Dari Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:
إن لله أهلين من الناس قالوا: يا رسول الله, من هم؟ قال: هم أهل القرآن، أهل الله و خاصته
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rosul menjawab.“Para ahli Al-Quran. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihannya.(ahlul quran ahlullahi wa khassatuh)” (HR. Ahmad & Ibnu Majah. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
Teringat bagaimana hadis itu dilafalkan saat saya datang pertama kalinya ditempat itu beberapa tahun yang lalu. Sebut saja Sekolah A. Rambut saya berantakan keriting kumal, tubuh saya kurus pendek, serta wajah saya kusam dengan mata yang penuh harap bisa mendapatkan secercah cahaya keilmuan dari tempat itu. “Ahlulquran, ahlullahi wa khossotuh” Dawuh kiai saya.
Seperti yang sudah saya ceritakan sekilas pada paragraf satu diatas, memang pada realitanya hadis tersebut sering dilafalkan kepada para santri yang diprogramkan untuk menghafal Alquran dengan harapan menjadi dorongan motivasi bagi diri mereka untuk lebih semangat lagi menghafal Alquran.
Dalam memaknai hadis tersebut, Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Keluarga Allah maksudnya adalah para penghafal Alquran yang mengamalkannya, mereka itu adalah kekasih Allah yang dikhususkan dari kalangan manusia. Mereka dinamakan seperti itu sebagai bentuk penghormatan kepada mereka seperti penamaan baitullah (rumah Allah).”
Sedangkan saya sendiri memaknai ahlulquran, ahlullahi wa khossotuh adalah yang mengamalkan Alquran secara tekstual dan kontekstual. Tekstual berarti pengamalan Alquran dengan cara melafalkan huruf-perhurufnya sehingga menjadi irama yang enak didengar. Saya menyebut pelakunya sebagai akademisi Alquran, karena umumnya pengamalan ini terjadi di lingkungan akademik program tahfidz yang didalamnya terjadi pembelajaran tentang hal ini.
Adapun kontekstual berarti pengamalan Alquran berdasarkan makna tersirat maupun tersurat pada setiap ayat-ayat Alquran itu sendiri. Jangkauan dari amalan ini lebih luas dari amalan tekstual. Jika amalan tekstual hanya terjangkau pada ranah pengajaran alias akademisi, maka ranah kontekstual bisa terjangkau ke ranah pengajaran (akademisi) sekaligus non-pengajaran. Saya menyebut pelaku ranah non-pengajaran sebagai praktisi Alquran.
Dulu Ahmad Dahlan menyerukan amalan berupa menyantuni anak yatim setelah terinspirasi dari QS. Al-Ma’un. Inilah yang disebut sebagai amalan kontekstual karena memang makna tersirat dari Al-Ma’un adalah menyantuni anak yatim. Serta secara tidak langsung Ahmad Dahlan telah memainkan 2 peran, yaitu sebagai akademisi Alquran (berupa seruan) dan praktisi Alquran (berupa menyantuni anak yatim).
Pendeknya begini, akademisi adalah yang mengajarkan Alquran sedangkan praktisi adalah yang mengamalkan Alquran. Seruan menyantuni anak yatim adalah akademisinya sedangkan aksi santunan anak yatim adalah praktisinya.
Mengajarkan tafsir Alquran ataupun menyerukan santunan anak yatim, itulah amalan akademisi. Menyantuni anak yatim, itulah amalan kontekstual praktisi. Mengajarkan alif ba’ ta’ hingga berubah menjadi suara lantunan ayat suci yang enak didengar, itulah amalan tekstual akademisi.
Dengan demikian, maka ahlulquran terklasifikasi menjadi 3 peran. Pertama, para pihak yang berada dalam amalan rotasi belajar lafal hingga mengajar lafal, saya menyebutnya ahlulquran tekstual akademis. Kedua, yaitu para pihak yang mengajarkan makna tersirat Alquran, saya menyebutnya ahlulquran kontekstual akademisi. Ketiga, yaitu para pihak yang mengamalkan makna tersirat alquran, saya menyebutnya ahlulquran kontekstual praktisi.
3 klasifikasi peran ahlulquran yang sudah dijelaskan diatas telah menunjukkan berpotensinya seluruh elemen umat Islam mulai dari yang paling awam hingga yang paling berilmu. Jika saya belajar mengajar lafal huruf-perhuruf dari ayat-ayat Alquran, maka saya berperan sebagai ahlulquran tekstual akademisi.
Jika saya mengajar menyeru makna tersirat Alquran, maka saya berperan sebagai ahlulquran kontekstual akademisi. Jika saya hanya bisa berbuat baik kepada sesama, mengharap ridho Allah, dan berusaha menjalankan perintahnya serta menjauhi larangannya, maka saya berperan sebagai ahlulquran kontekstual praktisi. Maka semua umat islam yang istiqomah berusaha maksimal untuk taat terhadap ajaran agamanya adalah ahlulquran.
Allah S.W.T berfirman:
ولكل وجهة هو موليها فاستبقوا الخيرات، أين ما تكونوا يأت بكم الله جميعا، إن الله على كل شيئ قدير.
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan (fastabiqul khoirot). Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Pada ayat diatas disebutkan wajibnya bagi setiap umat Islam berprinsip fastabiqul khoirot dalam menjalankan agamanya. Yaitu berprinsip dengan berlomba-lomba dalam kebaikan atau berarti juga berlomba-lomba dalam ketaatan berdasarkan syari’at Allah dengan harap bisa meraih ridho Allah.
Bagi mereka yang mampu berbuat baik berdasarkan syari’at dengan penuh keikhlasan dan mengharap ridho Allah, berbahagialah karena mendapatkan 1 kemuliaan dan 1 peran ahlulquran (ahlulquran kontekstual praktisi). Dan bagi mereka yang mampu berbuat baik berdasarkan syari’at dengan penuh keikhlasan serta mampu juga belajar mengajar lafal huruf-perhuruf dari ayat-ayat quran, berbahagialah karena mendapatkan 2 kemuliaan dan 2 peran ahlulquran (ahlulquran kontekstual praktisi dan ahlulquran tekstual akademisi).
Serta bagi mereka yang mampu berbuat baik berdasarkan syari’at dengan penuh keikhlasan, serta mampu juga belajar mengajar lafal huruf-perhuruf dari ayat-ayat quran sekaligus belajar mengajar makna tersiratnya, berbahagialah karena mendapatkan 3 kemuliaan dan 3 peran sekaligus (ahlulquran kontekstual praktisi, ahlulquran tekstual akademisi, dan ahlulquran kontekstual akademisi). Tapi janganlah pernah merasa cukup hanya dengan 1 kemuliaan dan 1 peran saja.
Editor: Rubyanto



























Leave a Reply