Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Semiotika Barthes: Telaah Kata Rasul dalam Q.S An-Nisa Ayat 80

barthes
Sumber: https://surahquran.com/

Sepanjang sejarah, Allah telah mengutus para Rasul-Nya kepada umat manusia untuk menyerukan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Selain menunjukkan keberadaan-Nya dalam mentauhidkan Allah Swt. tentu mengisyaratkan pula bahwa tolok ukur ketaatan kepada Allah adalah cerminan dari ketaatannya terhadap Rasul. Sebagaimana yang termaktub dalam QS. an-Nisa’ [4]: 80. Dengan demikian, hal ini cukup menarik jikalau dikaji tentang makna Rasul. Secara umum, tidak serta merta disalahkan manakala mengacu pada semiotika Barthes untuk dijadikan sebagai perspektif dalam memahami kata Rasul dalam QS. an-Nisa’ [4]: 80.

Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes dilahirkan pada tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Prostetan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayone. Salah satu sumbangsih Barthes adalah dikenal sebagai pemikir strukturalis yang aktif dalam mempraktekkan model linguistik Saussurean. Serta mencoba menerapkan kajian tentang tanda secara rinci (Kurniawan, Semiologi Roland Barthes, 43).

Melalui sebuah karier yang produktif di berbagai fase budaya, Barthes memasukkan fasyen, fotografi, sastra, majalah, dan musik sebagai tataran keasyikannya dalam mempertanyakan “Bagaimana sebuah makna masuk ke dalam citra/image?”. Dan itulah kunci menuju semiotika (Jane Stokes, How to Do Media and Culture Studies, 76).

Inti semiotika Barthes menyangkut dua tingkatan signifikasi. Tingkatan pertama adalah denotasi. Bermakna relasi antara penanda dan petanda dalam sebuah tanda. Serta tanda dengan acuannya dalam realitas eksternal. Ini menunjukkan pada common-sense atau makna tanda yang nyata dan asli (Roland Barthes, Elemen-Elemen Semiologi, 08-09).  

Tingkatan kedua adalah bentuk, konotasi, mitos dan simbol. Tingkat ini dapat menjelaskan bagaimana mitos-mitos dan ideologi beroperasi dalam teks melalui tanda. Mitos ini menjalankan fungsi naturalisasi, yaitu untuk membuat nilai yang bersifat historis dan kultural. Beserta sikap dan kepercayaan menjadi “alamiah” (Roland Barthes, Elemen-Elemen Semiologi, 09). 

Baca Juga  Ummatan Wasathan dalam Tafsir Buya Hamka

Sisi Terang Makna Denotatif

Dalam mengungkap tingkatan denotatif, secara implisit tentu menyadari bahwa setiap tanda mempunyai makna asli. Begitu pula di dalam QS. an-Nisa’ [4]: 80, bagaimanapun kata Rasul juga memiliki makna asli yang dapat mewakilinya, berikut ayatnya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Artinya: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka(QS. An-Nisa’ [4]: 80).

Kata ar-Rasul di atas, berasal dari kata “risl” yang berarti “inbi’ats” (bangkit, bergerak, dan pergi). Di antara contoh derivasi dari kata ini adalah Rasul yang dimaknai “munba’its” (orang yang berangkat dari utusan). (Ali Muhammad Ash-Shallabi, Nuh wa ath-Thufan al-Azhim; Milad al-Hadharah al-Insaniyyah ats-Tsaniyyah, 94).

Seupa dengan itu, dalam istilah Yunani, “apostole” artinya kerasulan. Arti kata “apostolos” adalah utusan atau Rasul. Sebutan ini, dinisbatkan oleh “seorang utusan”. Secara nilai, tentunya mengandung unsur “orang yang diutus sebagai wakil orang lain, dengan kuasa dan otoritas seorang wakil. Hal ini tentu diperoleh dari orang yang mengutusnya”.

Lantaran demikian, pemaknaan kata Rasul termaktub dari perwakilan terhadap seorang yang membawa jati dirinya sebagai utusan. Sehingga, tentu saja dapat dipahami pula bahwa tingkatan denotatif dari kata Rasul dalam QS. an-Nisa’ [4]: 80 mengandung makna “seorang utusan”.

Mengentaskan Makna Terdalam dari Konotatif

Kata Rasul yang disingkap dalam tingkatan kontotatif, tentu tak meninggalkan keterarahan pada hubungan internal teks Al-Qur’an. Karena, konotatif sendiri mengandung unsur pertandaan yang di dalamnya sangat beroperasi makna yang tidak eksplisit atau tidak pasti. (Andi Rosa, Islam dan Sains dalam Kajian Epistemologi Tafsir Al-Qur’an, 169).

Baca Juga  Mufasir Progresif (2): Isu-Isu yang Menjadi Perhatian

Menurut Hamka, Rasul itu telah diambil Tuhan sebagai saluran untuk menyampaikan perintah-Nya kepada manusia. Karena manusia sendiri, masing-masingnya tidak serta merta kuat menerima sebuah wahyu dari malaikat Jibril. Adapun Rasul itu sendiri, setiap wahyu turun, justru senantiasa mengeluarkan keringat dikarenakan begitu berat.

Seperti dalam satu riwayat, bahwa Rasulullah pernah menghimpitkan kakinya kepada Zaid yang sedang duduk didekatnya, di kala wahyu turun. Dengan Zaid sendiri, olehnya merasakan beratnya tubuh Rasulullah yang menimpa bagian tubuhnya. Setelah Jibril meninggalkan tempat, barulah Zaid dapat menarik nafas dan merasa ringan (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 05/1320).

Sementara dalam Tafsir Sya’rawi, Rasul adalah seorang yang menyampaikan hukum-hukum dari Allah dengan tujuan untuk mengontrol kehidupan manusia di muka bumi. Mutlaknya, sebagai pembeda antara istilah Nabi, tentu Rasul bermakna seorang yang diutus dengan membawa syariat baru yang berbeda dari sebelumnya (M. Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi, 03/230).

Skema Mitos

Melihat beberapa makna konotasi Rasul yang di atas, penelusuran skema mitos sudah menjadi pemahaman tersendiri untuk disingkap sebagai pembacaan konteks-sosio. Titik reflektif dari asbabun nuzul dalam QS. an-Nisa’ [4]: 80, salah satunya lewat riwayat yang dikemukakan Muqatil bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, yaitu:

مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللّه, وَمَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللّه

Artinya: “Barangsiapa mencintaiku berarti dia mencintai Allah, dan barangsiapa taat kepadaku maka dia taat kepada Allah

Mendengar perkataan Nabi seperti ini, orang-orang munafik berkata, “Tidaklah kalian mendengar apa yang dikatakan lelaki itu? Dia telah mendekati kemusyrikan. Bahkan, melarang kita menyembah selain Allah. Namun sejatinya mengharapkan kita untuk menganggapnya sebagai Tuhan, selayaknya perlakuan orang Nasrani terhadap Isa” (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, 03/174).

Baca Juga  Hak Asasi Hewan dan Kisah Burung Hud Hud dalam Al-Quran

Sementara dalam konteks-sosio, kemudian Allah menginformasikan sikap orang munafik yang kelihatannya setuju dan taat kepada Nabi Muhammad. Mereka berkata, “Tugas kami adalah taat kepadamu” atau “Perintahmu akan kami taati”. Namun perkataan ini hanya kebohongan belaka yang hanya sekedar ketaatan luar saja (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, 03/176).

Kesimpulan

Dari pemaparan yang di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Rasul dalam QS. an-Nisa’ [4]: 80 itu langsung dinisbatkan pada Nabi Muhammad saw. Di saat yang sama, nilai yang terkandung di dalamnya tentu tak terbesit dari lingkar ketaatan terhadap Rasulullah. Bagaimana pun, inilah wasilah supaya menaati Allah. Akhir kata, wallahu ‘alamu bishawab.

Penyunting: Ahmed Zaranggi