اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah ibarat misykāt yang di dalamnya terdapat pelita. Pelita itu di dalam relung kaca, dan relung kaca itu bagaikan bintang (yang bercahaya), seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh, tidak di sebelah timur (sesuatu), juga tidak di sebelah barat-(nya); yang minyaknya (saja) nyaris menerangi, walaupun tidak disentuh oleh api. Cahaya (itu) di atas (segala) cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.s. al-Nūr [24]:35)
Ayat yang mengandung “perumpamaan nan agung” ini tersisip setelah deretan ayat yang merupakan bimbingan khusus mengenai keluarga dan kehidupan sosial yang beradab. Ayat-ayat Sūrat al-Nūr sebelumnya menerangkan hukum bagi orang yang tidak dapat menjaga kemaluannya dan hal-hal yang berkait dengan perzinaan, seperti menuduh orang berbuat zina, kisah seputar tuduhan terhadap ‘A’isyah istri Nabi saw. (qishshat al-ifk), perintah memejamkan mata, anjuran melangsungkan pernikahan agar kemaluan terpelihara, dan perintah menjaga kesucian bagi orang yang belum mampu nikah, serta larangan memaksakan wanita-wanita untuk melakukan pelacuran. Ini tentu merupakan sebuah isyarat bahwa ada keterkaitan antara ajaran Islam yang satu dengan yang lain.
Ayat Cahaya dan Pentingnya Melibatkan Nalar Irfani
Membahas ayat ini sejatinya memerlukan tak hanya “pengetahuan” yang berpijak pada nalar burhāni ataupun bayāni, tetapi juga yang ‘irfāni. Tak hanya rasio atau intelek, tetapi juga dzawq dan “pengalaman berpetualang di alam ma‘rifah”. Betapa tidak, kesulitan demi kesulitan tak ayal akan ditemui dalam proses memahami kedalaman maknanya. Tingkat kesukarannya agaknya hanya bisa diatasi oleh orang yang bashīrah-nya telah dihiasi cahaya hakikat — ‘ārif bi Allāh dalam bahasa kaum sālik.
Sepintas, perumpamaan yang dikandung ayat ini memang tiada susah dimengerti. Namun, justru karena ia merupakan perumpamaan (matsal, metafor), maka maksud sesungguhnya tak mudah diraba. Pasal ayat ini, Abdullah Yusuf Ali dalam buku terjemah Qur’an-nya (The Holy Qur’an) pun berkomentar, “no notes can do adequate justice to its full meaning”(tak ada catatan yang dapat memberikan penilaian yang tepat mengenai artinya yang sebenarnya).
Said Hawwa dalam al-Asas pun turut menandaskan, “sesungguhnya tidaklah sanggup memahami ayat ini selain orang yang mengkombinasikan ilmu dan sulūk (pencarian) kepada Allah.” Nyatanya pun, kita bisa mendapati banyak sekali ragam penafsiran dan penakwilan yang umumnya tak tergambar bila hanya dari pencermatan sekilas terhadap apa yang tersurat dalam ayat ini.
Al-Ghazali dan Misykat Al-Anwar
Paparan berikut ini adalah upaya tafsir muqāran untuk menjelaskan kandungan makna ayat tersebut.
Tafsir tematik (maudhū‘ī) yang paling luas mengupas “rahasia cahaya ilahi” dalam ayat ini boleh jadi adalah karya Ghazāli, Misykāt al-Anwār fī Tawhīd al-Jabbār. Dalam kitab ini, Ghazali menyelaraskan ayat tersebut dengan sabda Rasulullah saw.:
انّ لله سبعين الف حجاب من نور وظلمة، لو كشفها لأحرقت سبحات وجهه كل من ادركه بصره.
“Sesungguhnya Allah memiliki tujuh puluh ribu hijāb (penghalang) berupa cahaya dan kegelapan. Seandainya Dia membukanya, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar siapa saja yang melihat-Nya.”
Menariknya, Ghazāli sampai pada kesimpulan bahwa cahaya bisa menjadi hijāb (penghalang) bagi manusia untuk sampai pada Tuhannya. Namun, cahaya-cahaya mempunyai ranking. Cahaya itu terus membumbung naik hingga mencapai sumber cahaya pertama, yakni Cahaya itu sendiri. Allah-lah yang merupakan cahaya hakiki; selain-Nya adalah cahaya majazi. Pemahaman-pemahaman Ghazāli itu merepresentasikan sosoknya selaku seorang sufi-filsuf. Sisi menarik kitab tersebut mendesak penulis untuk acap merujuknya pada bahasan berikut.
Cahaya dalam Al-Qur’an
Kata “nūr” dalam al-Qur’an terulang sebanyak 43 kali. Adakalanya langsung dinisbatkan kepada Allah, adakalanya dinisbatkan kepada Kitab-kitab-Nya (al-Qur’an, Taurat, dan Injil), ada pula yang dinisbatkan kepada orang-orang mukmin atau orang-orang munafiq, dan ada yang dinisbatkan kepada bulan, serta ada yang berdiri sendiri. Sering kali kata nūr dalam al-Qur’an identik dengan keimanan, sedangkan kata zhulumāt — yang sering dilawankan dengan nūr — identik dengan kekufuran.
Cukup menarik bahwa al-Qur’an selalu menggunakan kata nūr dalam bentuk tunggal. Berbeda dengan “kegelapan” (zhulumāt) yang selalu dalam bentuk jamak. Yang demikian boleh jadi memberi isyarat bahwa “cahaya” sesungguhnya satu atau tak berbilang/terbagi atau satu sumbernya. Sementara “kegelapan” itu banyak dan berbilang, tidak satu sumbernya.
Baik cahaya (nūr) maupun kegelapan (zhulumāt) sama-sama “dijadikan” dan bukannya “diciptakan”. Al-Qur’an selalu (dalam tujuh tempat) menyebut kata kerja (dari fi‘l mādhi) “ja‘ala” guna mengacu hubungan antara Allah dengan keduanya. Berbeda ketika memakai kata kerja “khalaqa” untuk merujuk relasi antara Allah dengan langit (samāwāt) dan bumi (ardh). (lihat Sūrat al-An’ām [6]:1).
Perbandingan antara cahaya dan kegelapan dalam al-Qur’an disepadankan dengan perbandingan antara “orang yang melihat” (bashīr) dan “orang yang buta” (a‘má). (lihat Sūrat al-Ra’d [13]:16 dan Sūrat Fāthir [35]:20). Sementara perpindahan dari cahaya menuju kegelapan atau sebaliknya oleh al-Qur’an disebut sebagai proses “keluar” (khurūj) karena al-Qur’an selalu (dalam tujuh tempat) memakai kata kerja dari fi‘l mādhi “kharaja” atau “akhraja”.
Konsep cahaya dalam al-Qur’an juga berkait dengan “kesempurnaan” (tamām). Terhitung tiga kali al-Quran mengkaitkannya. (lihat Sūrat al-Tawbah [9]:32, al-Shaff [61]:8, dan al-Tahrīm [66]:8). Agaknya hal itu merupakan penegasan bahwa ada cahaya yang sempurna dan ada yang belum sempurna.
Beda Nūr dan Dhiyā’
Al-Qur’an tampak membedakan arti nūr dan dhiyā’ meski sama-sama dipadankan dengan kata “cahaya” (disinonimkan). Ditemukan bahwa kata dhiyā’ atau yang terangkai dari huruf-huruf yang sama digunakan untuk cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri. Karenanya, matahari oleh Allah dijadikan dhiyā’ sebab cahayanya bukan pantulan seperti halnya bulan yang dijadikan nūr. (lihat Sūrat Yūnus: 5). Menurut Mahmud Alūsi dalam tafsirnya, dhiyā’ merupakan sesuatu yang memencar, sementara nūr tidak, atau bisa juga: nūr adalah asal dari dhiyā’. Akan tetapi, merujuk Sūrat al-An’ām/6:1, kentara bahwa dhiyā’ dan semua cahaya pada hakikatnya adalah nūr, pantulan dari sumber cahaya yang tidak redup (Allah).
Cahaya menurut al-Qur’an merupakan anugerah Allah kepada orang-orang yang beriman. Cahaya berlapis-lapis sebagaimana orang beriman juga bertingkat-tingkat. Ayat 35 dari Sūrat al-Nūr disusul dengan tiga ayat yang menjelaskan ciri-ciri kaum mukmin yang mendapat pancaran cahaya ilahi dan kemudian dua ayat yang menerangkan keadaan kaum kafir yang tenggelam dalam kegelapan. Bila ayat 35 menjelaskan bahwa cahaya berlapis-lapis, maka ayat 40 mengisyaratkan bahwa kegelapan (tempat orang kafir) juga berlapis-lapis.
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diikuti oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula). Di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun”.(Sūrat al-Nūr [35]:40).
Bersambung…..
Penyunting: Bukhari


























Leave a Reply