Al-Qur’an sebagai kitab suci pedoman untuk kehidupan umat manusia tentu berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Kitab ini bisa sampai pada kehidupan kita di zaman ini tidak terlepas dari pemeliharaan dan penjagaan yang dilakukan oleh rasul dan sahabat-sahabatnya pada zaman dulu. Kemurnian dan keterjagaan Al-Qur’an menjadi penting.
Al-Qur’an memang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Meskipun begitu Al-Qur’an akan hilang jika tidak ada perjuangan dari rasul dan para sahabat zaman dulu. Oleh karena itu, penting kiranya kita sebagai muslim untuk mengetahui bagaimana proses yang dilakukan oleh rasul dan para sahabatnya dalam rangka memelihara dan menjaga kemurnian Al-Qur’an itu dan bagaimana peranan kita sebagai muslim penerus untuk memelihara dan menjaga warisan tersebut.
Al-Qur’an itu dibaca, dihafal dan ditulis
Menurut Fatihuddin dalam bukunya yang berjudul Sejarah Ringkas Al-Qur’an: Kandungan & Keutamaannya menjelaskan pada awalnya, bangsa arab sebagai tempat turunnya Al-Qur’an adalah salah satu bangsa yang buta huruf sehingga sedikit sekali di antara mereka yang pandai menulis dan membaca. Kendati bangsa arab pada waktu itu buta huruf, tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Sebab pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan sya’ir-sya’ir dari pujangga-pujangga dan penya’ir-penya’ir mereka, ansab (silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain sebagainya adalah kepada hafalan semata.
Oleh karena itu, nabi mengambil suatu cara yang ‘amali (praktis) yaitu cara yang selaras dengan keadaan saat itu dalam mensyi’arkan pemeliharaan dan penjagaan Al-Qur’anul Karim. Cara itu adalah ketika tiap-tiap diturunkan ayat-ayat Al-Qur’an, nabi menyuruh menghafalnya dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar (kurma), dan apa saja yang bisa disusun dalam suatu surat, artinya nabi menginstruksikan untuk menertibkan ayat-ayat itu kedalam suatu surat.
Selain intruksi tersebut, instruksi lainnya yang tak kalah penting adalah hanya Al-Qur’an saja yang boleh dituliskan. Sedangkan hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut nabi dilarang untuk ditulis. Larangan ini dimaksudkan agar Al-Qur’anul karim itu terpelihara kemurnian teksnya, tidak tercampur aduk dengan yang lain-lain.
Huruf, Pena dan Tulisan
Huruf, pena dan tulisan memiliki penghargaan yang tinggi di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah pada surah Al-Qalam ayat 1 dan surah Al-‘Alaq ayat 3-5.
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُون
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. (QS. Al-Qalam ayat 1)
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَم () الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَم () عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(5) (QS. Al-‘Alaq ayat 3-5)
Nabi juga menganjurkan supaya Al-Qur’an itu dihafal, dibaca selalu dan diwajibkan membacanya dalam salat. Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan menggembirakan nabi. Beliau berkata:
“Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada'(orang-orang yang mati syahid)“.
Karena itu, bertambahlah keinginan untuk belajar menulis dan membaca. Dan bertambah pula mereka yang pandai menulis dan membaca itu sehingga banyaklah orang-orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah diturunkan. Nabi sendiri mempunyai beberapa orang penulis yang bertugas menuliskan Al-Qur’an untuk beliau. Para penulis terkenal itu antara lain ‘Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah. Tentu saja yang terbanyak menuliskan ialah Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah.
Dari sini, dapat dikategorikan tiga unsur tolong menolong dalam memelihara Al-Qur’an yang telah diturunkan di masa Nabi yaitu. Pertama, hafalan dari mereka yang hafal Al-Qur’an. Kedua, Naskah-naskah yang dituliskan untuk Nabi. Ketiga, Naskah-Naskah yang dituliskan oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.
Beberapa model pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an di era sekarang
Sedangkan di era sekarang, di Mesir misalnya, di sekolah-sekolah Awaliyah diwajibkan menghafal Al-Qur’an. Ketika hendak menamatkan pelajaran di sekolah tersebut dan hendak meneruskan ke sekolah-sekolah Mu’allimin, maka hafalan mereka tentang Al-Qur’an itu selalu diuji, sehingga para pelajar lepasan sekolah Mu’allimin telah hafal Al-Qur’an seluruhnya dengan baik. Untuk mengambil ijazah sekolah persiapan Darul Ulum, para pelajar diuji juga dengan hafalan Al-Qur’an. Sementara di tingkat Ibtida’iyah dan Tsanawiyah di Al-Azhar juga diwajibkan menghafal Al-Qur’an. Begitu pula halnya di negara-negara Arab lainnya, kegiatan menghafal Al-Qur’an itu dapat dilihat dengan jelas.
Sedangkan di indonesia, banyak pondok, surau, pesantren, dan madrasah yang telah mengusahakan untuk hafal Al-Qur’an. Umat Islam merasa bahwa menghafal Al-Qur’an Karim adalah suatu ibadah yang besar. Orang-orang yang hafal Al-Qur’an amat ditinggikan dan dihormati. Di indonesia misalnya sering diadakan musabaqah (perlombaan) membaca Al-Qur’an yang dilakukan baik oleh anak-anak ataupun orang-orang dewasa. Sebagai contoh nama Jami’atul Qurraa’ wa Huffazh sudah tidak asing lagi di Indonesia.
Dengan usaha-usaha yang disebutkan di atas, maka Al-Qur’an itu dapat terjaga dan terpelihara kemurnian teksnya sehingga sampailah kepada kita sekarang dengan tidak ada perubahan sedikitpun juga dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Pada tiap zaman dan masa, Al-Qur’an dihafal oleh jutaan umat Islam dan ini adalah salah satu inayat Tuhan untuk menjaga Al-Qur’an. Dengan demikian terbuktilah firman Allah pada surah Al-Hijr ayat 9.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Peranan kita sebagai muslim penerus untuk memelihara dan menjaga Al-Qur’an
Sudah jelas sekali dengan apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita dalam memelihara dan menjaga kemurnian Al-Qur’an, yaitu dengan membaca, menghafal dan menuliskannya. Untuk membaca, saya rasa kita semua pasti melakukannya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa sering kita membacanya? Apakah sehari sekali, seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan setahun sekali? Semoga kita tidak termasuk pada golongan yang terakhir ya dan semoga kita dapat membaca Al-Qur’an secara rutin saban hari.
Untui meghafal, banyak sekali wadah bagi kita jika ingin fokus menghafal. Sebagai muslim, saya rasa tidak susah dalam menghafal Al-Qur’an. Banyak kok yang sudah hafal beberapa juz Al-Qur’an bahkan banyak juga yang yang sudah hafal 30 juz. Namun kadang yang sering terlupa adalah bagaimana kita bisa mengulang-ulang hafalan kita. Sebab seorang nabi pun oleh malaikat jibril diadakan ulangan (repetisi) sekali setahun. Di waktu ulangan itu, nabi disuruh mengulang memperdengarkan Al-Qur’an yang telah diturunkan.
Di tahun beliau wafat, ulangan itu diadakan oleh jibril dua kali. Nabi sendiripun sering pula mengadakan ulangan itu terhadap sahabat-sahabatnya. Para sahabat itu disuruh beliau membacakan Al-Qur’an itu di mukanya untuk membetulkan hafalan atau bacaan itu. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an kita. Karena dengan repitisi itu hafalan akan menjadi kuat.
Penjagaan Tulisan
Untuk yang ditulis, kita tidak perlu bingung. Karena kemurnian Al-Qur’an sekarang sudah tertulis satu mushaf yang utuh dan di setiap negara sudah ada bagian yang bertugas untuk memeriksa dan mentasheh Al-Qur’an. Di indonesia misalnya sudah ada Departemen Agama yang bertugas untuk memeriksa dan mentasheh Al-Qur’an yang akan dicetak dan yang akan diedarkan, yang dinamai “Lajnah Pentasheh Mushaf Al-Qur’an“, yang telah ditetapkan dengan penetapan Menteri Agama No. 37 Tahun 1957.
Dengan demikian tugas menulis itu bukan menuliskan Al-Qur’an seperti yang dilakukan zaman dulu, akan tetapi menulis dalam rangka memahami makna Al-Qur’an itu sendiri. Yang mana hal itu sering disebut sebagai tafsir Al-Qur’an atau pemahaman terhadap Al-Qur’an. Dengan kita menulis tafsir Al-Qur’an, apa yang ada di Al-Qur’an dapat kita pahami dan juga dapat kita sebarluaskan untuk dipahami juga oleh orang lain. Waallahu’alam bishowab.
Penyunting: Ahmed Zaranggi


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.