Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Hewan dalam al-Qur’an: Membaca Kisah Nabi Yunus dan Ikan Paus

Ikan Paus
Gambar: https://jatimtimes.com/

Ikan juga disebut sebagai salah satu tokoh dalam kisah Nabi Yunus. Nabi Yunus diutus oleh Allah untuk menyampaikan dakwah kepada penduduk Niniveh yang mana penduduk ini adalah penduduk yang penuh dengan kejahatan dan kekejian. Di negeri ini Nabi Yunus tidak disambut dengan baik hingga beliau dimusuhi dan diusir.

Ia merasa tidak tahan akan keadaan tersebut sehingga beliau pergi meninggalkan negeri tersebut denan berlayar. Akan tetapi di tengah perjalanan kapal yang ditumpangi oleh beliau penuh dan hampir tenggelam sehingga awak kapal berinisatif mengundi siapa yang harus diceburkan untuk mengurangi bobot muatan kapal.

Saat pengudian nama berlangsung nama Yunus keluar di undian tersebut. Sehingga dengan terpaksa beliau harus dikeluarkan dari awak kapal tersebut dengan menceburkan diri di tengah laut. Saat tercebur diri beliau ditelan oleh ikan besar semacam ikan paus. Di dalam perut ikan tersebut beliau terus bertasbih serta bertaubat kepada Allah atas kesalahannya yang lari dari kaumnya. Allah telah mengampuninya dengan mengeluarkan beliau dari dalam diri ikan paus. Kisah ini telah mengajari manusia untuk selalu bersabar serta bertawakkal menerima kehendak Allah, sebagaimana dalam QS. al-Qalam: 48.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌ

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).”

Tafsir atas Kisah Nabi Yunus

Menurut penafsiran Sayyid Quthb terhadap ayat ini beliau mengatakan bahwa dari celah-celah pencurahan kasih sayang, sanjungan ini juga didampingi oleh ancaman yang keras kepada orang-orang yang mendustakan. Allah sendiri melindungi Nabi Muhammad dari serangan kaum Quraisy. Masa-masa usaha yang keras untuk menanamkan tanaman yang mulia di tanah yang keras. Pada bagian akhir surat Allah telah berpesan kepada Rasulullah untuk bersabar dengan kesabaran yang penuh dalam berdakwah.

Baca Juga  Ramadan Ghana: 3 Implementasi Hadis Nabi dalam Lagu Maher Zain

Ayat di atas memiliki munasabat atau keterkaitan dengan QS. As-Shafat: 147 yang di mana secara eksplisit dengan sebutan al-Hut dan ada keterkaitan dengan QS. Al-Anbiya: 87 yang menyebutkan an-Nun yang berarti ikan besar. Bagian dalam perut ikan yang tampaknya gelap merupakan simbol dari tekanan spiritual yang dialami oleh Nabi Yunus dan beban spiritual sebagai seorang rasul Allah yang melarikan diri dari amanah kerasulan, seperti halnya budak yang melarikan diri dari tugas tuannya.

Secara garis besar, kisah ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Bahkan seorang rasulpun seperti halnya Yunus tidak akan mampu lepas dari sifat dasar kemanusiaan. Kemudian ikan jenis apa yang menelan Yunus yang tidak dijelaskan di dalam al-Qur’an. Kejadian berlangsung tersebut juga tidak dijelaskan di dalam al-Qur’an, akan tetapi dapat diperkirakan berada di kawasan Mesopotamia. Arti ikan di sini berarti ikan yang besar.

Ikan merupakan hewan yang bertulang belakang yang hidup di air dan mampu bernafas dengan insang. Istilah ikan ini dalam bahasa Indonesia tidak hanya menunjuk kepada yang bernafas dengan insang, akan tetapi juga mamalia laut yang bernafas dengan paru-paru seperti halnya paus.

Jenis-Jenis Ikan Paus

Ikan paus merupakan hewan mamalia, hewan yang mampu menyusui yang hidup di laut dan bernafas dengan paru-paru seperti halnya pada manusia. Ikan paus biru (blue whale) yang memiliki nama latin balaenoptera musculus.

Hewan ini memiiki tubuh sepanjang 33 meter, dengan berat 180 ton. Paus biru yang bertubuh panjang dan ramping. Ada tiga anak jenis dari balaenoptera musculus yang pembedaannya didasarkan pada bentuk tubuh luar dan tempat migrasinya. Ketiganya merupakan balaenoptera musculus yang hidup di Antlantik Utara serta Pasifik Utara, balaenoptera musculus intermedia yang hidup di sekitar lautan Kutub Selatan, dan balaenoptera musculus brevicauda yang disebut dengan pygmy blue whale. Ikan jenis ini memang banyak ditemukan di lautan Hindia dan Pasifik Selatan. Sebagaimana dengan paus lainnya, hewan ini juga memakan udang kecil yang bernama krill, yang disaring dengan gigi tapisnya.

Baca Juga  Problem Narasi Kebangkitan Islam dalam Pandangan Abid Al-Jabiri

Pada awal abad ke-20 paus biru terlihat banyak hampir di seluruh laut di bumi ini. Telah terjadi perburuan ikan paus secara massif selama 40 tahun yang mana suatu tindakan yang mampu menurunkan populasi ikan paus sampai pada titik yang mengarah pada kepunahan. Ikan paus juga diburu dengan tujuan sebagai tradisi, salah satunya dilakukan oleh masyarakat di Desa Lamalera Kecamatan Wulandoni Kabupaten Lembata Pulau Flores NTT.

Perburuan ikan paus di sana telah dilakukan sejak abad 16 dengan cara yang masih tradisional yaitu dengan tombak yang disebut dengan tempuling. Dengan senjata inilah mereka berusaha membunuh ikan paus yang besar tubuhnya. Ketika ikan tersebut berhasil ditombak dengan tempuling yang di mana alat tersebut telah diberi tali yang diikatkan pada perahu. Mereka mengikuti begitu saja pergerakan ikan sampai ikan itu lemas akibat kehabisan darah. Pada saat inilah nelayan sedikit demi sedikit menarik ikan paus ke pantai lamalera.

Manfaat Ikan Paus

Manfaat daripada ikan paus disini selain dagingnya yang bisa dimakan juga para masyarakat di desa tersebut memanfaatkan minyak dari lemak paus tersebut sebagai bahan pokok obat serta bahan bakar lampu. Meskipun telah ada beberapa konvensi yang melarang perburuan ikan paus akan tetapi tradisi ini tetap dipertahankan hingga saat ini. Penduduk di desa tersebut tahu paus mana yang bisa diburu, paus yang berukuran kecil dan hamil tidak akan mereka buru.

Ikan, baik dalam tataran hakiki maupun sebagai metafor memang mendatangkan manfaat yang banyak untuk kehidupan manusia. Baik yang bersifat fisik maupun spiritual. Di sisi lain, ikan juga menjadi penuntun bagi Nabi Musa untuk menemui hamba Allah yang dikaruniai hikmah olehnya. Untuk belajar darinya ilmu yang batin untuk melengkapi ilmu lahir yang sudah dikuasainya.

Baca Juga  Ulasan Sederhana Mengenai Tafsir Esoterik

Nabi Musa berguru kepada hamba Allah tersebut supaya ia mampu mempertemukan dua ilmu yaitu ilmu yang diperoleh melalui observasi serta koordinasi intelektual dari fenomena yang ada atau al-‘ilm adz-dzahir. Serta pengetahuan yang berdasarkan intuisi dan penglihatan mistik atau al-‘ilm al-bathin. Tempat pertemuan kedua ilmu ini ditandai oleh ikan yang menjadi simbol pengetahuan tentang kebijaksanaan.

Ketika ikan paus sedang makan di pedalaman laut dan kembali ke permukaan untuk bernapas, mereka menyebar nutrisi dan mikroorganisme melalui zona laut yang berbeda. Hal itu dapat memberikan keuntungan untuk makhluk lainnya. Dan bahan dalam urin dan kotoran ikan paus, terutama zat besi dan nitrogen, dapat dipakai sebagai pupuk efektif untuk plankton. Banyak paus besar bermigrasi untuk kawin, selama waktu migrasi ini mereka membawa serta nutrisi. Ketika mereka berkembangbiak di lintang yang jauh, bahkan plasenta mereka menjadi sumber yang kaya bahan baku untuk organisme lain.

Penyunting: Bukhari