Bukhara menjadi nama yang terkenal. Bukan hanya karena ia terletak di daerah Transoxania. Atau juga karena disebut termasuk daerah ma wara’ al-nahr (negeri di luar sungai). Nama Bukhara, secara keilmuan, menjadi masyhur karena di sana dilahirkan seorang muhadits yang kitab Shahih-nya paling valid di dunia, bahkan rujukan kedua setelah Al-Qur’an, yaitu Imam al-Bukhari. Imam Muhammad bin Ismail, menisbahkan dirinya al-Bukhari, karena ia lahir di tempat ini.
Kota Bukhara
Kota ini layaknya Baghdad. Ia menjadi pusat keilmuan Islam. Kota ini tempat kelahiran muhadits terkenal, Imam al-Bukhara. Selama ratusan tahun berdiri masjid dan madrasah. Bahkan, perkembangan madrasah menjadi ciri bahwa pendidikan Islam pernah mencapai tingkat tinggi pada masa lalu. Catatan sejarah, kota ini sudah dihuni oleh manusia sejak sebelum zaman Masehi.
Kota ini berkembang pesat setelah Arab-Muslim menguasai kota ini. Hal ini terjadi pada awal abad ke-8 M. Masjid menjadi institusi Islam awal untuk ibadah dan pendidikan. Kemudian berkembang menjadi madrasah. Kota ini berada pada kekuasaan Abbasiyyah. Namun, pada awal abad 9 M, kota ini diambil alih dinasti beraliran Sunni Persia, yaitu Samaniyah. Bukhara menjadi ibukota Samaniyah.
Perkembangan Bukhara mendorong kontribusi tinggi pada ilmu pengetahuan. Istana memiliki perpustakaan. Perpustakaannya banyak menyimpan buku berharga dengan koleksi yang banyak dan beragam. Sehingga, ia dimanfaatkan oleh para ilmuwan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu ilmuwan muslim terkenal adalah Imam al-Bukhari.
Kitab al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari
Kitab ini sangat masyhur dalam kajian hadis. Karya yang ditulis oleh Imam al-Bukhari menempati urutan kesahihan tingkat pertama menurut jumhur ulama. Kitab ini ditulis selama 16 tahun. Hadis yang terkumpul pada kitab ini diseleksi dari 600ribu hadis yang ia hapal.
Al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari memuat 9.082 hadis yang sebagiannya berulang-ulang, versi M Ajaj al-Khatibi, atau 7593 versi Muhammad Fuad Abdul Baqi. Perbedaan ini mungkin berdasarkan pada hadis pengulangan yang relatif memiliki sanad dan matan yang sama. Sehingga jumlahnya menurut kedua ulama ini, cukup berbeda.
Kitab ini disusun berdasarkan bab-bab khusus. Sehingga pembaca, kalau ingin menemukan hadis pada kajian tertentu, dapat merujuk langsung pada bab yang tersedia.
Hadis yang dikumpulkan pada kitab ini diseleksi dengan ketat. Proses seleksi yang ketat ini dapat dicirikan dari ratusan ribu hadis yang dihapal menjadi berjumlah ribuan. Sebuah pekerjaan keilmuan yang luar biasa. Seleksi ini perlu ketelitian, sistematis, dan penelusuran yang ketat terhadap para perawi hadis. Kita bisa menyaksikan, satu hadis saja, sanadnya memiliki untaian perawi yang banyak, bagaimana kalau hadis ini ribuan atau bahkan ratus ribuan? Kecerdasan dan ketelitian yang luar biasa menghasilkan kumpulan hadis yang valid. Tak salah, sebagian ulama memandang derajat kesahihan hadis pada kitab ini lebih unggul dibandingkan dengan karya lainnya.
Selain pada sisi validitas hadis, penjelasan terhadap kitab ini dalam bentuk syarah menjadi perhatian para ulama. Kitab syarah yang masyhur dan cetakannya banyak menyebar di Indonesia adalah ‘Umdah al-Qari karya al-‘Aini dan Fath al-Bari karya al-Asqalani.
Karya dalam Bidang Ilmu Lainnya
Imam al-Bukhari tercatat memiliki karya yang cukup banyak, selain kitab hadisnya. Para pemerhati karya ulama mencatat beberapa karyanya. Dalam bidang akhlak perspektif hadis terdapat kitab al-Adab al-Mufrad, yang berisi mengenai akhlak dan jalan hidup. Dalam bidang fikih, ia pernah menulis kitab Raf’ al-Yadain fi al-Shalat (mengangkat kedua tangan dalam salat dengan memaparkan secara jelas riwayat dan hadis berkenaan dengannya. Juga, menulis tentang al-Qira’ah Khalf al-Imam, yang membahas bacaan Al-Qur’an bagi makmum dalam salat dengan alasan yang kuat. Tentang hibah tak luput dari kajiannya, namun menurut Waraqah Ibn Abi Hatim, kitab ini tak diketahui jejaknya. Kitab lain yang dinyatakan hilang lagi adalah al-Musnad al-Kabir (versi Haji Khalifah), al-Mabsuth, al-Wihdan, dan al-‘Ilal.
Dalam bidang kajian rijal al-hadits, kitab yang ditulisnya cukup banyak. Al-Tarikh al-Kabir berupa kajian rinci tentang biografi perawi yang disusun secara alpabet. Kemudian, Al-Tarikh al-Ausath membahas kisah hijrah awal ke Habsyah, kehidupan nabi periode Mekah dan Madinah, sahabat yang wafat pada zaman Nabi Saw, khulafa rasyidun, juga tentang para perawi sampai pada zamannya. Al-Tarikh al-Shaghir membahas tentang para sahabat. Al-Kuna menjelaskan nama perawi berdasarkan nama kunyah (julukan dengan artikel Abu atau Umm) yang tidak diketahui nama aslinya. Al-Dhu’afa al-Kabir merinci nama dan biografi perawi yang lemah dengan bahasan ringkas. Pembahasan ini diperluas olehnya pada kitab al-Dhu’afa al-Kabir.
Dalam bidang tafsir Al-Qur’an, tercatat kitab al-Tafsir al-Kabir, namun hilang, seperti diungkapkan oleh salah satu muridnya yaitu, Muhammad bin Yusup al-Farbari. Kajian tentang teologi Islam pernah pula ditulisnya. Kitabnya adalah Khalq Af’al al-‘Ibad, yang menjelaskan perbedaan kalam Allah dengan manusia. Kalam Allah adalah sifat, bukan makhluk. Isi kitab ini membantah pemikiran Muktazilah dan Jahmiyah.
Kesimpulan
Melihat karya yang cukup banyak, Imam al-Bukhari adalah ulama ensiklopedik. Selain hapalan hadis, ia menguasai beragam ilmu keislaman, juga sirah atau sejarah para perawi. Tahu dan rinci mengenai perawi bukan perkara mudah. Imam al-Bukhari sangat jelas dalam menuliskan biografi para perawi. Produktivitas keilmuan atau bahkan temuan ilmu seperti ini menunjukkan bahwa Islam memiliki cakrawala pemikiran yang luas dan mendalam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi






























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.