Sebagaimana yang telah diketahui, Al-Qur’an selain berisi tentang larangan dan perintah, juga berisi tentang kisah dan sejarah. Entah itu tentang Nabi atau Rasul sebelumnya, maupun tragedi atau peristiwa luar biasa yang terjadi pada zaman dahulu, Asātīrul Awwalīn. Bahkan juga tentang peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Seorang Muslim awam pun biasanya familiar dengan kisah-kisah Al-Qur’an. Seperti terbelahnya laut oleh tongkat Nabi Musa, besarnya kekuasaan Nabi sekaligus Raja Sulaiman. Juga bagaimana tampannya Nabi Yusuf hingga digoda oleh istri tuannya sendiri. Kisah-kisah itu cukup banyak dikenal karena banyak yang menceritakan serta alur cerita yang cukup menarik bagi sebagian orang.
Cerita dalam Bahasa Arab
Dalam bahasa Arab umumnya cerita dikenal dengan lafaz qishah atau dalam bentuk pluralnya qashash yang juga dijadikan sebagai nama surat di dalam Al-Qur’an. Pada surat tersebut banyak disajikan kisah nabi-nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad. Akan tetapi, ternyata ada lafaz lain yang memiliki arti secara harfiah sama meskipun memiliki perbedaan dalam konteks penggunaannya. Lafaz tersebut adalah asātīr yang merupakan bentuk plural dari lafaz usthuurah.
Lafaz usthuurah ini di dalam Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari lafaz awwaliin. Kedua lafaz yang saling bersandar ini disebutkan sebanyak sembilan kali di dalam Al-Qur’an. Dalam bahasa arab, usthuurah memiliki arti dongeng atau cerita yang tidak jelas darimana sumbernya, sedangkan awwaliin adalah orang-orang terdahulu. Apabila dua kalimat tersebut digabungkan, maka maknanya menjadi ‘dongeng orang-orang terdahulu’.
Dalam bahasa Indonesia, hal ini dapat disebut dongeng, legenda, dan mitos. Muhammad Ahmad Khalafullah, salah seorang ilmuwan Mesir yang pertama kali mengartikan sebagai mitos. Ia percaya bahwa tidak sepenuhnya semua kisah dalam Al-Qur’an benar adanya. Artinya ada beberapa kisah yang hanya sekedar ditujukan untuk diambil amanat atau pelajarannya saja.
Penyebutannya dalam Al-Quran
Ayat yang membicarakan asātīrul awwalīn dibagi menjadi dua. Yaitu yang pertama adalah ayat-ayat Makkiyah yang mengatakan tentang unsur-unsur mitos yang diucapkan banyak orang termasuk kaum Musyrik Makkah. Hal ini dapat dikatakan demikian karena peristiwa serupa tidak terjadi di Madinah maupun setelah Nabi Muhammad hijrah.
Kemudian yang kedua adalah ayat-ayat yang berisi dialog yang menunjukkan adanya segolongan orang yang tidak mempercayai hari kebangkitan dan akhirat. Hal ini dapat terlihat jelas di beberapa surat seperti Al-Mu’minuun, An-Naml, Al-Ahqaf, dan Al-Muthaffifiin. Dari ayat-ayat di atas dapat terlihat jelas bahwa kaum Musyrik Makkah benar-benar yakin pada apa yang mereka katakan hingga mereka menguatkan penegasannya.
Dalam salah satu surat yaitu Al-An’am diceritakan bahwa sekelompok Musyrik Makkah mendengarkan ayat yang dibacakan. Namun kemudian mereka membantah dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Dari peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa kelompok tersebut hanya meyakini pendapat mereka sendiri. Kemudain menaruh kecurigaan yang besar bahwa Al-Qur’an hanyalah kitab yang berisi mitos belaka.
Kisah Nyata atau Fiksi?
Kemudian, setelah mendengarkan berbagai ayat yang mengandung asātīrul awwalīn di dalamnya. Dapat dilihat bahwa Al-Qur’an tidak memberikan penyangkalan atas klaim tersebut. Al-Qur’an baru memberikan penyangkalan apabila asātīrul awwalīn tersebut digunakan sebagai bukti jika Al-Qur’an itu palsu. Alias karangan Nabi Muhammad belaka dan bukan firman Tuhan.
Banyak ulama yang berselish pendapat tentang hal ini. Menurut sebagian dari mereka, kisah di dalam Al-Qur’an adalah nyata dan bagian dari fakta sejarah. Menurut kelompok ini, mitos tidaklah ada di dalam Al-Qur’an. Sedangkan kelompok lainnya menyetujui bahwa mitos memang ada di dalam Al-Qur’an, namun urgensinya adalah amanat atau pesan yang terkandung dalam mitos tersebut. Kelompok ini tidak terlalu mementingkan apakah peristiwa itu terjadi atau tidak. Karena yang lebih penting adalah apa pesan atau pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa yang ada di dalam mitos tersebut.
Relevansi Asātīrul Awwalīn dan Problematika Umat Hari Ini
Sebelum masifnya sumber informasi seperti saat ini, literasi lisan lewat mulut ke mulut lebih banyak digunakan daripada melalui tulisan. Hal itu disebabkan akses belajar menulis dan membaca pada zaman dahulu tidak mudah seperti pada abad ke-7 atau ke-8. Banyak hal yang menyebabkan akses belajar cukup sulit, entah itu tinta yang mahal maupun ketersediaan kertas dan media-media penunjang lainnya seperti kulit binatang atau dedaunan sulit untuk dikumpulkan menjadi satu.
Dengan fenomena demikian, banyak produk literasi seperti syair maupun cerita-cerita pada zaman tersebut hanya dianggap sebagai dongeng belaka karena tidak jelas darimana sumbernya dan siapa yang menciptakannya. Hal-hal yang dianggap tidak masuk akal atau tidak relevan dengan zaman akan dibuang dan diremehkan oleh manusia pada zaman itu.
Hal yang serupa juga terjadi pada zaman yang konon katanya umat manusia sudah lebih maju ini. Seperti halnya orang-orang pada zaman dahulu. Manusia zaman sekarang pun banyak yang menganggap apa yang ada di dalam kitab suci dari agama manapun hanyalah dongeng purbakala belaka. Hal-hal seperti akhirat, surga dan neraka, atau bahkan entitas Maha Kuasa yang belum pernah mereka lihat dengan pancaindra akan langsung diingkari. Mereka menggunakan argumen-argumen yang menurut mereka lebih ilmiah dari sekadar kitab suci.
Penyunting: Ahmed Zaranggi


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.