Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menyikapi Fenomena Flexing dari Perspektif Hadis

Flexing
Gambar: wahananews.co

Islam sebagai agama yang penuh dengan nilai-nilai moral dan adab telah memberikan pengajaran yang komprehensif sekaligus terperinci kepada umatnya. Bahkan tidak ada satupun aspek kehidupan yang luput dari sentuhan agama Islam. Islam dalam artian berupa ajaran yang terkandung dalam firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw. Ajaran ini berlaku kapanpun dan dimanapun, menembus ruang dan waktu, bahkan sampai saat ini masih tetap diamalkan oleh para penganutnya.

Termasuk fenomena yang akhir-akhir ini terjadi di tengah masyarakat. Salah satunya adalah fenomena memamerkan kekayaan harta dalam bentuk apapun di hadapan khalayak ramai melalui platform media sosial yang dikenal dengan istilah flexing. Islam dengan ajarannya yang komprehensif memberikan tanggapan atas fenomena ini khususnya melalui sabda-sabda Nabi Muhammad Saw.

Definisi Flexing

Pada dasarnya flexing adalah istilah yang digunakan dalam ranah ekonomi khususnya ruang lingkup marketing dan investasi. Dalam Merriam Webster disebutkan bahwa flexing berasal dari kata flex yang berarti menunjukkan atau mendemonstrasikan. Kalau melihat fenomena sosial hari ini, flexing adalah perilaku yang identik untuk memamerkan kekayaan dengan tujuan tertentu. Apalagi didukung dengan kehadiran media sosial yang memberikan kemudahan bagi orang-orang untuk memamerkan kekayaannya dalam bentuk apapun itu.

Kata flexing sering kali ditujukan kepada orang-orang yang haus akan pengakuan. Karena mereka suka dan seringkali memamerkan kekayaan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Pandangan lain juga menyebutkan bahwa flexing berarti orang yang palsu, memalsukan, atau memaksakan gaya agar bisa diterima dalam sebuah pergaulan.

Fenomena ini memberikan warna tersendiri dalam dinamika pergaulan sosial. Sehingga melahirkan istilah-istilah baru seperti crazy rich atau sultan yang cenderung menunjukkan eksistensinya sebagai orang kaya. Melalui media sosial mereka mencoba untuk mempertontonkan kekayaan mereka. Misalnya dengan memperlihatkan saldo ATM, barang-barang branded, jet pribadi, pakaian-pakaian mahal, liburan ke luar negeri dan rumah megah.

Mengejar Label Crazy Rich

Tujuannya tentu saja bermacam-macam. Baik untuk kebutuhan endorsement, menunujukkan kredibilitas diri dengan kekayaan yang dimiliki. Agar mendapatkan pasangan yang kaya raya atau bahkan sebagai alat modus penipuan. Saat seseorang melakukan flexing ia kerap menunjukkan sisi ideal dari kehidupannya agar disukai oleh publik. Seperti memperlihatkan barang-barang branded agar disukai oleh orang-orang kaya yang menyukai barang mahal. Perilaku ini bisa menggiring pelakunya kepada hal-hal negatif seperti hadirnya rasa sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.

Hal ini berbedea dengan orang yang benar-benar kaya dalam artian kaya sesungguhnya. Mereka justru berusaha untuk tidak memamerkan kekayaannya di hadapan khalayak ramai demi menjaga kehormatan. Sebagian besar orang kaya akan berusaha menjaga privasi mereka sebagai individu yang tertutup agar tidak menjadi sorotan media. Flexing sendiri bertolak belakang dengan prinsip tersebut. Sebab mereka berupaya untuk memperlihatkan kekayaannya, agar menjadi sorotan media yang imbasnya mereka dicap sebagai crazy rich. Yakni orang yang hidup dengan penuh kemewahan dan bergelimang harta. Apabila dahulu pamer harta dan kekayaan dianggap hal yang tabu, tidak pantas dan dilarang. Akan tetapi hari ini menjadi hal yang umum dan biasa.

Baca Juga  Bagaimana Menafsirkan Al-Qur'an dengan Pendekatan Semiotika?

Flexing secara tidak langsung telah memberikan dampak pada penyimpangan moral di mana orang-orang berupaya dengan berbagai cara agar eksistensinya diakui dengan cara memamerkan kekayaan di hadapan khalayak umum. Selain itu, perilaku ini adalah cerminan dari kecintaan seseorang terhadap dunia. Hal ini sah-sah saja sebenarnya dilakukan oleh siapapun. Akan tetapi dalam ajaran Islam Rasulullah Saw mengkritik perbuatan ini serta memperingatkan umatnya untuk menjauhi sifat cinta dunia.

Flexing dan Larangan Mencintai Dunia Berlebihan

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ وَالْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ النَّصْرِيِّ عَنْ نَهْشَلٍ عَنْ الضَّحَّاكِ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ سَمِعْتُ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ الْمَعَادِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهِ هَلَكَ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad dan all Husain bin Abdurrahman keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Mu’awiyah al Nashri dari Nahsyal dari al Ḍahak dari al Aswad bin Yazid dia berkata; Abdullah berkata, “Saya pernah mendengar Nabi kalian Saw bersabda, “Barangsiapa menjadikan segala macam keinginannya hanya satu, yaitu keinginan tempat kembali (negeri Akhirat), niscaya Allah akan mencukupkan baginya keinginan dunianya. Dan barangsiapa yang keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, maka Allah tidak akan memperdulikan dimanapun ia binasa.” (H.R. Ibn Majah)

Melalui hadis ini Rasulullah Saw. memperingatkan umat manusia khususnya orang Islam agar tidak mencintai dunia dengan sepenuh hati. Karena ada kehidupan akhirat yang lebih abadi. Dalam Ḥāsyiyah al-Sindī dijelaskan bahwa barang siapa yang orientasinya hanya akhirat akan dipermudah urusannya untuk menggapainya. Akan tetapi jika orientasinya beraneka ragam dan cenderung pada kehidupan dunia. Maka Allah tidak akan memperdulikan keadaannya bahkan jika ia celaka sekalipun.

Flexing bisa berindikasi bahwa seseorang itu terjangkit penyakit cinta dunia yang berlebihan. Sampai-sampai ia berusaha untuk memamerkan kekayaan yang dimilikinya ataupun kemewahan hidup yang dijalaninya. Padahal itu semua pemberian dari Allah Swt, dan ia lupa bahwa itu hanya bersifat sementara dan fana. Terlepas dari itu semua Allah Swt juga tidak memandang seseorang dari kekayaan yang dimilikinya ataupun keindahan paras yang dimilikinya. Karena Allah memandang seorang hamba itu berdasarkan hati dan amalnya. Sebagaimana hadis populer yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Baca Juga  Tips Memaksimalkan Waktu Pagi ala Islam dan Barat

Allah Melihat Hati dan Amal, Bukan Harta

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”

Imam al-Nawawi menjelaskan makna hadis ini di dalam kitab Syarh Shahih Muslim-nya. “Bahwasanya Allah Swt tidak memandang seseorang itu berdasarkan penampilan tubuhnya, kekayaannya dan keindahan paras wajahnya. Akan tetapi Allah Swt memandang seseorang itu berdasarkan integritas dirinya melalui ketakwaan, amal dan hatinya. Karena dari hati seseorang bisa terlihat seberapa besar rasa takutnya kepada Allah dan upayanya untuk mendekatkan diri kepada dzat yang telah menciptakannya”.

Hati bisa menggambarkan seluruh aspek kehidupan seseorang. Oleh karena itulah Allah jadikan hati manusia sebagai patokan untuk menilai diri seseorang bukan dari apa yang ditampilkannya secara lahir. Sesuai juga dengan hadis yang mengatakan bahwa ada segumpal daging yang berpengaruh bagi kehidupan manusia. Apabila ia baik maka baiklah seluruh hidupnya dan apabila buruk maka buruklah seluruh hidupnya ketahuilah bahwa ia adalah hati. 

Dampak Sosial Flexing

Dari sudut pandang sosial flexing bisa memberikan dampak buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini karena orang yang melakukan flexing tanpa mereka sadari sudah mengacaukan strata sosial dan menumbuhkan kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat.

Bayangkan saja orang-orang yang tidak berpunya misalnya dan hidup di bawah garis kemiskinan saat melihat orang-orang kaya memamerkan kekayaannya, akan muncul rasa minder, rendah diri bahkan bisa memancing mereka untuk melakukan tindakan kejahatan seperti merampok dan mencuri.

Keadaan ini tentu saja berpengaruh pada pola interaksi sosial dan menghadirkan kerusakan dalam tatanan masyarakat. Karena perilaku memamerkan kekayaan itu masuk dalam katerogi kesombongan seseorang. Imam Ibn Mājah meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مَطَرٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ خَطَبَهُمْ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ali bin al Husain bin Waqid telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Mathar dari Qatadah dari Mutharif dari ‘Iyadl bin Himar dari Nabi Saw bahwa beliau berkhutbah di hadapan para sahabat dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewahyukan kepadaku supaya kalian bersikap rendah hati, sampai tidak ada lagi salah seorang dari kalian saling berbangga diri kepada yang lainnya.”

Hadis ini mengisyaratkan bahwa setiap manusia mempunyai posisi yang sama di mata Tuhan, sehingga tidak sepantasnya seseorang berlaku sombong dan tinggi hati lantaran kedudukan ataupun kekayaan yang dimilikinya, apalagi sampai memamerkannya kepada khalayak ramai.

Baca Juga  Gaya Hidup vs Rasa Cukup: Refleksi QS. Ibrahim tentang Syukur

Pentingnya Sikap Rendah Hati

Abd al-Rauf al-Munawi dalam Faidh al-Qadīr menyebutkan bahwa Ibn Qayyim menjelaskan sikap tawadhu’ adalah merendahkan diri di hadapan Allah Swt sehingga dia tidak lagi memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia dibandingkan makhluk Allah yang lainnya. Sedangkan orang yang takabbur adalah dia yang meninggikan dirinya lebih dari yang lain maka dia meremehkan makhluk Allah yang lainnya. Oleh karena itu orang-orang yang melakukan tindakan flexing ini mencemari nilai-nilai persamaan dan kehormatan antar sesama karena mereka berupaya mengangkat diri mereka untuk dipandang dan melahirkan sifat sombong. Tidak sepatutnya manusia berlaku sombong atas pemberian yang hanya berupa titipan dari yang Maha Kuasa.

Fenomena flexing ini menurut hemat saya perlu untuk diobati dan salah satu caranya adalah dengan menerapkan hidup sederhana sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat terdahulu, tokoh-tokoh dunia dan orang-orang kaya. Abdurrahman bin Auf salah seorang sahabat nabi yang paling kaya yang kekayaannya memenuhi wilayah Madinah, hidup dengan penuh kesederhanaan, bahkan orang-orang tidak akan megenal dirinya sebagai orang yang kaya saat berbaur dengan masyarakat dan karyawannya saking sederhananya sikap beliau.

Kemudian mantan Presiden Iran Mahmoed Ahmadinejad, kedudukannya sebagai kepala negara tidak membutakan matanya untuk hidup mewah bahkan harta kekayaan yang dimilikinya hanya sebuah mobil keluaran tahun 1977, sebuah rumah warisan dari sang ayah di daerah kumuh dan saldo rekening yang minimum.

Selain itu dia juga menolak untuk menerima gajinya sebagai kepala negara dengan alasan bahwa kesejahteraan adalah milik negara dan ia hanya bertugas untuk menjaganya. Dalam bepergian pun ia hanya memilih pesawat kelas ekonomi, maka tidak heran jika rakyat Iran bisa terbang bersama presidennya.

Belajar dari Jusuf Hamka

Lalu salah seorang pengusaha jalan tol tanah air Jusuf Hamka, kekayaan yang dimilikinya tidak membuat dirinya jumawa dan suka pamer harta, justru dengan kekayaannya dia memilih hidup sederhana dan berbagi kepada sesama seperti makan di pinggir jalan, senang nongkrong di pasar loakan dan kegiatan-kegiatan sederhana lainnya. Bahkan ia mendermakan hartanya untuk pembangunan masjid.

Maka sudah tidak semestinya orang-orang berbangga dengan harta yang dimilikinya apalagi sampai pamer di media sosial karena hal itu menyelisihi nilai-nilai moral dan etika bermasyarakat khususnya dalam ruang lingkup kehidupan sosial yang penuh dengan kesenjangan. Dan hadis-hadis Nabi Saw, cukup sebagai tuntunan bagi umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya untuk menjalani kehidupan dunia yang fana ini.

Penyunting: Bukhari