Kata ilmu banyak disebut dalam Al-Quran dan tidak hanya bermakna mengetahui melainkan juga banyak makna yang terkandung dalam kata ‘ilm beserta kata jadiannya. Kata ‘ilm memang banyak disebut dalam Alquran yakni 105 kali. Bahkan, angka sebanyak ini semakin bertambah jumlahnya menjadi 744 kali bila disertakan derivasinya.
Kata ‘ilm dalam Al-Qur’an
Dalam Ensiklopedi Alquran disebut sebanyak 778 kali. M. Quraish Shihab mengatakan kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 845 kali dalam Alquran. Tetapi dengan kata jadiannya ‘ilm disebut sebanyak 744 kali dengan rincian sebagai berikut: ‘aliim disebut sebanyak 35 kali, ya’lamu sebanyak 215 kali, i’lam sebanyak 31 kali, yu’lamu sekali, ‘ilm disebut sebanyak 105 kali, ‘alim delapan belas kali, ma’luum tiga belas kali, ‘alamiin sebanyak 73 kali, ‘alam tiga kali, a’lam 49 kali, ‘aliim atau ‘ulama 163 kali, ‘allam empat kali, a’lama dua belas kali, yu’limu enam belas kali, ‘ulima tiga kali, mu’allam sekali, dan ta’allama dua kali.
Beberapa contoh ayat-ayat yang terkait dengan kata ‘ilm, di antaranya:
Surat al-‘Alaq ayat 1-5
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Surat al-Mujadalah ayat 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ – ١١
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis.” Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
Makna Relasional Kata Ilmu Dalam Al-Qur’an
Makna relasional diperoleh dari al-Qur’an dan dimasukkan pada teologi Islam. Maka, struktur semantik dasar akan dipengaruhi oleh kalimat-kalimat yang disekitarnya. Pada konsep ini, kata ilmu memiliki korelasi dengan kata Allah dan iman.
- Makna Relasional Allah
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Q.S. al-Fathir: 28)
‘ilm pengetahuan semua berasal dari Allah dzat yang mengetahui. Begitu mulianya orang yang berilmu sehingga ketika dibandingkan mana yang lebih utama antara orang yang tekun beribadah namun bodoh dengan orang yang berilmu namun fasik. Di sisi lain, ‘ilm adalah sebuah cahaya bagi pemiliknya dan orang yang memiliki ‘ilm mudah dimaafkan oleh Allah, lolos dari tipu daya, memiliki anugrah syurga. Dan kesimpulannya ialah bahwa memiliki ‘ilm ialah wajib.
- Makna Relasional Iman
Antara iman dan ‘ilm ialah suatu hubungan yang erat, karena seorang tidak akan beriman jika tidak memiliki ‘ilm, dan orang yang beriman pasti sudah memiliki ‘ilm, kalau sekiranya ‘ilm tidak dicampuri dengan iman, pendapat baru tidak dikungkung oleh ingat akan kemanusiaan dan Tuhan, sehingga Allah mengecam bagi orang-orang yang tidak beriman, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًاۚ وَلَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الصّٰبِرُوْنَ
Artinya: “Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” (Q.S. al-Qashas: 80).


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.