Salah satu kisah yang sangat unik terabadikan di dalam Al-Qur’an, yang mana kisah tersebut merupakan alasan penamaan Surah Al-baqarah. Yaitu sebuah kisah penyelidikan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Israil. Dalam kisah tersebut Bani Israil awalnya diperintah untuk menyembelih seekor sapi betina saja tanpa ada kriteria sapi betina yang harus dicari. Namun, karena mereka banyak bertanya akhirnya mereka diberi kriteria sapi betina yang amat sulit.
Walaupun kisah ini sudah dijelaskan oleh redaksi yaitu dalam artikel Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 67-74 (Bagian 1-3). Jadi kali ini penulis menambahi apa saja rincian kriteria atau pertanyaan yang diajukan oleh Bani Israil kepada nabi Musa ‘alaihissalam; yang dikira sangat menyusahkan mereka. Sekaligus menjelaskan pertanyaan yang bagaimanakah yang seharusnya diajukan, sehingga hasilnya tidak akan memberatkan diri yang bertanya.
Berawal dari sini, saya teringat suatu dawuh yang biasa guru sampaikan “wes gak usah kakehen takon, mengko awakmu mundak koyok Bani Israil”; yang dalam bahasa Indonesianya “udah, nggak usah banyak tanya, nanti kamu seperti nasibnya Bani israil”. Dari kisah inilah kita sering di larang seseorang untuk tidak banyak bertanya. Karena dengan banyak bertanya, malah akan mempersulit diri kita sendiri.
Kisah Di Balik Penamaan Surah Al-Baqarah
Kisah tersebut terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 67 – 71. Dan karena kisah tersebutlah surat ke dua dalam susunan Al-Qur’an ini dinamakan “Surah Albaqarah” yang berarti “sapi betina”. Kisahnya sebagai berikut :
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (67)
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh (QS. Al-Baqarah [2] : 67)
Berawal dari seorang lelaki dari Bani Israil yang kaya raya, namun dia tidak memiliki seorang anak satupun untuk mewarisi hartanya. Dia hanya memiliki seorang saja yang akan mewarisi hartanya yaitu anak dari saudaranya (keponakan) yang bisa mewarisi hartanya. Karena keponakanya ini tidak sabar untuk segera mendapatkan warisannya, maka keponakannya ini membunuh pamannya dan membawa jasadnya ke depan pintu rumah seseorang lelaki yang juga dari kalangan Bani Israil.
***
Kemudian karena hal tersebut, terjadilah pertengkaran antara keduanya dan sampai terdengar oleh tetangga sekitarnya. Pertengkaran mereka terus berlangsung hingga salah seorang dari Bani Israil menyarankan; agar lebih baik bertanya kepada Nabi Musa ‘alaihissalam tentang siapa yang sebenarnya membunuh lelaki kaya raya tersebut. ( Tafsir Ibnu Katsir, Juz.1, hlm. 294)
Setelah mereka mengadukan permasalahan tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, akhirnya Nabi Musa memberi jawaban dengan menyuruh mereka untuk menyembelih sapi betina; dan salah satu anggota tubuh sapi tersebut dipukulkan kepada tubuh dari korban pembunuhan. Awalnya mereka tidak percaya terhadap apa yang diperintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dan dengan begitu mereka juga meremehkannya dengan berkata : “apakah kamu akan menjadikan kami sebagai permainan?”.
Karena sebelum itu mereka sempat menyembah seekor anak sapi, maka munculah pertanyaan tersebut yang menandakan kebodohan mereka. Maka membuat Nabi Musa ‘alaihissalam berkata : “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk dari orang – orang yang bodoh”. Suatu kebodohan yang mereka katakan merupakan bentuk bahan bercandaan terhadap perintah Nabi Musa ‘alaihissalam yang berasal dari petunjuk wahyu Allah Swt.
Berbagai Pertanyaan Bani Israil Yang Menyulitkan Diri Mereka Sendiri
Dari ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Bani Israil keras kepala terhadap perintah yang ala kadarnya. Jika saja mereka tidak bertanya tentang ketentuan apa saja sapi betina yang harus mereka sembelih, maka otomatis sapi betina apa pun sudah cukup. Karena berbagai pertanyaan itulah yang membuat mereka sulit menemukan sapi betina yang dikriteriakan sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan mereka.
Semua pertanyaan Bani Israil terabadikan dalam Surah Al-Baqarah yang di mulai dari ayat 68 hingga ayat 71. Imam Ashobuni merinci dalam kitab tafsirnya Shofwatu At-Tafaasir berbagai kriteria sapi betina yang diperintahkan Allah untuk menyembelihnya sesuai dengan ayat tersebut, riciannya sebagai berikut :
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (68) قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ (69)
Mereka berkata,“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Dia (Musa) menjawab, Dia (Allah) berfirman, “bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(nya).” (QS. Al-Baqarah [2] : 68-69)
Di antara kriterianya yaitu (لَّا فَارِض وَّلَا بِكْرٌ) tidak tua dan tidak muda (tidak melahirkan berkali – kali dan tidak perawan). (عَوَانٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ) yaitu pertengahan diantara tua dan muda. Kemudian mereka masih saja bertanya tentang apa warna sapi betina itu, (بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ) yaitu sapi betina yang berwarna kuning tua dan enak dipandang orang yang melihatnya. (Shofwatu At-Tafaasiir Lishobuuni, Surat Al-Baqarah ayat 68-69, juz 1, hlm 38)
Editor: An-Najmi



























Leave a Reply