Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Isyarat Ilmu Geologi dalam Persepektif Al-Qur’an

geologi

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa ilmu geologi adalah ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang membentuk bumi. Tentang prosesnya, strukturnya di dalam maupun di atas permukaan bumi. Lalu, apakah dalam Al-Qur’an memuat tentang ilmu geologi? Bagaimana persepektif Al-Qur’an tentang geologi ?

Ar-Ra’d ayat 3

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ

“Dan dialah Tuan yang membentangkan bumi”

Tafsir dari ayat ini yaitu Allah menjadikannya luas membentang secara memanjang dan melebar. Lalu Allah memancangkan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi-tinggi untuk memantapkannya. Serta mengalirkan padanya sungai-sungai, mata air, dan sungai-sungai kecil untuk mengaliri segala sesuatu yang dia ciptakan padanya, yaitu buah-buahan yang beraneka ragam warna, rasa dan baunya. Berpasang-pasangan (ar-ra’d:3) maksudnya ari tiap jenis ada dua macam yang berpasangan.

يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ

“Allah menutupkan malam kepada siang”

Dia menjadikan masing-masing dari keduanya menyusul yang kainnya dengan cepat. Dengan kata lain apabila yang satu pergi maka yang lainnya datang, dan apabila yang lainnya pergi maka yang satunya datang. Allah pulalah yang mengatur waktu, sebagaimana DIa mengatur tempat dan penduduknya.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”

Yakni memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah, kebijaksaan dan bukti-bukti yang menunjukkan ke-esaanya.

Al-Hijr Ayat 19

Kemudian Allah menyebutkan penciptaannya terhadap bumi, dan bumi itu dipanjangkan dan diluaskan serta digelarkan-Nya. Dia menjadikan padanya gunung-gunung yang menjulang tinggi, lembah-lembah dataran-dataran rendah dan padang-padang sahara juga menumbuhkan tanaman yang beraneka ragam.

Sehubungan dengan ayat “segala sesuatu menurut ukuran” (Al-hijr: 19) dalam tafsir jalalain ini disebutkan bahwa maksudnya adalah ukuran yang telah ditentukan secara pasti.

Baca Juga  Bintang At-Thariq Sebagai Awal Pemikiran Teori Luminositas

An-Nahl Ayat 15

وَأَنْهَارًا وَسُبُلا

Artinya: “dan (Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan” An-Nahl: 15

Maksudnya, Allah menciptakan padanya sungai-sungai yang mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain sebagai rezeki buat hamba-hambanya. Sungai berhulu dari suatu tempat yang lain sebagai rezeki baik orang-orang yang ada di tempat lain (yang dilaluinya). Sungai memnpuh kawasan dan daerah melalui hutan-hutang, padang-padang, dan membelah bukit-bukit serta lembah-lembah, lalu sampai suatu negeri yang penduduknya memperoleh manfaat yang besar darinya. Dalam alirannya air sungai berbelok-belok terkadang kea rah kanan, kiri, menciut, melebar, ada yang berarus deras, tenang. Terkadang dalam suatu lembah ada yang dialirinya suatu waktu, sedangkan di waktu yang lain tidak diairinya’

Fathir Ayat 27

وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا

Artinya: Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya. (Fathir: 27)

Artinya, Dia menciptakan gunung-gunung yang beraneka ragam warnanya sebagaimana yang dapat kita saksikan, ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah. Pada sebagiannya ada yang bergaris-garis. Diungkapkan oleh Al-Qur’an dengan lafaz al-judud yang artinya beraneka warna.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa al-judud artinya bergaris-garis; hal yang sama telah mengatakan oleh Abu Malik, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi.

Ikrimah mengatakan bahwa garabibu sud artinya gunung-gunung yang panjang lagi berwarna hitam; orang-orang Arab mengatakan aswad garabib, artinya hitam pekat. Karena itulah maka ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini. Bahwa ungkapan ayat ini (yakni lafaz garabibu sud) termasuk ungkapan muqaddam dan muakhkhar, diungkapkan oleh firman-Nya, “garabibu sud,”. Artinya sud garabib, yakni hitam pekat. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu diteliti.

Baca Juga  Literatur Tafsir Nusantara: Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi Banten

Az-Zalzalah Ayat 1-2

Dengan makna firman-Nya: Apabila bumi diguncangkan dengan seguncang-guncangnya (yang dahsyat). (Az-Zalzalah: 1) Yakni bergerak dan bergetar dari bagian bawahnya hingga menimbulkan gempa yang dahsyat.

وَأَخْرَجَتِ الأرْضُ أَثْقَالَهَا

Artinya: Dan bumi mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya (Az-Zalzalah: 2)

Yaitu mengeluarkan orang-orang mati dari dalam perutnya. Menurut sebagian ulama Salaf yang bukan hanya seorang, dan ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Al-Hajj: 1)

An-Naml Ayat 61

أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam. (An-Naml: 61)

Yakni tempat menetap yang kokoh, tenang, tidak bergerak serta tidak bergoyang mengguncangkan penduduknya, tidak pula menggetarkan mereka. Karena sesungguhnya andaikata bumi selalu berguncang dan bergetar. Tentulah tidak akan enak hidup di bumi dan tidak layak untuk kehidupan. Bahkan tidaklah demikian Allah menjadikan bumi sebagai karunia dan rahmat-Nya menghampar lagi tetap, tidak bergetar dan tidak bergerak.

وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا

Artinya: Dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya. (An-Naml: 61)

Yaitu Dialah yang menjadikan sungai-sungai di bumi yang airnya tawar lagi baik, sungai-sungai itu membelah di celah-celahnya. Lalu mengalirkannya di bumi, ada yang besar dan yang kecil; ada yang ke timur dan yang ke barat. Dan ada yang ke selatan atau ada yang ke utara, sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya di berbagai belahan bumi. Karena Allah telah menyebarkan mereka di muka bumi dan memudahkan bagi mereka jalan rezekinya menurut apa yang mereka perlukan.

Baca Juga  Makna dan Ragam Amanah dalam Al-Qur’an

وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ

Dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya. (An-Naml: 61)

Yakni gunung-gunung yang tinggi-tinggi, mengokohkan bumi dan menetapkannya agar tidak mengguncangkan kalian.

وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا

Artinya: Dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut. (An-Naml: 61)

Penafsiran Lain Geologi

Maksudnya, menjadikan suatu pemisah antara air tawar dan air asin, yang mencegah keduanya bercampur agar yang ini tidak tercemari oleh yang itu, begitu pula sebaliknya (seperti di muara sungai Pent.). Sesungguhnya hikmah Allah (sunnatullah)-lah yang menetapkan agar masing-masing dari kedua jenis air itu tetap pada fungsinya. Menurut istilah Al-Qur’an, geologi laut yang berasa manis airnya (yakni tawar) adalah sungai-sungai yang mengalir di berbagai daerah yang diduduki oleh manusia. Fungsi dan kegunaan air tersebut berasa tawar agar dapat dijadikan sebagai air minum bagi makhluk hidup. Juga sebagai pengairan buat tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang berbuah dan pohon-pohon lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan laut yang berasa asin airnya ialah lautan yang mengelilingi berbagai benua dari segala penjuru. Airnya diciptakan berasa asin agar tidak mencemari udara dengan baunya

Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ

Artinya: Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? (An-Naml: 61)

Yaitu yang menjadikan itu semua, menurut pendapat yang pertama yakni yang patut disembah. Kedua pendapat itu benar, masing-masingnya saling berkaitan dengan yang lain.

بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Bahkan (sebenarnya) sebagian besar dari mereka tidak mengetahui (An-Naml: 61)

Karena mereka menyembah selain-Nya.