Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Belajar dari Rahasia Kepemimpinan ala Raja Nabi Sulaiman

sulaiman
Sumber: detik.com

Al-Qur’an telah mengabadikan terdapat seorang pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat-rakyatnya. Pemimpin tersebut bernama Sulaiman, ia sudah sejak kecil sudah dipercayai untuk mengambil keputusan dalam menghakimi rakyatnya.  Namun ia juga seorang Nabi dan Raja yang diberi kelebihan untuk memimpin manusia, jin, dan hewan.

Biografi Nabi Sulaiman

Menurut Al-Hafiz Ibn Asakir, Sulaiman memiliki nama lengkap Sulaiman bin Daud bin Aysya bin Abir bin Nakhsyun bin Umainah Adab bin Iram bin Hasrum bin Farish bin Yahudza bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, Abu Rabi’, Nabi Allah Putra Nabi Allah.

Sumber informasi tentang kelahiran Sulaiman berbeda-beda. Sebagian sumber mengatakan bahwa Sulaiman lahir sekitar tahun 975 SM dan wafat 935 SM. Sedangkan sumber lain mengatakan bahwa Sulaiman lahir pada tahun 989 SM dan wafat pada tahun 923 SM. Dari kedua pendapat tersebut tampaknya pendapat terakhir yang mendekati benar. Sebab usia Sulaiman tidak terlalu Panjang, hanya 66 tahun. Namun, banyak sumber yang juga mengatakan bahwa umur Sulaiman tidak sampai 60 tahun. Dan menurut ahli sejarah, Sulaiman menjadi raja ditanah Kan’an selama 40 tahun alias sampai ia wafat. Sulaiman wafat di Rabhaam, Baitul Maqdis, Palestina (Jerussalem).

Nabi Sulaiman adalah salah satu Nabi yang berasal dari Bani Israil yang telah Allah berikan berupa anugerah menjadi Nabi yang memiliki sebuah pemerintahan.

Nabi Daud memiliki banyak putra, namun dari putra-putranya tersebut tidak ada yang dianggap mampu meneruskan tahta kerajannya. Sehingga beliau memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang putra yang dapat mewarisi tahta kerajaannya. Kemudian Allah menganugerahkan Sulaiman.

Baca Juga  Mengintegrasikan Nilai Kepemimpinan Al-Qur'an Di Indonesia

Kecerdasan Nabi Sulaiman

Sejak nabi Sulaiman masih kanak-kanak, yaitu di usianya yang masih ke sebelas tahun, ia telah menampakkan tanda-tanda kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian didalam mempertimbangkan dan mengambil suatu keputusan. Hal ini terdapat dalam ayat al-Qur’an surat al-Anbiya’ ayat 78-79:

 وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ(28)

(29)فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِين

(28) Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.

(29) Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami lah yang melakukannya. (QS. al-Anbiya’ ayat 78-79)

Setiap Nabi Daud, ayahnya Sulaiman menududuki tahta kerajaan Bani Israil, Sulaiman selalu mendampingi ayahnya disetiap sidang peradilan yang diadakan untuk menangani perkara-perkara perselisihan dan persengketaan yang terjadi didalam masyarakat. Nabi Daud sengaja membawanya untuk menghadiri siding-sidang peradilan serta menyekutuinya didalam menangani urusan-urusan kerajaan untuk melatihnya serta menyikapinya sebagai putra mahkota yang akan menggantikannya memimpin kerajaan. Hal ini karena Sulaiman lah yang terpandai diantara saudaranya meskipun Sulaiman lebih muda dantara saudara-saudara lainnya.

Ketika itu Nabi Daud duduk untuk menghakimi persoalan yang terjadi diantara rakyatnya. Maka datanglah seorang lelaki pemilik kebun bersama seorang laki-laki lain. Pemilik kebun bercerita bahwa kambing lelaki ini telah merusak kebun hamba dimalam hari dan memakan semua buah anggur yang ada didalamnya. Kemudian lelaki pemilik kambing itu mengakui kebenaran pengaduan pemilik kebun bahwa kambing-kambingnya telah merusak kebunnya. Dalam perkara ini Nabi Daud memberi keputusan agar pemilik kambing memberikan kambingnya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi atas kebun yang telah dirusaknya.

Baca Juga  Urgensi Mempelajari Ilmu Tahsin dalam Membaca Al-Qur'an

Mendengar keputusan itu Sulaiman yang selain mewarisi ilmu ayahnya juga telah diajari Allah ilmu kebijaksanaan. Kemudian Suliman mengajukan keputusannya agar pemilik kambing ini mengambil kebun orang ini, kemudian memperbaikinya dan menanamnya sampai tumbuh lagi tanaman anggurnya. Sementara pemilik kebun ini boleh mengambil kambing orang ini agar dapat mengambil bulu dan susunya. Jika pohon-pohon anggurnya telah besar dan kebun itu baik Kembali seperti semula, pemilik kebun bisa mengambil kebunnya dan pemilik kambing bisa meminta kambingnya kembali.

Keputusan yang diusulkannya kemudian diterima baik oleh kedua yang menggugat dan digugat dan juga disambut oleh para orang yang menghadiri sidang dengan rasa kagum terhadap kecerdasan dan kepandaian ia yang walaupun usianya masih muda, namun sudah menunjukkan kematanga berfikir dan keberanian melahirkan pendapat walaupun tidak sesuai dengan pendapat ayahnya.

Rahasia Kepemimpinan Nabi Sulaiman

  • Pengetahuan sebagai pondasi utama

Rahasia pertama ini terdapat dalam ayat al-Qur’an surat an-Naml ayat 15:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman”.

Berdasarkan ayat tersebuut telah terbukti bahwa Allah telah memberikan ilmu pengetahuan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Artinya Allah telah memberikan beliau ilmu pengetahuan, sebagaimana pengetahuan yang dimiliki sang ayah. Salah satu bukti kehebatannya terlihat ketika iakecil mempunyai solusi atau pemecahan masalah di antara dua orang yang berselisish menghadap Nabi Daud.

Berdasarkan pernyataan tersebut terdapat suatu hikmah yang bisa dipetik , yaitu bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang bijaksana dan adil, ilmu pengetahuan harus jadi fondasi utamanya. Dengan begitu harta dan tahta akan mengikuti orang yang berilmu.

  • Melalui proses kaderisasi yang tepat
Baca Juga  Potret Kepemimpinan Nabi Sulaiman

Kaderisasi adalah serangkaian upaya untuk meningkatkan kualitas kader sehingga bisa menjadi pengganti bagi pemimpin sebelumnya, atau disebut juga calon pewaris. Biasanya istilah kader digunakan dalam suatu organisasi. Yaitu generasi baru untuk menggantikan generasi lama.

Hubungan kaderisasi dengan kepemimpinan Nabi Sulaiman yaitu kepemimpinannya melalui proses kaderisasi yang sangat baik oleh ayahnya. Sejak kecil ia telah dipersiapkan untuk menjadi penggantinya. Hal ini terdapat pada ayat al-Qur’an surat An-Naml ayat 16:

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.

Editor: An-Najmi