Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menyelami Kedalaman Lain Surat Al-Fatihah

Sumber: https://www.themarinediaries.com/
Contents

Hari itu langit berubah senja, kedalaman lantunan bacaan surat Al-Fatihah terdengar jelas di telingaku. Suara itu bersumber dari seorang anak kecil di sudut mushola. Dengan nada khas anak kecil dan sedikit terbata-bata, ia berulang kali membacanya. Rupanya ia sedang meghapalkan surat Al-Fatihah beserta nada bacaannya. Tepat di sebelah mushola, aku sedari tadi memperhatikan dan menikmati bacaan anak kecil itu.

Tiba-tiba suara anak itu lenyap. Kemudian kesunyian itu membawaku pada kedalaman lain dari surat Al-Fatihah. Pertama, mengapa sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim diulang dua kali dalam surat ini? Kedua, mengapa ada perpindahan kata ganti dipertengahan surat? Dua pertanyaan ini mengajakku untuk menyelam lebih dalam menuju batin Al-Fatihah.

Adzan maghrib berkumandang, aku salat berjamaah bersama warga di mushola daerah Sorowajan, Jogja. Bacaan merdu imam salat membawaku kembali pada 2 pertanyaan yang masih mengusik kepalaku. Lalu, selepas salat dan doa aku bergegas pulang dan mencoba mencari jawaban melalui perenungan dan membuka rujukan kitab-kitab tafsir Al-Qur’an.

Sebelum merenungkan kembali dan membuka kitab tafsir, aku meracik kopi hitam saset untuk menemani usahaku menyelami kedalaman surat Al-Fatihah. Seduhan dan aroma kopi ini kuharap mampu membuat pikiranku fokus dan tenang.

Pertanyaan pertama membawaku pada posisi surat Al-Fatihah dan kedua sifat mulia itu. Surat Al-Fatihah berarti pembuka, sementara sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm adalah kasih sayang. Jika kasih sayang disebut dua kali, boleh jadi, pembuka dari segala tirai kegelapan, kebodohan dan kebencian adalah kasih sayang yang berlipat ganda. Artinya, surat Al-Fatihah ibarat obat kapsul penyembuh yang mengandung Rahmān-Rahīm dengan dosis dua kali lipat. Sehingga, siapa saja yang rutin dan sadar meminumnya akan terhindar dari penyakit membenci, mencaci dan menyakiti orang lain.

Baca Juga  Dilema Hermeneutika dalam Tafsir al-Quran

Ternyata, apa yang aku anggap sebagai pengulangan ternyata bukan. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ke-3 tidak bisa dianggap pengulangan penggalan ayat pertama (basmalah). Ayat ini menegaskan ayat sebelumnya, bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah sebagai Tuhan (rabb) sama sekali tidak atas dasar pamrih, kepentingan atau kesewenang-wenangan, melaikan murni atas dasar cinta dan kasih sayang Allah Swt. (Tafsir Al-Misbah, jil. 1, hal. 34)

Pendapat Quraish Shihab sejalan dengan gurunya; Syekh Mutawalli Sya’rawi. Asy-Sya’rawi menjelaskan bahwa tidak ada pengulangan dalam ayat ini, jika ada maka ada kesamaan makna antara ayat pertama dengan ayat sebelumnya. Karena ini firman Allah, maka penempatan kedua sifat itu di ayat pertama dan ketiga merupakan ketepatan dan memiliki maknaya yang indah dan sesuai. (Tafsir Asy-Sya’rawi, hal. 52)

Penyebutan sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm setelah Rabbul’ālamīn, seakan menampar para penguasa yang zalim dan sewenang-wenang. Allah saja yang Maha Berkuasa tetap memperlakukan hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih dan sayang. Dari penggalan ayat ini aku menyadari kedalaman pesannya, bahwa kekuasaan, jabatan dan kekuatan hendaknya dijalankan dengan asas cinta kasih, bukan kesewenang-wenangan.

Sebelum melanjutkan perenungan yang kedua, aku menyeruput kopi hitam buatanku yang masih cukup panas. Seruputan itu membukakan jalanku untuk memaknai peralihan kata ganti dalam surat Al-Fatihah. Jika ayat 1-4 memuja dan memuji Allah sebagai kata ganti orang ketiga (gaib), maka ayat 5-7 berubah menjadi kata ganti orang kedua (hadir) dengan kata “hanya kepada-Mu”. Apa filosofi dan maksud dari peralihan kata ganti ini?

Zamakhsyari dalam “Tafsir Al-Kasysyāf”, menerangkan bahwa perubahan ini disebut dengan “iltifāt” dalam ilmu Bayan (balāghah). Peralihan ini sering terjadi di dalam ayat Al-Qur’an, biasanya dari orang ketiga ke orang kedua, orang kedua ke orang ketiga, bahkan dari orang ketiga ke orang pertama. Baginya, peralihan ini bertujuan untuk mencuri perhatian pendengar, serta membangkitkan kesadaran untuk menyimak secara saksama dalam sebuah perkataan. (Tafsir Al-Kasysyāf, jil. 1, hal. 14)

Baca Juga  Pentingnya Fitrah Akliyah dalam Pendidikan Islam

Perihal perubahan redaksi ini, Makarim Syirazi dalam “Tafsir Amthal-nya” menguraikan bahwa seorang hamba yang membaca surat Al-Fatihah selayaknya meyakini bahwa dirinya hadir di hadapan-Nya dan merasakan dirinya tengah berbincang-bincang dan berbisik-bisik dengan Allah. (Tafsir al-Amthal, jil. 1, hal. 49) Sejalan dengan ini, Quraish Shihab menegaskan, Ketika hamba membaca hanya kepada-Mu, maka mitra bicaranya ada di hadapannya. Artinya kehadiran-Nya harus dirasakan kalaupun tidak terlihat. (Tafsir Al-Misbah, jil.1 hal. 52)

Membaca penafsiran ini, seakan terguncang hati dan jiwaku. Mengapa aku baru menyadari dan memahami redaksi ayat yang indah dan reflektif ini, padahal surat ini sudah ribuan kali kubaca selama hidupku bahkan kuhapal sejak kecil. Ayat ini menjadi dimensi puncak bagiku untuk terus merenungi dan berusaha menghadirkan Allah dalam bacaan, salat serta seluruh hidupku. Aku tak bisa membayangkan bahwa tatkala salat Allah hadir dihadapanku dan aku berbincang langsung dengan-Nya tanpa perantara.

Teringatku sebuah hadith perihal ihsan, bahwa Nabi Muhammad Saw. Pernah bersabda, “Ihsan adalah mengabdi kepada Allah sekan-akan engkau melihat, dan bila engkau tidak dapat melihat-Nya maka rasakan/yakinlah bahwa Dia melihat-Mu” (HR. Bukhari melalui ‘Umar Ibn al-Khaththab)

Merasa dilihat dan melihat-Nya, menjadikan hidupku penuh kewaspadaan akan apapun yang aku lakukan. Apalagi tatkala membaca 3 ayat terakhir dari surat Al-Fatihah, betapa Allah benar-benar hadir di hadapanku. Aku mendeklarasikan pengabdian dan pertolongan hanya kepada-Nya, serta merunduk penuh khusyuk meminta dimantapkan di atas jalan yang lurus.

Perenungan ini seakan begitu dalam, hingga kopiku kini sudah dingin, benar-benar dingin. Aku bersyukur pada anak kecil di sudut mushola itu. Berkat bacaannya yang khas dan berulang aku dapat menyelami kembali dimensi-dimensi lain surat Al-Fatihah yang sebelumnya tak kusadari. Betapapun sudah dingin, tetap kusruput kopi dinginku untuk menghilangkan kekeringan rohani dan pemahamanku perihal surat Al-Fatihah.

Baca Juga  Derivasi Kata Pendidikan dalam Al-Qur'an

Setelah kuseruput habis kopiku yang dingin, aku tidak lagi memikirkan asam lambung yang naik atau perut yang tak nyaman karena kembung, melainkan aku memikirkan kewaspadaan atas hal-hal yang sudah menjadi rutinitas tanpa ada perenungan dan refleksi di dalamnya. Aku berharap akan banyak lagi pintu hikmah yang terbuka dari perenunganku atas hal rutin yang mungkin sudah aku anggap selesai dan mapan. Wallahu’alam bishawab.