Adanya perbedaan dalam menginterpretasikan setiap tokoh penting yang berperan dalam suatu agama adalah hal yang memang tidak bisa dihindarkan. Terlebih sosok Maria atau Maryam yang dikenal dalam versi Islam. Sosok Maria tersebut sangat berpengaruh terhadap dua agama Kristen dan Islam. Karena termasuk klarifikasi penting dalam dunia sejarah. Tetapi bagaimanapun juga titik kesamaan antara Kristen dan Islam yang menonjol salah satunya kedua agama tersebut mempercayai adanya satu Tuhan.
Ragam Perspektif Mengenai Maria
Berikut penulis membagi lima perspektif dalam menginterpretasikan Maria. Pertama, Maria dalam Katolik Roma menganggap bahwa ia dikandung tanpa noda. Sel telur ibu Maria dan sperman ayahnya bersatu, dia dikandung tanpa dosa apa pun. Kedua, dalam Kekristenan Ortodoks Timur. Gereja-gereja dalam tradisi Ortodoks Timur mengungkapkan ajaran, yang dalam beberapa hal mirip dengan ajaran Gereja Katolik Roma. Dalam hal kesamaan sehubungan dengan Perawan Maria dalam Katolik Roma dan tradisi Ortodoks Timur. Dalam kedua tradisi ini ia dianggap sebagai Perawan “Yang Mahakudus” (“Panagia”).
Tetapi Pada saat yang sama, salah satu bidang utama, di mana Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur tidak setuju sehubungan dengan dikandung tanpa noda, dengan sebagian besar Gereja Ortodoks Timur menolak gagasan itu. yang menjadi alasannya adalah “memelihara [dia] dari kondisi manusia normal mengakibatkan pemisahannya dari umat manusia lainnya,” yang bertentangan dengan doktrin Kristologi Ortodoks Timur yang menekankan dia dan partisipasi penuh Kristus dalam kondisi manusia.
Ketiga, Maria dalam Protestantisme. Untuk bagian mereka, sebagian besar Protestan menolak Maria dikandung tanpa noda. Karena mereka biasanya memandang diri mereka percaya terhadap pespektif teologis yang sebagian besar didasarkan pada Al-Kitab. Sedangkan Al-Kitab sendiri tidak mengatakan apapun tentang dikandung tanpa dosa. Ada juga ide ideologis lain yang dianut oleh umat katolik. Namun, ditolak sebagian besar protestan adalah keperawanan abadi Maria. Yaitu gagasan bahwa ia selalu perawan, bahkan setelah kelahiran Yesus. Menurut gagasan katolik tentang keperawanan abadi Maria, bahkan setelah maria melahirkan Yesus. Dia tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapa pun, termasuk suaminya Joseph, dan dengan demikian mempertahankan kemurnian perawanannya. Sedangkan dalam protestan keperawanan Maria hanya sampai pada kelahiran Yesus. Setelah itu melakukan hubungan seksual dengan Joseph dan memiliki putra putri yang disebut sebagai saudaranya Yesus.
Maria dalam Anglikanisme dan Islam
Keempat, Maria dalam Anglikanisme. Terkait dogma dikandung tanpa noda atau diangkat ke surga. Hal ini tidak dapat diterima oleh kaum Anglikan. Kelima, Maria dalam Islam. Salah satu hal yang harus diketahui alasan mengapa umat Islam menganggap orang Yahudi dan Kristen sebagai “Ahli Kitab” (Yaitu orang yang memikiki status khusus sebagai monoteis). Karena para nabi Yudaisme dan Kristen menerima pesan dari Tuhan. Semua Muslim menegaskan kepatuhan taat Perawan Maria kepada Tuhan, ketabahannya, dan kesucian. Namun mereka ada yang setuju dan tidak setuju bahwa Maria adalah seorang Nabi. Argumen yang mengatakan bahwa maryam seorang nabi adalah maryam menerima pesan langsung dari Tuhan sampai berhasil melahirkan Isa. Sedangkan maryam bukan seorang Nabi hal ini mustahil jika wanita dijadikan nabi. Dapat disimpulkan bahwa Muslim dan Kristen sama-sama menegaskan keperawanan, ketaatan iman, cinta, kemurahan hati, kebaikan dan kebajikan maria.
Dari keterangan diatas penulis menganggap diantara perbedaan yang menonjol juga dalam mengidentifikasikan Maria adalah perbedaan interpretasi dalam kepunyaan suami. Dengan ini, versi Islam meyakini bahwa Maryam tidaklah mempunyai suami walaupun setelah melahirkan Isa. QS.Ali-Imran [3]: 47 menyatakan “ Maryam berkata : Tuhanku, bagaimana bisa aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman : “Demikianlah Allah mencipta apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Dia menetapkan suatu urusan, maka Dia berfirman kepadanya :’Jadilah!” Maka terjadilah ia.”
Pandangan Quraish Shihab
Dalam hal ini Quraish Shihab menafsirkan Maryam akan melahirkan seorang anak al-Masih Isa putra maryam yang tidak berbapak. Dengan begitu nama anak tersebut dinisbatkan kepada Maryam. Kemudian Quraish Shihab menambahkan dalam tafsirnya. Allah berfirman dengan perantara Jibril: “Demikianlah, yakni memang engkau (Maryam) adalah wanita yang tidak pernah dan tidak akan bersuami, tetapi Allah mampu menganugerahkan kepadamu seorang Anak.”
Terlepas dari perbedaan dalam menginterpretasikan Maryam di atas, dialog antar agama tetap dibutuhkan.Hal ini bertujuan agar menimalisir adanya konflik antar agama Islam dan Kristen. Walaupun pada akhirmya keyakinan masing-masing agama tidak bisa diubah, sikap toleran antar perbedaan keyakinan harus selalu ditanamkan. Sehingga nanti terbentuk adanya rekontruksi keharmonisan yang berpotensi menjungjung tinggi perdamaian. Karena pada dasarnya keimanan dalam mempercayai suatu agama tidak ditekankan untuk adanya suatu paksaan. Semua mempunyai hak dalam berkeyakinan. Dengan demikian, yang diperlukan adalah tetap menjalin rasa persaudaraan sebagai manusia. Wallahu A’lam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.