Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Analisis Semantik Al-Qur’an: Perbedaan Makna Qasam dan Hilf

qasam
Sumber: https://stock.adobe.com/

Sejak dahulu, masalah sinonimitas seringkali menarik perhatian para ahli bahasa Arab. Pandangan-pandangan yang muncul ini sangat beragam. Hadirnya susastra Qur’ani telah menjadi titik terang terhadap perselisihan para ahli bahasa. Ia mampu menunjukkan rahasia kata, yang mana kedudukan sebuah kata tidak dapat digantikan oleh kata lain yang lazim dianggap semakna.

Sebut misalnya, Ibrahim Anis dalam dilalah al-Alfazh menegaskan bahwa adanya gejala sinonimitas dalam bahasa Arab. Menururtnya tidak ada perbedaan sama sekali antara Anda mengatakan: tidak mendengarkan (lam yasma’), di telinganya ada shamamdan di telinganya ada waqr.

Sebaliknya Aisyah Abdul ar-Rahman atau yang lazim dikenal sebagai Bintu al-Syathi’ memandang bahwa tidak ada sinonimitas dalam Al-Qur’an. Menurutnya Allah swt. telah memilih setiap kata yang digunakan dalam setiap ayat dengan ketelitian yang tidak tertandingi. Sehingga tidak ada satu kata yang dapat digantikan dengan kata yang lain. Salah satu contoh kongkritnya ialah penggunaan kata qasam dan hilf dalam Al-Qur’an.

Penggunaan kata qasam

Qasam terdiri dari tiga huruf, yaitu ق,س   dan م  yang memiliki dua arti dasar. Pertama, indah dan baik. Kedua, berarti membagi-bagikan sesuatu. Namun, apabila kata qasam di-muta’addi-kan dengan huruf ba’ maka dapat diartikan sebagai sumpah. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya al-Tibyan fi Aqsam al-Qur’an. Bahwa tujuan dari qasam dalam Al-Qur’an adalah untuk menegaskan dan memperkuat berita yang akan disampaikan (تحقيق الخبر وتأكيده).

Manna’ al-Qattan juga mendefinisikan qasam dalam kitabnya Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an. Ia mengatakan “bertujuan untuk menguatkan jiwa seseorang agar tidak melakukan sesuatu ataupun melakukan sesuatu. Dengan menggunakan sesuatu yang dianggap agung, baik dalam bentuk hakiki, maupun dalam keyakinan.

Baca Juga  Titik Kulminasi Digitalisasi Tafsir al-Qur’an

Selain itu, Bintu al-Syathi’ dalam kitabnya al-I’jaz al-Bayan li al-Qur’an wa Masa’il Ibn al-Azraq, menjelaskan bahwa penggunaan kata qasama dalam Al-Qur’an lebih kepada sumpah yang bersifat asli. Juga disandangkan kepada orang-orang yang baik maupun kepada konten atau isi sumpah yang negatif, seperti sumpah palsu.

Penggunaan kata hilf

Terdapat kata lain yang sering disinonimkan dengan kata qasam yakni hilf yang diartikan juga sebagai sumpah. Bahkan kebanyakan dalam kamus bahasa Arab menyamakan arti dari kedua kata tersebut. Namun demikian terdapat beberapa perbedaan mendasar dari penggunaan kedua kata tersebut. Bintu al-Syathi’ dalam kitabnya al-I’jaz al-Bayan li al-Qur’an wa Masa’il Ibn al-Azraq, menjelaskan perbedaan dasar dari kedua kata tersebut.

Menurutnya, dalam cita rasa Arab murni menggunakan kata hilf kepada sesuatu yang bersifat ragu atau dusta. Adapun contoh kata hilf yang bersifat dusta, yaitu kalimat “حلفة فاجر “ yang berarti sumpah sang pendosa dan “أحلوفة كاذبة” yang berarti sumpah sang penipu. Sedangkan contohnya yang bersifat ragu, yaitu “احلف الغلام” yang berarti seorang anak yang telah mencapai usia balighnya, akan tetapi masih diragukan kebaligannya.

Namun bagaimana dengan penggunaan sumpah dalam Al-Qur’an? Kata yang berasal dari huruf ح, ل dan ف dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 13 kali dan menunjukkan arti pelanggaran sumpah. Bahkan biasanya disandangkan kepada orang-orang munafik. Sebagai contoh penggunaan kata hilf dalam al-Quran terdapat pada QS. At-Taubah ayat 42:

Penggunaan dalam Al-Qur’an

وَسَيَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ࣖ ٤٢ ﴾ ( التوبة/9: 42)

Artinya: “Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (At-Taubah/9:42)

Baca Juga  Khianat dalam Al-Qur'an Perspektif Quraish Shihab

Contoh lainnya terdapat pada QS. Al-Mujadilah ayat 18:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيَحْلِفُوْنَ لَهٗ كَمَا يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ عَلٰى شَيْءٍۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ ١٨ ﴾ ( المجادلة/58: 18)

Artinya: “(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa mereka orang-orang pendusta.  (Al-Mujadalah/58:18)

Namun demikian terdapat juga kata halafa yang disandingkan kepada kata ganti orang-orang mukmin, tetapi langsung diikuti dengan penjelasan tentang kewajiban membayar  kafarat sumpah. Sebagai contoh dalam QS. Al-Ma’idah ayat 89:

ذٰلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْ ۗوَاحْفَظُوْٓا اَيْمَانَكُمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٨٩ ﴾ ( الماۤئدة/5: 89)

Artinya: “Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (Al-Ma’idah/5:89)

Kesimpulan

Dari beberapa uraian diatas mempertegas bahwa kata qasam dan hilf dari segi penggunaannya dalam Al-Qur’an berbeda. Penggunaan hilf lebih kepada sumpah yang bersifat ragu serta dusta dan disandangkan kepada orang-orang munafik. Sedangkan penggunaan qasam lebih kepada sumpah yang bersifat asli dan disandangkan kepada orang-orang yang baik. Juga kepada konten atau isi sumpah yang negatif, seperti sumpah palsu.

Penyunting: Ahmed Zaranggi