Ketika mempelajari tentang Ilmu Hadits, tentu saja istilah tabi’in sudah sangat akrab dan familiar. Begitupula ketika mendengar istilah tabaqah, maka pembahasan tentang tabi’in tidak akan luput darinya. Perlu diketahui bahwasannya kata tabi’in merupakan bentuk jama’ dari kata tabi’i atau tabi’, yang secara bahasa dapat diartikan sebagai “pengikut”. Sedangkan menurut istilah ilmu hadis, tabi’in berarti orang yang bertemu dengan sahabat, satu orang atau lebih. Kebanyakan ulama’ hadis berpendapat bahwa tabi’in adalah setiap orang yang pernah bertemu dengan sahabat, meskipun tidak sampai bergaul dengan mereka.
Selain sahabat, tentu pada generasi tabi’in ini juga banyak sekali kisah-kisah teladan dan pengetahuan yang bisa diamalkan. Di antaranya adalah kisah-kisah perawi dalam generasi tersebut. Perawi-perawi pada periode tabi’in sangat banyak sekali, di antaranya adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri, Saad bin Jubair, Imam Abu Hanifah, Hasan Basri, dan Muhammad bin Syirin. Mereka merupakan beberapa tabi’in yang masyhur dalam dunia hadits. Tentu saja mereka mempunai kisah unik tersendiri dalam kehidupannya. Kali ini, penulis akan membahas kisah dan keistimewaan dari salah satu tabi’in masyhur tersebut, yaitu Imam Abu Hanifah.
Imam Abu Hanifah Sang Perawi Hadits
Perlu diketahui bahwa Imam Abu Hanifah mempunyai nama asli Numan bin Tsabit bin Zutha. Beliau lahir di Kufah pada tahun 80 H/659 M. Ayahnya merupakan keturunan Persia, tetapi sebelum beliau lahir, ayahnya sudah pindah ke Kufah. Beliau wafat pada tahun 150 H/767 M di kota Baghdad. Di kalangan ahli fiqih dan sejarah Islam, beliau dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah.
Keistimewaan-keistimewaan dari Imam Abu Hanifah antara lain, dalam dunia fiqih beliau menjadi pendiri dari Madzhab Hambali, salah satu dari 4 madzhab fiqih dalam Islam. Kecerdasan dan ketakwaan beliau dalam menimba ilmu khususnya dalam dunia fiqih, sudah tidak dapat diragukan lagi. Banyak sekali pujian-pujian dari guru-gurunya bahkan ulama Irak dan sekitarnya pun juga mengakui kecerdasan beliau.
Selain kepandaian dalam bidang fiqih, salah satu keistimewaan beliau juga terlihat dalam dunia hadits. Kecerdasan beliau dalam dunia hadits juga mengimbanginya dalam dunia fiqih. Bahkan beliau mempelajari ilmu fiqih dan ilmu hadits sekaligus dari Atha’, Nafi bin Harmaza, Hammad bin Abu Sulaiman, Amr bin Dinar, dan maisih banyak lagi. Karena beliau belajar tentang ilmu hadits, sehingga beliau juga menjadi salah satu periwayat hadits yang masyhur pada masanya. Diantara sahabat-sahabat yang meriwayatkan hadits darinya adalah Abu Yusuf, Zuhar, Abu Muthi, Al-Balkhi, dan lain-lain.
Akan tetapi, meskipun beliau mahir dalam bidang ini beliau bukanlah termasuk perawi yang banyak meriwayatkan hadits Nabi saw. Hal ini menjadi akurat karena ulama’ mutaakhirin sendiri menganggapnya sebagai salah satu perawi yang tidak banyak meriwayatkan hadits (muqillun fii al-hadits).
Pendapat Para Ulama
Nah, untuk membuktikan kecakapan dan kecerdasan beliau, berikut adalah beberapa tanggapan sekaligus penilaian dari para ulama’tentang kemampuan dan akhlaknya dalam mencari ilmu dan mengamalkannya.
- Imam Syafi’i pernah berkata : “Dalam masalah ilmu fiqih, masyarakat banyak yang cenderung pada Imam Abu Hanifah.” (Sahliono, 1999, 122).
- Ibnu Mubarak juga berkata : “Orang yang paling ahli di bidang ilmu fiqih adalah Imam Abu Hanifah, dan saya belum pernah mendapatkan ilmu fiqih yang seperti karyanya. Seandainya Allah tidak menciptakan Imam Abu Hanifah, niscaya aku menjadi orang awam. Ia adalah seorang wara dan dapat memecahkan berbagai persoalan.”(Sahliono, 1999, 123).
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat dilihat bahwa Imam Abu Hanifah mempunyai banyak keistimewaan. Keistimewaan yang paling menonjol terlihat dari kecerdasannya menguasai dua bidang keilmuan, yakni ilmu fiqih dan juga ilmu hadits.
Editor: An-Najmi




























Leave a Reply