Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memaknai Kembali Eksistensi Doa

Rabbani
Sumber: https://www.shadesofgrace.org/

Sembari menakar ulang, tentu tidak bisa dipungkiri bahwa perihal doa merupakan topik kajian yang menurut saya menarik. Kenapa? Karena satu di antara seribu orang justru dengan lantangnya menganggap doa itu tidak ada faedahnya. Entah perkara yang didoakan, pada saat bersamaan Allah malah mengabaikan dan tidak seketika itu langsung mengabulkan permintaannya.

Persoalan ini sudah merambat luas di masyarakat. Kurangnya pengetahuan tentang keagamaan, saya kira adalah salah satu penyebab di antaranya. Bahkan, eksistensi Allah pun dianggap sirna akan keberadaannya. Juga termasuk dari bentuk menyepelekan atas melimpahnya nikmat yang tanpa kita sadari karena rahman dan rahim­-Nya.

Apa yang dimaksud doa? Mendengar pertanyaan khas di mata memandang, inilah pemaparan reflektif yang bertujuan agar dapat berfaedah sekaligus bermanfaat bilamana dimaknai perihal keberadaan doa.

Makna Etimologi Doa

Istilah doa atau (الدعاء), adalah masdar dari akar kata da’a-yad’u, berarti panggilan. Biasanya ini digunakan dalam bentuk penamaan, sebagai contohnya (دعوت ابني زيدا) yang artinya “aku memanggil (menamai) anakku dengan panggilan Zaid” (Ar-Raghib al-Ashfahani, Kamus Al-Qur’an, Penerjemah: A. Zaini Dahlan, Diterjemahkan dari kitab al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, 01/741).

Juga dinyatakan: (دعا بالشيء – دعوا ودعاعا ودعوى) berarti t{alaba ihdaruhu atau mendekatkan kepadanya, (دعا لفلان) berarti mencari kebaikan untuknya. (دعا على فلان) berarti mencarikan keburukan untuknya, (دعا إلى الدين والمذهب) berarti mengajaknya untuk meyakini suatu madzab, dan (الداعي) jamaknya adalah (أدعياء) berarti pengajak atau penyeru (M. Dhuha Abdul Jabbar, dkk, Ensiklopedia Makna Al-Qur’an: Syarah Alfaazhul Qur’an, 237).

Ibrahim Anis mengartikan da’a (دعا) sebagai menuntut kehadiran sesuatu atau mengharapkan kebaikan. Dalam bahasa Indonesia, diartikan sebagai menyeru, memohon, atau berdoa. Memohon sesuatu kepada Allah disebut doa, sementara mengajak orang kepada kebajikan disebut dakwah. Orang yang berdoa dan berdakwah disebut da’i (داع) atau ad-da’i (الداعي) (M. Quraish Shihab, Ensiklopedia Al-Qur’an, A-J/152).

Baca Juga  Keajekan KH. Ahmad Dahlan dalam Mempelajari Satu Bidang Ilmu

Doa dalam Hadis

Dilansir dari sebuah riwayat hadits yang sebagaimana Rasulullah bersabda, yakni:   

سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنَ، وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ والأَرْضِ

Artinya: Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, beserta cahaya langit dan bumi (HR. Abu Ya’la dan Hakim).  

Tak salah tentunya, menurut Jumhur bahwa tingkat kehambaan seseorang, diukur melalui urgensitas doa (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, 01/398), dengan firman Allah yang berbunyi:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina” (QS. Al-Mu’min [40]: 60).

Kata ud’u<ni, dipahami oleh mayoritas ulama’ dengan arti “beribadahlah kepada-Ku”. Diperkuat lanjutan ayat berikutnya, (إن الذين يستكبرون عن عبادتي) dan dikukuhkan oleh sabda Rasulullah dengan penafsiran: “Doa adalah inti dari ibadah” (HR. at-Tirmidzi). Sebab setiap ibadah mengandung permohonan yang tertuju kepada Allah (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, 12/347).  

Nu’man bin Basyir meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah bersabda: “Eksistensi Doa adalah ibadah”. Kemudian beliau membaca ayat (قال ربكم أدعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين). Abu Isa berkata, “hadits ini hasan shahih”. Juga menurut kalangan ahli tafsir, bermakna: “Esakanlah Aku, sembahlah Aku, Aku terima ibadah kalian, dan Aku ampuni kesalahan kalian” (Abu Abdullah al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 15/792).

Penutup

Sehingga menurut Tafsir al-Munir, ayat di atas mengandung perintah ibadah dan menjamin setiap doa akan dikabulkan dengan keagungan eksistensi Allah, karena merupakan janji. Juga mengancam mereka yang menyombongkan diri karena enggan berdoa. Justru Allah sendiri itu Tuhan yang Maha Pemurah dengan mengabulkan permohonan bagi siapa saja yang berdoa (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, 12/367).

Baca Juga  Al-Qur'an dan Menyikapi Kenyataan yang tak Sesuai Harapan

Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa doa memiliki arti memohon, yang secara hakiki ditujukan kepada Allah, sang Maha Kuasa. Dengan melihat hadits yang terpaparkan pula, nyatanya doa merupakan bagian dari kategori ibadah. Hal ini tentu bermakna akan keberadaannya. Semoga dengan artikel ini mampu menyadarkan siapa saja kepada pemahaman yang bijak perihal doa. Supaya tidak terjerumus dalam kesesatan semata, amin.

Penyunting: Ahmed Zaranggi