Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Idul Fitri: Mengawal Mindset dalam Pendidikan Diri

Idul Fitri
Gambar: suara.com

Entah kebetulan atau tidak, Idul Fitri Tahun 2022 ini mungkin bertepatan dengan tanggal 2 Mei. Tanggal ini memiliki historis dalam perjalanan bangsa di Indonesia, yaitu Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Idul Fitri memiliki kaitan dengan hakikat kemanusiaan.  Begitu pun Hardiknas memiliki refleksi penting dalam pendidikan di Indonesia.

Idul Fitri meraih hasil pendidikan dari Ramadan. Hardiknas mengingat kembali perjalanan historis dan sosiologis pendidikan nasional. Keduanya memiliki sisi urgensi dalam perjalanan kehidupan manusia.  Pendidikan dengan berbagai filosofis dan dimensinya berkaitan dengan sisi penting dalam kehidupan manusia.

Idul Fitri, Momentum Perbaikan Diri

Idul fitri seperti kita pahami dihubungkan dengan hari raya setelah melaksanakan puasa Ramadan. Ia bukan hanya penyebutan bagi hari raya tertentu, akan tetapi dimaknai untuk kembali kepada kesucian (fitrah). Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, dan ketika ia kembali kepada-Nya diharapkan dalam keadaan suci.

Puasa Ramadan mengantarkan manusia untuk menyadari, mendorong, dan mengimplementasikan berbagai perilaku pada kesucian diri. Ramadan mendidik manusia untuk menyadari hakikat kesucian diri, layaknya awal kelahiran.

Kesucian diri dapat ditandai dengan pengampunan atas perilaku buruk. Kita mengenal sebuah hadis yang masyhur, “Barang siapa yang melaksanakan puasa dengan iman dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lampau diampuni oleh-Nya”.  

Hadis ini mendorong manusia menuju pada kesucian diri dengan cara diampuni dosa dan nistanya oleh-Nya. Manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan. Keimanan yang kokoh melalui implementasi ibadah puasa mengantarkannya pada kedekatan kepada-Nya.

Dalam kaitan ini, Ramadan yang penuh dengan nuansa pendidikan menjadi penting dalam perjalanan kehidupan. Kita ingat bahwa pendidikan adalah menumbuhkankembangkan potensi menuju pada kesempurnaan hidup.

Baca Juga  M. Alfatih Suryadilaga (1974-2021): Sang Guru Sufistik dan Ahli Hadis, Kini Telah Tiada

Melalui pendidikan, potensi akal, jiwa, kalbu, dan jasad diubah sesuai dengan nilai kebaikan dan keluhuran hidup. Akal diarahkan untuk mendalami seluruh keilmuan, jiwa didorong menuju ketenangan dalam naungan-Nya, kalbu dituntun untuk berperilaku baik dalam perasaan diawasi oleh-Nya. Juga jasad dilatih untuk menopang aktivitas dalam koridor keridaan-Nya.

Semua potensi ini diarahkan pada sisi ketundukan dan ketaatan pada perintah-Nya.

Idul Fitri menyuguhkan pesan penting untuk meraih kesucian diri melalui tempaan bimbingan, latihan, dan pendidikan pada potensi kemanusiaan. Sehingga, meraih kemenangan dalam Idul Fitri bukan sekedar selesai pelaksanaan puasa Ramadan. Melainkan ia adalah semangat yang terus terbarukan dalam kontinuitas perbaikan diri.

Mindset untuk Terus Berubah

Perjalanan pendidikan manusia terus mengalami perubahan. Tidak hanya pada sisi filosofis sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan menjadi keniscayaan dalam kurikulum dan pembelajaran. Keduanya menjadi piranti penting dalam perubahan arah tujuan pendidikan.

Kurikulum mengarahkan tujuan, bahan ajar, cara, dan penilaian. Sedangkan pembelajaran diarahkan pada desain dan implementasi keempat komponen tersebut dilaksanakan. Kedua hal ini terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosiologis. Sehingga pendidikan dan pembelajaran menghendaki kebaruan.

Dalam kaitan ini, pembelajaran setidaknya dilandasi oleh mindset untuk selalu berubah menuju pada kebutuhan dan kesempurnaan.

Perubahan menjadi keniscayaan. Ia tidak bisa dielakkan. Pendidikan sejatinya diimplementasikan dengan semangat ini. Ilmu pengetahuan yang terus berkembang menghendaki adaptasi yang luwes dalam implementasi pendidikan. Tidak hanya pada bahan ajar, piranti teknologi menjadi penting dalam mendukung pendidikan.

Seberapa pesat dan berubahnya nuansa pendidikan, mindset yang harus mengawali adaptasi perubahan tersebut.

Ramadan, Idul Fitri dan Perubahan

Ramadan datang silih berganti. Ia menampilkan nuansa yang berbeda dalam setiap putaran waktu. Ramadan diidamkan untuk menyelami perubahan diri. Ia menyediakan konten, cara, dan pengendalian untuk diri agar menuju pada ketakwaan. Hilal yang mengawali cahaya awal Ramadan mengantarkan jiwa bahwa besok harus berubah melalui pendidikan dari-Nya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 67-74: Menyembelih Lembu Betina (1)

Ramadan datang mengubah mindset pada nuansa pendekatan kepada-Nya. Hari-hari biasa di luar Ramadan, diubah menjadi denyutan dan hirupan bulan penuh keberkahan. Inilah mindset yang mentransformasi diri pada ruang dan rongga kebaikannya.

Tentu, hanya sekolah asal lulus, bukan harapan bagi tujuan hidup. Sekolah hanya sekedar mendapatkan ijazah, bukan tahapan dalam kebaikan hidup. Ramadan yang hanya dilaksanakan hanya untuk melewati waktunya, perbuatan yang sia-sia. Ramadan hanya untuk menapaki detik, menit, jam, dan hari, yang berada pada Sya’ban dan Syawal, ibarat angin yang hanya menghembus sekedar agar tidak kepanasan.

Mindset ramadan yang datang setiap tahun harus terus mengalami kenaikan dalam kurva positif. Tidak diharapkan ada kurva yang turun koordinat pada sisi negatif. Ramadan tahun ini, harus lebih baik daripada tahun sebelumnya. Ia bukan hanya dilewati untuk menahan lapar dan haus. Sejatinya Ramadan harus memberikan angin segar dalam perbaikan diri.

Momentum ramadan saat ini tidak boleh disia-siakan. Sebab, belum tentu tahun depan, kita masih menapaki ramadan. Seluruh dimensi kebaikannya dirasakan dengan penuh kesyahduan. Kasih sayang pahala yang berlipat menjadi idamannya dalam setiap zikir dan amal. Kalbu yang terus merasakan getaran simponi yang memetik suara hati.

Ramadan hadir untuk mendidik manusia pada puncak kesadaran. Ramadan menjadi wahana dalam pencerahan diri seorang hamba di hadapan-Nya. Balutan amal saleh dalam syariat, dihiasi dengan kecenderungan diri pada sagara jalan menapaki kepada-Nya (thariqah). Ia berujung pada pencapaian jati diri sejati menurut apa yang dikehendaki oleh-Nya (haqiqat).Wallahu A’lam.

Penyunting: Bukhari