Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Fastabiqul Khairat: Dari Konsep ke Gerakan

Fastabiqul Khairat
Sumber: balasoka.web.id

Secara umum sifat manusia, biasanya lebih menyukai hal-hal yang lebih praktis di bandingkan harus bersusah payah dan menderita untuk mencapai cita-cita. Apalagi di perkembangan teknologi yang semakin menina bobohkan manusia. Bisa menjelajahi dunia dengan hanya bersantai di rumah tanpa harus mengeluarkan biaya apapun. Hal ini tentunya, menjadi persoalan. Kita akan lebih banyak menuntut sesuatu, dibandingkan mengerjakan sesuatu hal yang bermanfaat.

Di dalam ajaran agama sudah jelas dikatakan bahwa bertebaranlah kalian di muka bumi untuk mencari rejeki, mencari kemuliaan Allah. Selain itu pada hakikatnya manusia hanya sementara di muka bumi ini. Sehingga dikatakan bahwa manusia harus mencari bekal yang banyak untuk di gunakan di kehidupan yang lebih kekal yaitu akhirat.

Sebagaimana Allah Swt telah menjelaskan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 148 :

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

Secara tekstual ayat ini, mencoba memberikan pemahaman kepada umat manusia khususnya muslim, untuk menyadari bahwa setiap umat memiliki kiblat masing-masing, memiliki arah yang berbeda-beda dalam proses penyembahan kepada Allah. Sehingga Allah mengatakan berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan di maan dan kapanpun kalian berada. Dan Allah akan membalas setiap kebaikan atas yang telah di perbuat.

Konsep Fastabiqul Khairat

Sejak awal, Islam telah menjadi sebuah pedoman hidup yang selalu relevan dengan keadaan zaman. Maka konsep berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan konsep yang secara teologi mengandung nilai ketuhanan yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala yang begitu besar sesuai dengan kadar amal yang dilakukan. Konsep ini yang kemudian mulai dilupakan oleh kaum muslim. Jika melihat realitas yang terjadi, konsep berlomba-lomba dalam kebaikan ini kadang disalah gunakan untuk mendapatkan keuntungan.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah 17-19: Telinga Mereka Ditutup

Dalam sebuah ceramah Ustad Abdul Somad mengatakan konsep fastabiqul khairat yaitu di manapun kamu berada, menjadi politisi, menjadi seorang pemimpin, menjadi polisi dan sebagainya. Maka senantiasa jadikan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) untuk menolong agama Allah dan mencari keberkahan atas jabatan yang di miliki.

Di zaman Nabi Muhammad para sahabat selalu mempraktikkan konsep berlomba-lomba dalam kebaikan dengan selalu membantu sesama. Bahkan di luar yang tidak seakidah mereka juga membantu. Seharusnya sebagai orang muslim konsep kehidupan yang paling sempurna ada di dalam Al-Quran sebagai petunjuk bagi seluruh alam semesta. Sederhananya apapun yang dilakukan setidaknya bisa memberikan dampak yang baik terhadap kehidupan manusia. Di era disrupsi ini kadang kita tak mampu membedakan anatar berbuat baik dan riya. Beda tipis dan kadang kita salah memahami konsep tentang fastabiqul khairat ini.

Sebuah Gerakan

Fastabiqul khairat bukan hanya sekadar konsep yang harus dibanggakan. Melainkan harus dipraktikan ke dalam kehidupan nyata. Apapun jabatan dan status sosialnya, berlomba-lomba dalam kebaikan adalah kewajiban. Karena ini merupakan perintah Tuhan, bukan malah sebaliknya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surah Muhammad ayat 7  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu

Jika berlomba-lomba dalam kebaikan di segala aspek kehidupan mewarnai tindakan kita serta itu dilakukan untuk semata-mata mendapatkan ridha dari Allah, maka Allah akan meneguhkan kedudukan kita baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga jelas janji Allah. Maka fastabiqul khairat jangan hanya sekadar semboyan yang kemudian hanya selalu di ucapkan. Melainkan harus menjadi gerakan praksis yang kemudian bisa memberikan banyak manfaat kepada kehidupan manusia.

Baca Juga  Merawat Kepakaran Perspektif Al-Quran: Tafsir An-Nahl Ayat 43

Sehingga KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah di Indonesia mencoba memberikan gerakan praksis terhadap berlomba-lomba dalam kebaikan, dengan terilhami dari surah Al-Maun agar melakukan gerakan fastabiqul khairat, kapan dan dimanapun berada. Hal ini dilakukan agar Islam bukan hanya sebuah agama ritual semata melainkan mampu memberikan output terhadap realitas umat manusia.

Penyunting: M. Bukhari Muslim