Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kriteria Pemuda Sukses Dalam Perspektif Al-Qur’an

sukses
Sumber: https://www.myna.org/

Sukses di usia muda adalah impian bagi semua orang termasuk mereka yang muda sekalipun. Apalagi jikalau Kesuksesan itu didapatkan dengan waktu yang relatif singkat. Tentu saja, generasi muda banyak yang tergoda dengannya pasalnya generasi muda itu terkenal dengan karakter anti ribet dan anti lemot.

Padahal berbicara tentang kesuksesan, tidak ada dari mereka yang sukses itu berleha-leha di masa mudanya. Lihat saja dua pemain sepak bola yang sangat sukses dan terkenal, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Mereka sejak muda bahkan masa kecilnya sudah harus latihan keras setiap harinya demi menggapai impiannya seperti sekarang.

Tidakkah dua pemain itu menjadi bukti bahwa kualitasnya saat muda menjadikannya luar biasa sekarang? Apakah bisa generasi muda hanya berpangku tangan untuk menjemput kesuksesan? Saya rasa generasi muda harus bangkit dan semangat untuk memperjuangkan impiannya. Teringat ungkapan dari mas Yahya Faturohzy bahwa tidak ada hak istimewa bagi para pemuda jika ingin sukses ke depannya. Maka menjadi benar jika pemuda harus memiliki kualitas untuk menuju masa depan yang cerah.

Al-Qur’an dan Pemuda Sukses

Al-Qur’an mengkritik sikap pemuda yang ingin sukses tapi tidak ingin bersusah payah terlebih dulu. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 140.

Artinya: “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Baca Juga  Aerodinamika dalam penafsiran QS. Al-Mulk ayat 19

Quraish Shihab menjelaskan dalam kitab tafsirnya al-Misbah bahwa ayat ini merupakan suatu peringatan kepada kaum Muslimin agar tidak perlu merasa terhina ketika kalah. Karena suatu kekalahan juga pernah menimpa musuh mereka pada perang Badar.

Dalam buku Tafsir Al-Qur’an Tematik: Pembangunan Generasi Muda karya Kementrian Agama menjelaskan maksud kalimat (dan masa kejayaan dan kehancuran itu kami pergilirkan di antara manusia) dengan roda kehidupan itu berputar. Terkadang yang di bawah bisa berada di atas begitu sebaliknya. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam satu generasi dengan do’a dan usaha, maka akan melahirkan generasi muda yang berkualitas sehingga dapat meraih puncak kejayaan dan prestasi. Demikianlah hukum Allah yang membimbing manusia dalam menjalani kehidupan yang terbatas ini.

Ayat ini bisa kita resapi bahwa kesuksesan itu datang silih berganti. Dengan demikian, sebagai generasi muda tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk meraih suatu kesuksesan. Maka dibutuhkan beberapa parameter kualitas generasi muda jika ingin mendulang kesuksesan ke depannya.

Dalam buku Tafsir Al-Qur’an Tematik: Pembangunan Generasi Muda oleh Kementrian Agama disebutkan empat kualitas yang harus dimiliki pemuda, antara lain:

Pertama, kualitas fisik

Memelihara fisik merupakan awal dari semua kemaslahatan kehiodupan, sebagaimana pepatah bilan akal yang baik terdapat pada tubuh yang baik. Pemeiliharaan ini terkait dengan segala aspek kualitas kesehatan jasmani. Pemeliharaan ini merupakan keharusan bahkan kewajiban (QS. Al-Baqarah ayat 168, al-Maidah ayat 88, al-anfal ayat 69 dan al-Nahl ayat 114.

Kewajiban ini bukan tanpa alasan karena untuk membangun umat dengan kepemimpinan dibutuhkan kualitas fisik. Imam al-Mawardi, salah seorang ulama dari mazhab Syafi’iyah dalam kitabnya al-Ahkam al-Sultaniyah menyatakan calon pemimpin itu harus memiliki kemampuan fisik  yaitu sehat jasmani, ruhani dan berilmu. Kemampuan fisik ini penting di samping kemampuan intelektual (QS. Al-Baqarah ayat 247).

Baca Juga  Syariat Menyusui dalam Al-Qur’an Perspektif Buya Hamka

Meskipun begitu kualitas fisik bukan satu-satunya kualitas yang harus dimiliki. Karena bisa jadi akan menjerumuskan kepada kesombongan. Seperti cerita tentara para tentara saba’ ketika mereka berdiskusi dengan ratu Balqis menanggapi surat dari Nabi Sulaiman yaitu pada QS. Al-Naml ayat 33 dengan istilah quwwah dan ulu ba’sin syadidin yang juga disebutkan surat al-Fath ayat 16.

Kedua, kualitas intelektual

Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 247 bahwa kualitas fisik tidak dapat dipisahkan dengan kualitas intelektual lewat cerita kepiawaian dan keluhuran ilmu tentang keadaan raja Talut waktu itu. Rasul yang memiliki sifat fatonah juga tentu memiliki segala aspek yang lebih daripada yang lain. Dengan demikian, kualitas fisik dan intelektual itu berbarengan sehingga tidak timpang dalam membangun suatu citra umat.

Dalam konteks al-Qur’an, kualitas intelektual banyak diungkapkan melalui berbagai tahapan dan proses perolehannya, mulai dari ilham, irhas, karamah sampai menerima wahyu. Mereka yang berintelektual memiliki gelar seperti Nabi dan Rasul, sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, Syaikh, Ulama dan seperti yang disebut langsung dalam al-Qur’an ulul ilmi, ulun nuha, ulul albab, ulil albab, ulul abshar dan ahliz zikr.

Ketiga, kualitas spiritual

Pada dasarnya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional berpangkal pada kecerdasan spiritual. Karena dengan begini, seseorang tidak akan mengejar kesuksesan dengan menghalalkan segala cara sebab ada pengendali ketika manusia hendak mengerjakan sesuatu.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ya’qub pada QS. Al-Baqarah ayat 128-133 dan QS. Ibrahim ayat 35-41 dan juga kisah Zaakariya dalam QS. Maryam ayat 3-5 dan QS. Luqman ayat 12-19 merupakan personifikasi di antara para rasul dan orang-orang yang diberi hikmah. Mereka menjadi contoh bagi generasi sesudahnya  menjadi generasi yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi, yaitu Muslim, salih dan selalu tauhid kepada Allah.

Baca Juga  4 Ragam dan Dimensi Hati di dalam Al-Qur'an

Keempat, kualitas emosi

Menurut Reuven Bar-On kecerdasan emosi dapat didefinisikan sebagai mata rantai keahlian, kompetisi dan kemampuan non-cognitive yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menghadapi tuntutan dan tekanan lingkungannya.

Kualitas emosi pada dasarnya ada kaitan dengan kecerdasan emosi. Dalam al-Qur’an kualitas emosi dapat dijelaskan lewat surah-surahnya antara lain QS. Ali Imran ayat 2 dan 134 menjelaskan tentang menahan amarah, QS. Al-Zumar ayat 3 dan 53 menjelaskan tentang kemampuan memotivasi diri tidak boleh putus asa dari rahmat Allah, dan QS. Al-Isra’ ayat 4 dan 26-28 menjelaskan tentang kemampuan bekerjasama dengan orang lain berupa ta’awun dan infaq bantuan pada yatim dan fakir miskin.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa untuk mencapai kesuksesan bagi generasi muda tidak bisa hanya bermodalkan malas-malasan. Meskipun kesuksesan ataupun kejayaan itu silih berganti, akan tetapi untuk menggapainya dibutuhkan usaha dan do’a.

Di antara usaha yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas generasi muda. Adapun kualitas itu adalah kualitas fisik, intelektual, spiritual dan emosi. Dengan demikian, generasi muda diharapkan telah memiliki bekal untuk menggapai kesuksesan.

Penyunting: Ahmed Zaranggi