Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Beginilah Para Sahabat Nabi Menafsirkan Al-Qur’an

sahabat Nabi
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/

Nabi Muhammad Saw, disebut sebagai orang pertama yang menafsirkan Alquran (as the first interpreter). Tentu saja pijakan utama dalam dunia ilmu tafsir pasti berpijak pada penafsiran, nabi yang dinilai paling otoritatif sebagai sumber kedua setelah Alquran.

Hanya saja pasca wafatnya Nabi saw, proses penafsiran dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yakni para sahabat yang hidup sezaman dengan nabi, yang mempelajari langsung dari apa yang dilihat, didengar, diajarkan, dan setiap ketentuan yang berasal dari nabi, yang menanyakan secara langsung pada nabi saw, tentang hal yang sukar dipahami dalam memahami ayat-ayat-Nya. Serta menerima pengajaran tafsir Alquran dari nabi secara langsung.

Penafsiran Para Sahabat Nabi

Pertanyaanya adalah, bagaimana proses penafsiran yang dilakukan para sahabat?

Di antara sahabat yang mendalami bidang tafsir setelah nabi saw, yakni Abdullah Ibn Abbas, Abdullah Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, Zayd Ibn Tsabit. Bukan berarti sahabat lain tidak memberikan kontribusi dalam dunia tafsir. Saya sepakat dengan prof. Abdul Mustaqim (Mustaqim) membagi para sahabat yang disebut sebagai mufassir menjadi dua macam tipologi:

Pertama, dari aspek popularitas, Mustaqim menyebut ada 10 orang terpopuler (paling masyhur) di era sahabat, di antaranya: Abu Bakr as-Shiddiq; Umar Ibn Khattab; Utsman Ibn Affan; Ali Ibn Abi Thalib; Ibn Mas’ud; Ibn Mas’ud; Ubay Ibn Ka’ab’; Zaid Ibn Tsabit; Abu Musa al-Asy’ari; Abdullah Ibn Zubair. Dan terdapat tokoh lain yang perlu diikutsertakan di sini, yakni Anas Ibn Malik; Abu Hurairah; Abdullah Ibn Umar; Jabir Ibn Abdullah; Abdullah Ibn Amr Ibn Ash; dan terakhir sayyidah Aisyah.

Kedua, dari aspek intensitas dan kuantitas, sebenarnya segi ini merupakan turunan dari aspek sebelumnya. Tokoh penafsir yang banyak ada 4 di antaranya ada Ali Ibn Abi Thalib, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, dan Ubay Ibn Ka’ab. Sementara tokoh yang sedikit dalam menafsirkan Alquran terdapat 12 orang, dengan nama-nama sebagaimana telah disebut sebelumnya. Hanya saja dari sekian banyak nama yang muncul itu, nama Ibn Abbas dinilai sebagai sebagai tokoh yang paling terkemuka dalam bidang tafsir. Bahkan ia diberi gelar dengan Tarjuman Alquran (penerjemah Alquran) dan sekaligus dipandang sebagai peletak dasar disiplin keilmuan tafsir.

Baca Juga  Apa Alasan Kita Menolak Hermeneutika?

Sumber Tafsir para Sahabat Nabi

Paling tidak terdapat lima sumber yang digunakan para sahabat dalam memahami Alquran dalam membentuk kerangka konsep tafsirnya.

Pertama, yaitu Alquran. Tentu saja Alquran sebagai sumber utama tidak dapat dilepaskan dari proses penafsiran itu sendiri. “Alquran yufassiru ba’dluhu ba’dlan” (Alquran itu saling menjelaskan di antara satu ayat dengan ayat yang lain). Misal jika terdapat ayat yang umum (‘amm) dalam surat tertentu, maka biasanya ada ayat lain yang men-takhsis-nya, tidak ada ayat yang universal (muthlaq), kecuali bakal ada ayat lain yang membatasi pengertiannya (taqyid). Kira-kira begitu metodologi penafsiran yang digunakan para sahabat untuk Alquran untuk memperoleh penjelasan yang lebih terang.  Dengan kata lain, menafsirkan ayat dengan ayat.

Kedua, Sunnah Nabi/Hadis. Sumber ini merupakan sumber otoritatif kedua setelah Alquran, karena berasal langsung dari nabi Saw, dijadikan sumber rujukan utama penafsiran Alquran, dan memang banyak kandungan hadis yang menjelaskan ayat-ayat yang musykil yang kerap ditanyakan pada nabi secara langsung. Meskipun begitu, bila misal ada hadis yang dijadikan sumber penafsiran Alquran, maka perlu juga ditelaah otentisitas hadisnya, apakah benar-benar berasal dari nabi atau bukan.

***

Contoh bentuk penafsiran Alquran dengan hadis sebagaimana dilakukan Ibn Mas’ud dalam menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 238. Di situ terdapat kalimat yang berbunyi “al-shalah al-wustha”. Ibn Mas’ud menafsirkan dengan cara merujuk pada sebuah hadis untuk menjelaskan bahwa salat al-wustha adalah salat Ashar, hal tersebut juga dikuatkan dalam riwayat lain yang diriwatakan Imam Ahmad sebagaimana dikutip Ibn Katsir. (Abdul Mustaqim, 2016: 58)

Ketiga, Akal/ijtihad. Bilamana para sahabat tidak menemukan informasi penafsiran ayat Alquran dari rasulullah saw, langkah berikutnya yang dilakukan adalah mengerahkan segenap upaya potensi nalarnya untuk memperoleh jawaban atas persoalan yang dihadapi zamannya yang sebelumnya belum pernah terjadi.

Baca Juga  Memotret Sketsa Tafsir di Masa Mendatang

Para sahabat melakukan ijtihad sedikit banyak dipengaruhi bekal pengetahuannya terkait, pengetahuan tentang berbagai aspek dari bahasa Arab sebagai mother language-nya, pengetahuan tentang tradisi di Arab, pengetahuan tentang orang Yahudi dan Nasrani saat Alquran turun, dan kekuatan pemahaman dan kecerdasan dalam menangkap pesan ayat-ayat Alquran.

***

Keempat, Ragam qira’at. Perbedaan rupa qira’at memberikan warna tersendiri dalam rupa penafsiran di era sahabat. Diakui atau tidak dari perbedaan qira’at satu sama lainnya sedikit banyak saling memberikan penjelasan pengertian dari maksud ayat.

Mari kita lihat contoh konkritnya, lihat QS. Al-Maidah ayat 38 sebagaimana dijelaskan Imam Thabari. Kata “faqhta’u aydiyahuma” (potonglah kedua tangan pencuri). Sementara dalam qira’at Ibn Mas’ud dibaca “aimanahuma” (tangan kanan kedua pencuri). Sehingga jika ada pencuri yang telah memenuhi syarat untuk dipotong tangan, maka yang dipotong tangannya adalah tangan kanan (bagian pergelangan telapak tangan), bukan langsung dipotong kedua tangannya (2016: 63)

Kelima, Keterangan ahli Kitab. Dengan kata lain, diambil dari kisah-kisah israiliyyat yang bersumber dari Yahudi dan Nasrani yang dipetik melalui kitab Taurat dan Injil terkait informasi kisah yang dalam Alquran disinggung secara singkat dan umum. Sebab dalam Alquran sendiri dalam mengisahkan cerita tidak menyebutkan secara terang, seperti penyebutan nama tempat, nama-nama tokoh yang terkadang disamarkan. (lihat, Abdul Mustaqim, 2016: 57-64)

Kesimpulan

Alhasil, segala apa yang tidak ada dalam Alquran kemudian dipetik dari kisah-kisah israiliyyat melalui tokoh ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah Ibn Salam, Ka’ab al-Akhbar, dan Wahhab Ibn Munabbih. Hal tersebut mungkin karena terpaksa lantaran tidak menemukan penjelasan dari nabi secara rinci. Dan itu hanya diambil sebagian kecil saja yang sekiranya sesuai dengan aqidah Islam. fenomena ini memang banyak ditemukan, kemungkinan besar ini merupakan dorongan internal berupa “kepo atau rasa penasaran yang tinggi” untuk memperoleh penjelasan lebih mendetail mengapa Alquran hanya mengisahkan secara global.

Baca Juga  HUT TNI: Melihat Makna Nasionalisme Perspektif Al-Ghalayini

Contohnya dalam Surah al-Kahfi, adakah Alquran menyebut nama-nama pemuda dalam kisah tersebut? atau di mana letak guanya. Keterangan tersebut didapat dari sumber Israiliyyat. Sementara Alquran hanya ingin menyampaikan pesan moralnya bahwa mereka telah meneguhkan iman dan tauhidnya, serta Ia hendak menunjukkan kuasaNya dengan menyelamatkannya dengan cara menidurkan mereka lalu membangunkan kembali setelah 309 tahun lamanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Kahfi ayat 30.

Ibn Abbas menambahkan corak lain, yakni dengan cara menafsirkan ayat dengan syair. Ia banyak merujuk syair Arab kuno, hal ini tidak dapat dilepaskan dari pengetahuannya yang luas tentang seluk-beluk kesusatraaan Arabnya yang juga dalam. Meskipun begitu, Ibn Abbas juga berhati-hati dalam menafsirkan bukan asal comot sana-sini.

***

Sebagai contoh saat ia menafsirkan surah al-A’raf ayat 33. Kata “al-itsm” dengan makna khamr (sesuatu yang memabukkan) yang didasarkan pada sebuah syair.

Saya tuliskan berikut cuplikan syairnya:

الخمر كما قال الشاعر:

شربت الإثم حتى ضل عقلى … كذا الإثم تذهب بالعقول

“Saya meminum khamr sampai hilang akalku. Demikianlah khamr menyebabkan hilangnya akal pikiran seseorang”.

Kira-kira begitu cara sahabat menafsirkan Alquran.

Penyunting: Ahmed Zaranggi