunakan waktu agar manusia hendaknya benar-benar memperhatikan waktu. Karena waktu sangat penting dan berharga dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya mengapa Allah sering kali menggunakan deskriptif tentang waktu ketika bersumpah. Tanggapan ini dirujuk dari buku M.Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung:PT Mizan Pustaka, 2005) hlm 545.
Waktu dalam Al-Qur’an
Di dalam al-Qur’an sendiri, kata waktu berasal dari akar kata وقت yang terdiri dari 3 huruf yaitu: wau, qaf dan ta, yang artinya menentukan atau menetapkan waktu. Di dalam al-Qur’an, kata waktu ditunjukkan pada beberapa trem, seperti ghadah, ‘ashr, bukrah, ashilla, asyiyya, ‘isya, layl, nahar, yawm, syahr, ‘am, sanah, waqt, dahr, ajal, sa’ah, dan hin. Berangkat dari bermacam-macam kata ini, saya tertarik untuk membahas makna sa’ah dan waqt dalam al-Qur’an. Jika mengutip dari penjelasan M.Quraish Shihab dalam kitab tafsir al-Mishbah yang berkaitan dengan pembahasan sa’ah dan waqt terdapat dalam Q.S al-A’raf ayat 187 dan an-Nisa ayat 103.
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S Al-A’raf: 187).
M. Quraish Shihab menafsirkan kata as-sa’ah dengan makna akhir masa kehidupan duniawi serta kepunahan alam untuk memasuki tahap hidup baru diakhirat. Hari tersebut dinamai demikian karena singkatnya waktu itu, ditinjau dari sisi kuasa Allah swt. Serta begitu mendadaknya sehingga manusia tidak mempunyai waktu sesaat pun untuk menghadapinya. Kata innama yang digunakan pada ayat tersebut mengandung makna pembatasan, dalam arti hanya Dia dan tidak ada selain-Nya.
Antara waqt dan sa’ah
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا .
Artinya: “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S an-Nisa : 103).
Kata موقوتا dari segi bahasa, kata waqt berarti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan satu pekerjaan. Setiap sholat mempunyai waktu, dalam arti masa ketika seseorang harus menyelesaikannya atau mengerjakannya. Apabila masa itu berlalu, maka berlalu jugalah waktu sholat itu. Waqt memberi kesan tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya dan sekaligus keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tersebut dan bukannya membiarkannya berlalu hampa.
Waktu sendiri merupakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Maka sudah sepantasnya kita sebagai manusia harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin tanpa harus menyia-nyiakannya. Dikutip dari jurnal yang berjudul Waktu Dalam Perspektif Al-Qur’an oleh Murniyetti, Allah SWT berkali-kali menyebutkan waktu dalam al-Qur’an yang menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Sebab, Allah tidak bersumpah terhadap sesuatu didalam al-Qur’an kecuali untuk menunjukkan kelebihan yang dimiliki-Nya.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.