Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

QS. Al-Baqarah 233: Duhai Ayah dan Ibu, Berilah Kami Perhatianmu!

ayah
Sumber: https://www.pinterest.com/

Beberapa waktu lalu, fyp akun tiktok saya sedang ramai unggahan tentang anak-anak yang membangga-banggakan kedua orang tuanya. Mulai dari kasih sayang, perhatian, waktu, kelembutan, keamanan, dan pendampingan yang membuat anak merasa beruntung dan berharga memiliki ayah dan ibu seperti itu. Namun, keberuntungan itu tidak selalu mendapat respon yang positif. Entah itu dalam bentuk komentar, maupun fitur duet yang digunakan sebagai bentuk video balasan kepada akun tersebut. Akhirnya, banyak respon yang memperlihatkan bahwa orangtua kandung pun tidak selalu bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Ada banyak anak di luar sana yang tidak merasakan kasih sayang yang semestinya. Mulai dari perlakuan yang kasar, menganggap anak sebagai beban keluarga, tidak memedulikan pendidikan anak. Bahkan sampai ada yang orangtua yang meminta balas jasa ketika anak telah sampai umur untuk bekerja dengan mengembalikan sejumlah uang yang selama ini digunakan untuk sang anak. Lalu, pertanyaannya di mana tanggung jawab dan kasih sayang orang tua yang sebenarnya? Orang-orang mengatakan bahwa kasih sayang orang tua kandung tidak akan ada yang menyamainya. Lalu bagaimana dengan fenomena di atas? Pantas saja mental anak secara tidak langsung terdidik sebagai pemberontak. Kemudian mengalihkan dunianya kepada hal-hal negatif seperti pergaulan bebas dan narkoba, atau bahkan sampai kepada bunuh diri.

QS. Al-Baqarah 233: Cerminan Tanggung Jawab Orang Tua

وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ….  

Artinya: “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut …”

Baca Juga  Analisis Semantik Kata Ithmun dalam Al-Qur’an

Dalam menafsirkan ayat di atas, penulis merujuk kepada tafsir Kementrian Agama RI bahwa Allah memberi kewajiban kepada seorang ibu untuk menyusui anaknya karena ASI memiliki pengaruh yang besar terhadap anaknya. Menurut hasil penelitian para ahli medis, esensi ASI sangat murni. ASI juga merupakan makanan terbaik untuk bayi, para ahli gizi yakin. Selain itu, ibu dilahirkan dengan perasaan yang mendalam. Sehingga pemberian ASI langsung oleh ibu erat kaitannya dengan perkembangan fisik dan mental anaknya. Oleh karena itu, tindakan sementara tidak boleh dilakukan bagi ibu yang tidak ingin menyusui anaknya semata-mata untuk keuntungan pribadi (seperti menjaga kecantikan).

Meskipun ini bertentangan dengan kodratnya sendiri, dan secara tidak langsung ia kehilangan kesempatan untuk mengembangkan hubungan keibuan yang mendasar dengan anaknya sendiri di alam emosional. Demikian juga apabila ayah sebagai pemenuh nafkah. Jika tidak mempunyai kesanggupan melaksanakan kewajibannya karena miskin maka ia boleh melaksanakan kewajibannya sesuai dengan kesanggupannya. Keringanan itu membuktikan bahwa anak tidak boleh dijadikan sebab adanya kemudaratan, baik terhadap bapak maupun terhadap ibu. Demikian pula yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa sangat pentingnya anak diasuh oleh orang tua yang bertanggung jawab penuh sebagaimana yang dijelaskan tafsir kemenag RI di atas.

Menghindari Terjadinya Anak yang “broken home

Bukankah memiliki anak yang sehat, cerdas, berpenampilan menarik, dan berakhlak mulia merupakan salah satu sumber kebahagiaan bagi kedua orang tua? Oleh karena itu, sebagaimana penjelasan tafsir ayat di atas. Orangtua tidak boleh egois sehingga mementingkan diri sendiri dan menganggap anak adalah sebuah beban. Surat al-Baqarah ayat 233 menjelaskan bahwa pertumbuhan mental yang baik bagi anak adalah tergantung bagaimana ayah dan ibu menunaikan tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Baca Juga  Perjalanan Syaikh Ali Hasan Ahmad dalam Menimba Ilmu

Jadi, bila tidak ingin anak tumbuh sebagai anak yang “broken home”, maka pandai-pandailah sebagai orang tua memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih, pendidikan yang baik, pendidikan agama dan moral yang baik, waktu luang bersama anak sehingga kebutuhan mental seorang anak juga terpenuhi. Dengan demikian, sang anak akan terhindar dari perilaku-perilaku yang buruk seperti depresi, pergaulan bebas, mengkonsumsi obat-obatan. Bahkan na’udzubillah sampai mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam hal ini, penjelasan itu didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

وَ عَنْهُ اَيْضًا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

Hadis ini jelas memberitakan bahwa mau jadi apa seorang anak ke depannya adalah tergantung kepada bagaimana peran ayah dan ibu dalam mendidik dengan sebaik-baiknya. Anak yang “brokenhome” adalah anak yang kekurangan kasih sayang. Mentalnya dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya memberikan jalan menuju masa depan yang gemilang.

Kesimpulan

Fenomena anak yang “broken home” yang sering terjadi di sekeliling kita disebabkan lalainya orangtua dalam menunaikan tanggung jawabnya. Pembentukan perilaku dan mental anak dimulai dari bagaimana orangtua benar-benar memberikan perhatian lebih dari segala hal yang merupakan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, dari anak dalam kandungan hingga lahir dan tumbuh dewasa adalah bentuk dari kerja keras ayah dan ibu dalam memberikan kasih sayangnya.

Baca Juga  Tafsir Q.S Ali Imron 104: Sebagai pengingat Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sebagaimana ayat dan hadis di atas, tidak salah rasanya jika kita sebagai orang tua menurunkan ego, mengingat bahwa anak adalah anugerah yang harus dijaga dan dididik sebaik-baiknya hingga memperoleh masa depan yang cerah. Insyaallah sampai ke surga sebagaimana harapan kita yang mendambakan surga dengan nikmat tanpa batas. Semoga kita termasuk orang yang beruntung, aamiin. Wallahu a’lam.