Komunikasi antar sesama acapkali menimbulkan perselisihan yang berujung pada ejekan. Merespon ejekan selalu bersifat emosional dan mengabaikan sisi rasional. Padahal, komunikasi yang baik seharusnya saling memahami dengan tenang. Sehingga tersampaikan maksud dan tujuan dari komunikasi yang dilakukan.
Komunikasi manusia modern lebih sering menggunakan media digital. Sementara, interaksi secara virtual mudah menimbulkan ejekan. Untuk itu bagaimana seharusnya kita berkomunikasi yang baik? Atau bagaimana cara merespon ejekan atau ujaran kebencian yang kita terima?
Selanjutnya, tulisan ini akan menghadirkan 3 dialog Nabi Al-Qur’an tentang respon ejekan. Ketiga Nabi tersebut adalah Nabi Hud, Nabi Nuh dan Nabi Musa as. Kira-kira, bagaimana mereka mengajarkan kita untuk merespon berbagai ejekan, berikut uraian singkatnya!
Dialog Nabi Hud
Nabi Hud merupakan utusan Allah untuk berdakwah kepada kaum ‘Ad awal. Al-Qur’an mengabadikan kisah Nabi Hud dalam surat Hud. Kemudian, sejarawan memperkirakan kisah ini terjadi di daerah utara Hadramaut. Atau di antara Yaman dan Oman.
Sebagaimana tugas Nabi lainnya, Nabi Hud juga menegaskan keesaan Allah, kenabian serta adanya hari akhir. Suatu hari, seorang dari kaumnya melontarkan ejekan kepada Nabi Hud dengan berkata:
قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta”.
Mereka menganggap Nabi Hud sebagai seorang yang kurang akal, lalu apakah ia akan membalas juga dengan perkataan bahwa merekalah yang tidak waras? Ternyata tidak, berikut jawaban Nabi Hud:
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Hud berkata “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.”
Dialog Nabi Nuh
Selanjutnya adalah kisah dialog Nabi Nuh dengan para pemuka dari kaumnya. Nabi Nuh merupakan satu di antara 5 Nabi ululazmi. Kemudian, kisah yang masyhur dari beliau adalah tatkala banjir bandang menimpa dirinya dan kaumnya. Di mana keluarganya sendiri membangkang dan tidak mentaatinya.
Pada momen tertentu saat Nabi Nuh berdakwah, para pemuka kaumnya tak henti-hentinya mencaci beliau dengan ujaran:
قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”.
Mungkinkah seorang Nabi Nuh membalas ujaran tersebut dengan mengatakan bahwa “kalianlah yang sesat!” Sungguh tidak demikian, beliau menjawab:
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.
Dialog Nabi Musa
Nabi Musa merupakan salah satu Nabi ululazmi. Beliau menjadi Nabi yang masyhur dalam agama samawi. Namanya disebutkan paling banyak dibandingkan nabi lainnya. Kisah yang abadi adalah tatkala beliau dihanyutkan oleh ibunya agar tak dibunuh. Kemudian justru beliau diangkat anak oleh istri Fir’aun; Asyiah. Satu lagi, mukjizat tongkatnya yang mampu berubah menjadi ular dan membelah lautan.
Kisahnya dengan Fir’aun menjadi pusat utama sejarah kenabiannya. Ingatkah Anda dengan perkataan Fir’an yang menghina Nabi Musa dengan perkataan gila? Sebagaimana Al-Qur’an merekamnya:
قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ
Artinya: “Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”.
Lihatlah jawaban Nabi Musa dengan tak sedikitpun menampakkan keburukan, beliau hanya membalas dengan seruan sebagai berikut:
قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: “Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”.
Kesimpulan
Melalui tiga kisah dan dialog Nabi Hud, Nabi Nuh dan Nabi Musa dapat kita lihat kondisi tenang, rasional dan tidak melibatkan emosi yang berlebihan. Mereka mengajarkan kepada kita untuk membalas ucapan buruk dengan kebaikan. Bahkan dengan mengklarifikasi tuduhan kemudian menegaskan kenabian mereka.
Semoga melalui 3 kisah dialog dalam Al-Qur’an ini mampu menjadikan kita lebih meneladani akhlak Nabi. Kemudian setapak demi setapak beajar merespon ejekan dengan ucapan yang baik dan santun. Sebagaimana perumpamaan pohon, “pohon yang rindang dan rimbun sekalipun membalas lemparan batu dengan menggugurkan bunga-bunga dan buah-buahan yang segar.”


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.