Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ragam Makna Kontekstualisasi Auliya’ dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’

auliya
Sumber: istockphoto.com

Kata auliya’ dalam surah an-Nisa muncul  6 (enam) kali. Berikut adalah penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan konteks dan konteks yang mempengaruhinya.

6 Penyebutan Auliya’ dalam Surah An-Nisa’

  1. . Auliya’ bermakna Kawan-kawan ( Qs. an-Nisa 76)

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ الطَّاغُوْتِ فَقَاتِلُوْٓا  اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ ۚ اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”

Quraisy Shihab (2008: 511), setelah beberapa ayat sebelumnya menyebut sebagai pertempuran, antara lain berjuang untuk melindungi yang rentan, baik keluarga maupun orang sebangsa. Dalam ayat ini, selanjutnya menjelaskan perbedaan dalam perjuangan orang beriman dan tidak beriman. orang beriman berperang di jalan Allah SWT. Sementara orang kafir berperang dalam perjalanan menuju taqhut, Allah SWT telah memerintahkan orang beriman untuk berperang melawan sahabat Setan karena  tipu daya Setan sangat lemah sifatnya.

Dalam ayat 76, kata auliya ‘ berarti pendamping, sedangkan arti dalam konteks adalah pengikut setan. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh konteks bahasa (as-Siyaq al-Luqhah) yang berkaitan dengan konteks ayat sebelumnya yang menegaskan  orang beriman berperang untuk membela mustadh’afina (orang-orang lemah),dan dipengaruhi oleh  konteks ayat yang memerintahkan orang-orang beriman berperang melawan kawan-kawan setan ” فَقَاتِلُوْٓا  اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ    maka  perangilah kawan-kawan setan” . 

2. Auliya’ Teman-Teman (Qs. an-Nisa ayat 89)

وَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ كَمَا كَفَرُوْا فَتَكُوْنُوْنَ سَوَاۤءً فَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ اَوْلِيَاۤءَ حَتّٰى يُهَاجِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوْهُمْ وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًاۙ

Baca Juga  Proses Pendidikan Nabi Adam AS Perspektif Al-Qur’an

Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman(mu), sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. Apabila mereka berpaling, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana pun mereka kamu temukan, dan janganlah kamu jadikan seorang pun di antara mereka sebagai teman setia dan penolong”.

Quraisy Shihab (2008:53) mengikuti ayat sebelumnya yang memberikan nasehat kepada orang-orang beriman dibagi dengan melawan orang munafik. Kemudian pada ayat ini dijelaskan kembali bahwa kekafiran orang munafik itu tidak  terbatas pada diri  mereka sendiri, tetapi mereka juga menginginkan orang-orang yang beriman menjadi serta mereka membuat kesalahan dan kurangnya kepercayaan yang membuat mereka(iman) tidak percaya dan melakukan kekafirankepada-Nya (Allah).

Pada ayat 89, dalam teks kata auliyā’ berarti teman, sedangkan arti dalam konteks adalahorang  terdekat.Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh  konteks bahasa (as-Siyaq al-Luqhah) karena berkaitan dengan konteks ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa Allah SWT menegur sikap  orang beriman yang terpecah belah berurusan dengan orang munafik  فَمَا لَكُمْ فِى ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِئَتَيْنِ وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟  ”  maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah SWT telah membalikkan mereka kepada kekafiran” dan dipengaruhi oleh konteks ayat melarang mukmin dari membuat orang munafik teman setia karena mereka ingin pengikut seperti mereka di kufur فَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ اَوْلِيَاۤءَ “ Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman (mu)”.

Menurut Abdul Wahid Soleh, kata auliyā’ dalam kalimat ini memiliki kedudukan maf’ūl bih, yaitu isim manshub dimana adalah tujuan dari perbuatan (objek). Selanjutnya pemaknaan ini juga dipengaruhi  oleh konteks situasi (as-Siyaq al Mauqif), yaitu lingkungan di mana bahasa itu digunakan karena kalimat ini menjelaskan sikap musyrik dan menginginkan mereka salah dan kufur.

Baca Juga  Tanggung Jawab Pemimpin dalam Al-Quran

Auliya’ yang Bermakna Pemimpin

3. Auliya’ Pemimpin (Qs. an-Nisa ayat 139)

 ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ

(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah”.

Quraisy Shihab (2008: 621) setelah ayat Allah SWT sebelumnya mengecam orang munafik bahwa mereka akan menerima siksaan yang pedih. Kemudian, dalam ayat ini menjelaskan sikap orang munafik yang mengaku beriman padahal sebenarnya mereka menyembunyikan ketidakpercayaan mereka.

Dalam ayat 139, kata auliya’ berarti pemimpin, sedangkan dalam konteks berarti orang yang menjadi pemimpin di suatu daerah. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh konteks bahasa (as-Siyaq al-Luqhah) karena berkaitan dengan konteks ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa Allah SWT akan menyiksa orang munafik dengan sangat menyakitkan بَشِّرِ ٱلْمُنَٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ”   kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” dan  dipengaruhi konteks ayat yang  menjelaskan siapa itu orang-orang munafik الَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ  ”  (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir “

Makna ini tampaknya juga  dipengaruhi  oleh konteks situasi (asSiyaq al Mauqif) , yaitu lingkungan di mana bahasa tersebut diucapkan karena pada masa Nabi Muhammad ada orang kafir yang tidak menerima ajaran Islam kemudian memusuhi Muslim, pada saat itu ada sekitar Muslim membuat orang tidak percaya bantuan dan mencari kekuatan dari orang-orang kafir, dan Allah SWT mengatakan  mereka adalah orang munafik.

4. Pemimpin (Qs. an-Nisa ayat 144)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا

Baca Juga  Kepemimpinan Ideal Nabi dalam Tafsir Ar-Razi

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?”

Quraisy Shihab (2008:628) Ayat ini adalah seruan kepada mukmin  agar tidak menjadikan orang kafir auliyā’ (sahabat asli selalu menyimpan rahasia, serta pelindung dan pelindung) dengan meninggalkan pengikut. Ayat ini  mengandung kritik karena Allah SWT berfirman akan memberikan hukuman kepada mereka yang membuat orang menjadikafir  seperti Dia berfirman “apakah kamu ingin memberi alasan yang jelasbagi Allah (untuk menghukummu).

Pada ayat 144 dalam teks tersebut, kata auliyā’ berarti pemimpin sedangkan memiliki arti kontekstual seseorang yang kepadanya menjadi pemimpin di suatu daerah. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh konteks lidah (assiyaq al-Luqhah).

karena terkait dengan konteks ayat yang mendesak orang beriman untuk tidak menjadikan orang-orang kafir pelindung dan membantu mereka meninggalkan orang-orang beriman  لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ  janganlah “kamu menjadikan orang-orang kafir  sebagai pemimpin” kemudian hal ini di pertegas dengan adanya kata  اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا ”  apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?” jelas kepada hujjah bahwa Allah SWT akan menghukum mereka yang membuat kafir penguasa mereka meninggalkan pengikut. Sedangkan menurut Abdul Wahid Soleh, kata auliyā’ dalam ayat ini memiliki tempat maf’ūl bih, yaitu isim manshub yang menjadi sasaran dari perbuatan.

Editor: An-Najmi