Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Shalat Jumat Bersama Anak

Shalat Jumat
Gambar: aceh.tribunnews.com

Shalat adalah rukun Islam yang kedua. Dalam ajaran Islam, shalat merupakan tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab kelak. Rukun Islam sendiri merupakan pokok-pokok ajaran Islam, yaitu syahadat, shalat, melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Mengutip perkataan Imam Baihaqi, “Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama Islam, dan barangsiapa yang meniggalkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama Islam.”. Di sini Islam diibaratkan sebagai bangunan yang pondasinya adalah syahadat, shalat sebagai tiangnya serta jihad dan dakwah sebagai atap pelindungnya.

Umat Islam yang meninggalkan shalat maka ia telah melemahkan Islam itu sendiri dengan merobohkan pilar agama Islam. Sebaliknya apabila umat Islam mendirikan shalat maka ia telah mengokohkan pilar-pilar Islam.

Hukum Shalat Jumat

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, shalat Jumat merupakan shalat yang dilaksanakan di waktu solat zuhur secara berjamaah. Hukum melaksanakan shalat Jumat sendiri adalah fardhu (wajib). Kewajiibannya jatuh kepada setiap muslim laki laki kecuali empat golongan, yaitu budak sahaya, perempuan, anak kecil dam orang sakit.

Seberapa pentingnya shalat jumat telah Allah abadikan dalam Al-Quran surat al-Jumu’ah ayat 9. Bahkan dikatakan di dalamnya untuk mengutamakan shalat jumat dibandingkan dengan jual beli. Artinya sebagai muslim harus memprioritaskan shalat jumat yang merupakan urusan akhirat ketimbang jual beli.

Dengan begitu meninggalkan shalat jumat dengan sengaja merupakan kesalahan besar. Terutama bagi muslim laki-laki yang meninggalkan tanpa udzur merupakan kesalahan fatal dan sebuah dosa besar. Maka bagi seorang muslim shalat jumat hukumnya adalah fardhu ‘ain.

Mengenai muslim perempuan, mereka tidak terbebani untuk melaksanakannya. Namun, bagi mereka yang ingin ikut melaksanakannya, tidak salah bahkan tidak ada nash yang melarangnya pula. Bahkan di beberapa mesjid besar di negera Islam sana ada fasilitas atau ruangan khusus untuk muslimah yang ingin melaksanakan shalat Jumat.

Baca Juga  Mufasir Muhammadiyah (2): Jejak Intelektual Izza Rohman

Akan tetapi perlu diketahui juga bahwa fitnah ketika melaksanakan shalat Jumat itu lebih besar dibandingkan shalat biasa. Namun, ini merupakan saran dan bukan suatu hukum. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah SAW,

“Shalatnya seorang di antara kalian (perempuan) di makhda’ (kamar khusus yang dipergunakan untuk menyimpan barang berharga) lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Shalat di kamarnya kebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Shalat di rumahnya lebih utama daripada solat di masjid kaumnya (masjid perempuan). Dan shalat di masjid kaumnya lebih utama daripada solat bersamaku (di masjid laki-laki)”. (HR. Ahmad)

Jargon Jumat Berkah

Sudah menjadi sebuah ungkapan wajib di hari Jumat. Dari anak hingga dewasa ungkapan Jumat berkah seperti sudah mandarah daging pada setiap muslim. Akan tetapi tidak sedikit juga yang tidak mengetahui apa maksud dari slogan Jumat berkah ini.

Sebagai muslim yang baik, sudah sepantasnya kita memahami fadhilah dan hikmah dari shalat Jumat. Hari Jumat dalam Islam dapat dikatakan sebagai hari yang agung dan suci. Sudah sepatutnya kita memperbanyak ibadah di hari Jumat.

Amalan di hari Jumat dapat dikategorikan menjadi sunnah rasul. Beberapa amalan ini patut kita tanamkan pada anak kecil sebagai bentuk perhatian kita terhadap generasi Islan di masa depan. Sebab suatu amalan yang sering dilakukan di waktu kecil akan senantiasa membekas hingga dewasa.

Di antara amalan sunah Jumat adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah shalawat di hari Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku setiap hari Jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku maka dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat.”

Memperbanyak do’a dan dzikir juga merupakan amalan yang dapat dilakukan di hari Jumat. Seperti yang kita tahu dzikir artinya mengingat, dan mengingat Allah di hari Jumat hal yang termaktub dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk melakukan shalat pada hari jumat, maka bersegeralah mengingat Allah … (QS. al-Jumu’ah ayat 9). Cukup dengan membaca kalimat istighfar, tahlil, tahmid dan takbir masing masing sebanyak 33 kali. Dan coba kita mulai tanamkan kepada anak kecil di sekeliling kita.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 106: Tentang Nasikh dan Mansukh

Membaca Al-Quran lebih utamanya surat al-Kahfi menjadi sebuah amalan yang disunnahkan, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca QS al-Kahfi di hari Jumat maka hatinya akan diberikan sinar dari cahaya di antara dua Jumat.”

Membiasakan Baca Al-Quran dan Sedekah

Meski sebagian banyak anak kecil belum bisa fasih membaca Al-Quran, kita bisa membacakannya untuk mereka. Sehingga anak kecil mulai dibangun kecintaannya terhadap bacaan Al-Qur’an.

Bersedekah di hari Jumat juga merupakan amalan yang disunahkan. Imam Syafii berkata  bahwa pahala sedekah di hari jumat itu dilipatgandakan. Sedekah di sini tidak terkecuali alias semua jenis sedekah. Hal sederhana yang bisa kita tanamkan kepada anak adalah memberikannya uang untuk dimasukan ke dalam keropak Jum’at.

Di antara semua amalan yang disunnahkan di atas, perlunya kita membangun hubungan baik dengan anak kita sehingga dapat meneruskan amalan itu secara bertahap. Awalnya mungkin bersifat memaksa tetapi dengan pembiasaan yang baik, kata terpaksa juga tidak akan keluar lagi darinya. Karena ayahku mengajarkanku untuk melakukan ini, fadilahnya pun sangat besar merupakan sebuah ungkapan romantis dari seorang anak untuk orang tuanya.

Fenomena Anak Kecil Shalat Jumat

Anak kecil merupakan golongan yang belum terbebani hukum untuk melaksanakan shalat Jumat. Tetapi sebagai bentuk pembiasaan, anak kecil harus mulai dibangun minat dan kecintaannya dalam beribadah. Tidak hanya shalat jumat tetapi semua jenis ibadah harus ditanamkan kepadanya.

Anak kecil yang melaksanakan shalat Jumat terkadang menjadi sebuah masalah. Hal ini dapat dilihat di masjid-masjid besar. Ketika khatib menyampaikan khutbah, anak kecil sibuk mengobrol dengan teman sebayanya. Bahkan mereka bermain di dalam masjid sedangkan khutbah sedang berlangsung.

Dan kita mengetahui bahwa ketika khutbah berlangsung, jamaah tidak diperbolehkan untuk berbicara dalam artian menyuruh anak untuk jangan gaduh. Hal ini terdapat dalam hadis dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu berbicara di hari Jumat saat imam berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia (tidak sempurna pahala shalat Jumatnya).

Baca Juga  Penafsiran Khalifah dalam QS. Al-Baqarah Ayat 30: Perspektif Abduh

Bahkan setelah shalat jumat pun di beberapa masjid besar yang menyediakan “konsumsi Jumat” diserbu oleh anak kecil tersebut. Tidak ada salahnya bagi anak kecil untuk mengambil konsumsi itu, tetapi kadang keserahakan di anak kecil masih sering terjadi. Selain itu apabila kita memandang niat Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), mereka lebih menyediakan itu untuk para musafir atau yang benar benar membutuhkan.

Tidak semua anak kecil seperti di atas, sebab pendidikan baik dari orang tua sangat mempengaruhi kebiasaan anak. Tentu tidak lepas dari lingkungan sekitar, sebab berdasarkan teori nativisme kita adalah seperti kertas putih dan lingkungan sebagai tintanya.

Mendampingi Anak

Seorang ayah hendaknya dapat meluangkan waktunya untuk mendampingi anaknya ketika shalat Jumat. Selain ayah, kaka atau paman atau siapapun itu memliki beban untuk mendampingi anak kecil. Karena selain mengurangi kegaduhan yang disebabkan anak, juga sebagai sarana kaderisasi Islam.

Selain mendampingi anak, langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) adalah membuat pengumuman tertulis. Beberapa pengumuman tertulis yang sering kita lihat adalah: dilarang tidur di masjid, mohon untuk mematikan handphone, dilarang berisik, hematlah dalam menggunakan air, dan lain-lain.

Ada beberapa pengumuman yang cocok untuk mengurangi bahkan mengatasi kegaduhan anak kecil, antara lain: terima kasih sudah mendampingi anaknya dengan baik, harap mendampingi anak ketika melaksanakan shalat Jumat, dll.

Mungkin beberapa orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan anaknya ketika melepasnya begitu saja untuk melaksanakan shalat Jumat. Harapan orang tua tentu ingin anaknya menunaikan ibadah dengan baik. Tetapi apabila yang dilakukan anaknya tidak seperti yang dipesankan orang tua mungkin dengan membaca ini akan sedikit tersadarkan bahwa mendampingi anak kecil merupakan sebuah tugas penting demi kemaslahatan jamaah Jumat.

Penyunting: Bukhari