Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Oman Fathurahman dan Enam Alur Penelitian Filologi

filologi
sumber: Penulis

Filologi sangat menarik untuk dipelajari, karena di dalamnya terdapat sumber-sumber primer dalam bentuk manuskrip yang belum pernah kita ketahui. Bahkan dalam pengantarnya, Oman Fathurahman pernah mengatakan bahwa naskah telah memandunya menapaki jalan pintas untuk menyelami sejarah, peradaban, dan ilmu pengetahuan masyarakat Nusantara.

Dalam artikel ini saya akan mengajak teman-teman untuk menyelami filologi yang dikembangkan dan ditulis oleh Oman Fathurahman. Merujuk pada bukunya Filologi Indonesia Teori dan Praktik, yang membahas mengenai filologi, objek kajian filologi, sejarah perkembangan studi filologi, sampai pada teori, metode, dan alur penelitian filologi.

Perlu digaris bawahi artikel ini fokus pada alur penelitian filologi. Hal ini dituangkan oleh Oman Fathurahman terbagi menjadi enam alur penelitian.

Biografi dan Arti Filologi

Sebelum jauh mengenal Oman Fathurahman dan enam alur penelitian filologinya. Ada baiknya mengetahui biografinya dan mengetahui apa itu filologi?

Oman Fathurahman lahir pada 8 Agustus 1969 di Kuningan, Jawa Barat. Ia adalah Guru Besar Filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak kecil, ia sudah gemar belajar dasar keagamaan, bahasa Arab, dan kitab kuning dari Ayahnya K.H. M. Harun. Kegemaran tersebut membawanya sampai keperguran tinggi menjadi mahasiswa di jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

Karya Oman juga sangat banyak diantaranya:  Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke-17 (1999), Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia se-Dunia (1999), Tarekat Syatariyah di Minangkabau (2003), dan sebagainya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) filologi merupakan ilmu tentang bahasa, pranata, kebudayaan, dan sejarah bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Sedangkan, menurut Oman Fathurahman sendiri filologi adalah the study of the historical development of languanges (kajian atas sejarah perkembangan bahasa).

Baca Juga  Jalan Istiqomah

Menurut catatan Siti Baroroh Baried dalam bukunya Pengantar Teori Filologi, menyebutkan bahwa Indonesia dalam sejarahnya dipengaruhi bangsa Belanda. Maksudnya, arti filologi mengikuti penyebutan yang ada di negeri Belanda. Di mana filologi diartikan sebuah disiplin yang mendasarkan kerjanya pada bahan terutulis. Tujuannya mengungkap makna teks dari segi kebudayaan. Misalnya teks berbahasa Melayu, Jawa, Aceh, Batak, Minangkabau, Sunda, dan Bugis.

 Enam Alur Penelitian Filologi

Pertama: Penentuan Teks

Alur yang pertama ini peneliti naskah bebas memilih teks. Biasanya pemilihan didasarkan pada latar belakang keilmuan seseorang. Apabila latar belakang penelitinya suka terhadap sastra, maka akan lebih baik memilih naskah yang membahas mengenai sastra.  Apabila suka terhadap sejarah, maka akan lebih baik memilih naskah mengenai sejarah.

Seperti Oman sendiri dalam menentukan korpus utama memilih No. Naskah A 665 yang oleh Van Rolker didaftarkan sebagai al-Thariqah al-Syattariyah karangan seorang ulama Aceh pada abad ke-17, Abdurrauf Ibn Ali Al-Jawi (w. 1693).

Kedua: Inventarisasi Naskah

Alur kedua ini merupakan melacak katalog yang berhubungan dengan naskah yang akan diteliti. Maksudnya, peneliti mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber. Tujuan dari melacak katalog agar mendapatkan pengetahuan lebih banyak dan dapat dinarasikan sesuai kebutuhan.

Era digital ini pelacakan naskah atau manuskrip sangat mudah. Pelacakan dapat dilakukan melalui Tsaurus of Indonesia Islamic Manuscripts, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), atau melalui Database of Sautheast Asian Islamic Manuscripts (DISAIN).

Ketiga: Deskripsi Naskah

Pada alur ketiga ini peneliti naskah melakukan identifikasi kondisi teks, isi teks, dan identifikasi kepengarangan. Tujuannya agar menghasilkan deskripsi yang sempurna. Misalnya dalam satu naskah bisa jadi di dalamnya terdapat tulisan mengenai fikih, sastra, atau bahkan tasawuf. Nah, semuanya itu perlu dideskripsikan.

Baca Juga  Resiliensi: Seni Bertumbuh Bersama Ujian

Naskah yang didiskripkan adalah naskah yang sudah diinventarisasi. Sehingga, membutuhkan kehati-hatian pada alur ini. Hal-hal yang perlu didiskripsikan diantaranya: publikasi naskah, nomor naskah, pensil, tinta, konsisi fisik naskah, penjilidan, garis tebal dan tipis, kolofon, dan sebagainya.

Keempat: Bandingkan Naskah dan Teks

Pada alur yang ini yang dibandingkan adalah usia naskah dan kualitas bacaan. Misalnya: Kondisi fisik naskah “A” menggunakan kertas kuning dan kondisi fisik naskah “B” menggunakan kertas Eropa. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan tiap-tiap naskah. Perlu digaris bawahi alur ini hanya berlaku apabila lebih dari satu naskah.

Kelima: Suntingan Teks

Pada alur suntingan teks ini bermaksud untuk menghadirkan teks siap baca dan terjemahannya jika diperlukan. Hal ini dilakukan agar masyarakat luas bisa membacanya dengan mudah. Hal ini tentu saja menggunakan metode yang dibutuhkan. Oman sendiri menuliskan ada empat langkah-langkah metodologis yang dapat digunakan.

  1. Edisi Faksimile

 Edisi faksimile dimaksudkan menduplikasi secara konvensional, photo copy, microfilm. Hal ini bertujuan agar mendapatkan informasi naskah secara “asli”. Sehingga teks tertampil apa adanya tanpa adanya suntingan.

Edisi Diplomatik

Edisi diplomatik adalah edisi yang tampil karena ada upaya transkrip. Ini juga agar naskah sesuai keasliannya.

Edisi Elektis

Edisi elekstis atau biasa disebut dengan edisi gabungan. Mengapa dikatakan sebagai gabungan? Karena teks yang dihasilkan menggabungkan lebih dari satu versi asli.

Edisi Kritis

Edisi kritis adalah edisi suntingan teks hasil olahan penyunting dengan kualitas bacaan terbaik. Jadi, ada upaya campur tangan untuk perbaikan teks, pengurangan, dan bahkan penambahan.

Keenam: Menerjemahkan dan Analisis Isi

Pada alur yang keenam ini, hendaknya seorang peneliti naskah menerjemahkan teks yang telah disunting dan juga menganalisinya menggunakan teori. Pada bagian ini sangat penting. Karena kita dituntut untuk tidak hanya menguasai teks, tetapi juga dituntut untuk mengetahui konteks teks tersebut muncul. Hal yang dianalisis meliputi: Aspek kesejarahan munculnya naskah, latar belakang teks itu hadir, wacana apa saja yang direspon, dan sebagainya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 87: Membunuh Rasul-Rasul

Dengan demikian, alur penelitian naskah ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin melihat budaya bangsanya, milihat kolofon naskahnya, dan menjadi sumber primer terpenting bagi yang ingin mengembangkannya.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Presidium 1 Fascho Learing Center (FLC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Ciputat tahun 2018-2019, alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Jurnalis Madrasahdigital.Co