Kajian tafsir terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, di mana untuk mendapat pemahaman yang benar dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan diperlukan adanya metode yang tepat dalam menafsirkan Al-Qur’an. salah satunya seperti metode yang digunakan oleh Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi.
Riwayat Hidup Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi
Nama lengkap Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi adalah al-‘Allamah al-Fadil al-Syaikh al-Duktur Muhammad bin Mahmud bin Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Hijazi bin Muhammad Hindi al-Syafi’i. Beliau berasal dari suku Hanadwah yang lahir pada tanggal 19 Jumadil Awal 1333 H yang bertepatan pada 15 Mei 1914 M di desa Syinbarah Manqala di kota Mesir, dan wafat pada 17 April 1972M/1392 H di kota Khurtum yang berada di Sudan. Pada saat itu beliau berusia kurang lebih 58 tahun, dan dimakamkan di kota kelahirannya.
Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi dikenal sebagai sosok yang saleh dan rendah hati. Beliau adalah seorang akademisi yang lahir di lingkungan keluarga yang berlatar belakang sebagai petani yang terpandang dengan pendidikan yang sangat baik. Ayahnya bernama al-Hajj Mahmud Yusuf Hijazi, dan ibunya bernama al-Hajjah Ummu Muhammad binti Muhammad Hasan.
Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi berguru kepada beberapa guru, diantaranya:
- Al-Hajj Mahmud Yusuf Hijazi, Muhammad Mahmud Hijazi.
- Amin Muhammad Hasan.
- Muhammad Ahmadi adz-Dzowahiri.
Pada bidang pendidikan, Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi mempunyai beberapa muridyaitu:
- Ahmad Abbas al-Badawi
- Ahmad Ali al-Imam
- Al-Amin Muhammad al-Amin
Terkait dengan karya-karya ilmiah Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi, yaitu:
- Al-Tafsir al-Wadih
- Al-Wahdah al-Maudu’iyah fi Al-Qur’an al-Karim
- Al-Ahadis al-Mukhtarah fi al-Shahihain
Latar Belakang Penulisan dan Sistematika Penafsiran
Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi menuliskan tafsir yang berjudul Tafsir al-Wadih karena menurutnya, kitab tafsir ini sangat dibutuhkan oleh umat Islam saat ini. Beliau juga menuliskan kitab tafsir ini dengan bahasa yang mudah dan jelas sehingga mudah untuk dipahami, kitab tafsir ini juga sederhana dan juga ringkas. Sedangkan para mufassir sebelum beliau, menuliskan kitab tafsir yang lebih menyerupai referensi dan ensiklopedia. Sebab dalam tafsir-tafsir tersebut dijelaskan secara panjang lebar.
Sistematika yang digunakan dalam Tafsir al-Wadih di antaranya yaitu:
- Memberi topik atau judul tema tertentu dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang relevan dengan topik tertentu untuk ditafsirkan. Misalnya, pada surat al-Baqarah ayat 3-5,Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi memberi topik atau judul tema yaitu “al-Muttaqunwa Jaza’uhum” (Orang-orang yang bertaqwa dan ganjarannya).
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ
مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ * أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
- Menafsirkan ayat demi ayat tersebut sesuai dengan urutan dalam mushaf, dengan cara mengelompokkan beberapa ayat, terkadang 2 atau 3 ayat hingga ada yang 10 ayat atau lebih dalam satu tahap pembahasan, kemudian dirinci pembahasannya ayat demi ayat.
- Menjelaskan munasabah al-ayat wa al-surah yaitu hubungan surah yang akan ditafsirkan dengan surah sebelumnya atau hubungan ayat dengan ayat yang akan ditafsirkan. Sebelum masuk kepada penafsiran ayat, dalam tafsir ini dijelaskan pula kesesuaian atau hubungan ayat-ayat sebelumnya dengan ayat yang akan ditafsirkan.
- Selanjutnya dikemukakan arti al-Mufradat (kosa kata) yang dianggap sulit, misalnya, pada saat menafsirkan surah al-A’raf ayat 57-58 dengan judul topik Min Adillat al-Ba’si (di antara tanda-tanda kebangkitan). Dalam al-Mufradat ini, misalnya dijelaskan kata al-Riyah yang merupakan bentuk plural dari kata Rih, yang berartiangin. Kata ini dikenal di kalangan bangsa Arab. Bilaia berbentuk jamak maka berarti kebaikan, sedang bila ia berbentuk tunggal maka berarti keburukan.
- Mengemukakan asbabun nuzul jika suatu ayat terdapat asbabun nuzul. Dan terkadang memaparkan kisah-kisah para nabi atau peristiwa-peristiwa yang besar dalam sejarah Islam, dan ayat yang ditafsirkan terkait dengan kisah yang dimaksud. Misalnya dalam surah al-A’raf ayat 180 diriwayatkan bahwa ketika sebagian kaum muslimin berdoa menyebut nama Allah SWT dalam shalatnya dan menyebut pula nama al-Rahman. Maka kaum Musyrikin berkata: Muhammad dan sahabat-sahabatnya mengaku bahwa mereka hanya menyembah Tuhan yang Esa, lalu mengapa mereka menyebut namaTuhan lainnya? Maka turunlah ayat ini.
- Kemudian terakhir adalah penjelasan atau penafsiran ayat-ayat tersebut dengan memberi sub kajian al-Ma’na, yaitu menjelaskan kandungan surat atau ayat yang akan ditafsirkan secara menyeluruh dengan merujuk kepada makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis.
- Pada bagian akhir setiap juz dicantumkan daftar isi. Pencantuman daftar isi ini untuk mempermudah para pembaca dalam mencari setiap pembahasan kandungan ayat atau surah dari tafsir ini.
Sumber Penafsiran dan CorakTafsir.
Sumber penafsiran yang digunakan oleh Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi pada kitab Tafsir al-Wadih, adalah bil ma’tsur dan bil ra’yi. Tafsir bil ma’tsur yaitu seorang mufassir ketika melakukan penafsirannya selalu bersandar kepada teks-teks Al-Qur’an, hadist, dan juga riwayat sahabat. Sedangkan tafsir bil ra’yi yaitu seorang mufassir ketika melakukan penafsirannya dengan menggunakan cara ijtihad, dalam hal ini Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi menggunakan akal sehat dan tidak mengikuti hawa nafsunya.Dalam berijtihad beliau menggunakan kaidah-kaidah yang telah diterapkan.
Mengenai corak penafsiran, Syaikh Muhammad Mahmud Hijazi dalam kitabTafsir al-Wadih menggunakan corak sastra budaya kemasyarakatan (adabi ijtima’i) yang memang berorientasi kepada kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat secara umum.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply