Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tasawuf Cinta Layla Majnun Ala Syekh Nizami Ganjavi

Sumber: www.goodreads.com

Cinta dalam bahasa arab berarti “Mahabbah” yang diambil dari kata ahabba- yuhibbu-mahabbatan yang bermakna perasaan yang menguat dan mendalam. Menurut Abraham Maslow mengutarakan pendapatnya jika cinta merupakan aktualisasi diri yang mana dapat orang melahirkan berbagai tindakan- tindakan yang kreatif dan produktif. Dengan adanya cinta , maka seseorang akan mendapatkan kebahagiaan jika mampu membahagiakan orang yang dicintainya. Tetapi kali ini bukan membahas terlalu panjang lebar mengenai cinta, lebih spesifik untuk mengkaji karyah Syekh Nizami Ganjavi, yakni novel Layla Majnun.

Apakah ada kertkaitan pesan tasawuf antara manusia dan Tuhan. Syekh Nizami atau Jamaludin Ilyas bin Yusuf bin Zaki adalah nama aslinya, ia dilahirkan di Ganja salah satu kota besar di Azerbaijan. Syekh Nizami merupakan seorang sufi dan penyair terkenal. Selain itu ia merupakan ahli dalam bidang akademis, seperti matematika, filsafat tafsir, hingga sejarah. Layla Majnun merupakan karya yang paling  tersohor. Selain itu ia juga memiliki karya yang terkenal, seperti Haft Peykar(Tujuh bidadari), Eskandarnameh(Kitab Iskandar).

Objektivitas Cinta Agape

Layla Majnun sesungguhnya histori cinta klasik yang diceritakan dari orang ke orang lain. Sejak Dinasti Umayah. Kisah ini diangkat dari kisah nyata seseorang pada zaman itu yang bernama Qays Ibn Al- Mulawwah penguasa bani amir di Arabia. Awal mula kisah  cinta mereka berdua diawali dengan  pandangan mereka berdua ketika bertemu ditempat pencarian ilmu.

Kemudian lama bertemu mereka mulai memunculkan benih- benih cinta dihatinya, tetapi sayangnya kisah mereka berakhir tragis dengan kematian Layla dan pernikahan Layla dengan Ibn Salam. Tetapi Dr Muhammad Ghanimi Hilal dalam bukunya Baina Al Udzriyah Wa Al Shufiyah mengonfirmasikan “Sesungguhnya Layla tetap perawan sampai ahkir hayatnya.

Baca Juga  Ungkapan Cinta Allah: "Like and Dislike" Dalam Al-Qur'an

Keduanya adalah simbol objek cinta Agape, Agape merupakan istilah dari yunani yang merujuk cinta tanpa syarat(unconditional love), tanpa egosentris, dengan satu visi misi yang kolektif. Menurut Oren Watts, dalam buku Agape Elaion, Allah membutuhkan pihak lain untuk dicintai. Cinta agape juga mengajak manusia untuk menyatakan cinta kepada orang lain, khususnya melalui tindakan tertentu, sebab cinta memang mengandung makna dan menciptakan tujuan, yaitu mengasihi. Cinta ini adalah cinta peraihan untuk mendekat kepada Al Mahabbah Al Haqq yakni Allah Swt.

Konsep mereka adalah seperti Segitiga sama kaki, yang meletakkan Allah Swt diatas dan keduanya di bawah sudut segitiga tersebut. Semakin mereka taqorub kepadanya, semakin cinta mereka menguat dan mendalam, terbukti ketika Majnun lemah terkulai dan ayahnya memondong Majnun dan berdoa didepan ka’bah untuk menghilangkan cinta anaknya kepada Layla, Majnun semakin menjadi, bahwa ia rela nyawanya direnggut asal bersama Layla

Simbolik Cinta Platonis

Kisah cinta mereka berdua memotivasi para sufi falsafi. Layla merupakan simbol sang kekasih dan sang keindahan. Majnun disimbolkan sebagai Salik(pengembara), Muhibbin(pecinta), Al Asyiq(perindu). Perjalanan untuk kemanunggalan atau Tajalli membutuhkan proses yang lama, rasa sakit, kerinduan, musibah adalah bentuk usaha seorang untuk menggapai makrifat. Selain orang yang mencintai dapat menahan rasa sakit juga harus menahan sabar terhadap orang yang dicintai.

Hasil dari cinta ini adalah cinta yang penuh kedamaian. Dan gerbang dari kedamaian tersebut adalah kematian yang baik (khusnul khotimah). Seperti layaknya perjalan cinta mereka berdua, ketika maut saja yang dapat mempersatukan mereka. Cara pandang demikian inilah yang kemudian disebut Cinta Platonis, sebuah cinta Tuhan dalam filsafat Platon filsuf terbesar Yunani. Cinta ini pertama kali dikumandangkan oleh Marsilio Ficino, seorang filsuf Italia pada 1469. Ficino menyatakan bahwa cinta platonic berupa kasih sayang mendalam yang terkait jalinan spiritual dan memiliki nilai mulia.

Baca Juga  Fana' dan Baqa' dalam Perspektif Imam Al-Qusyairi

***

Dalam tasawuf cinta ini memiliki tiga karakteristik, yang pertama pengakuan seorang hamba yang lemah tanpa daya kecuali darinya dan ia jujur dengan segala dosa yang ia miliki, yang kedua adalah ridho atas segala ketentuannya, entah musibah atau ujian yang dihadapi. Yang ketiga adalah memiliki orientasi akhirat dan membuat dunia hanya sekedar tempat ia minum lalu pergi bersafar.

Pada ahkirnya konsep tersebut merujuk Qur’an Ali Imran ayat 31 yang berbunyi

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ.

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Ali- Imran : 31)

Ayat tersebut adalah ayat yang menjadikan landasan seorang sufi dalam mencari jati dirinya dan Cinta Tuhan. Proses yang sangat lama adalah hal yang lumrah, bagi seorang sufi. Karena ia harus dituntut memahami apa yang dinamakan “Harmoni Cinta” yakni antara hubungan Manusia, Alam Semesta, Tuhan. Dan tidak lupa syariat sebagai kapal landasan untuk mengarungi samudera hikmah. Semoga artikel ini dapat menggugah kita untuk kembali ke jalannya.

Editor: An-Najmi