Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Tematik: Hakikat Orang Menang dalam Al-Quran

Menang
Gambar: iphincow.com

Kemenangan di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan lafal فلح yang disebutkan sebanyak 40 kali. Dengan derivasi kata yang berbeda. Kata فلح berasal dari ف ل ح yang dasarnya memiliki dua arti yaitu membelah atau membajak tanah. Sedangkan arti yang kedua adalah beruntung dan kekal.

Dari arti yang pertama yaitu membelah atau membajak tanah. Maka bisa dikatakan bahwa yang dimaksud فلاح mempunyai arti petani. Karena dia mencangkul untuk membelah tanah kemudian menanam benih. Benih yang ditanam petani menumbuhkan buah yang diharapkannya, dan hal tersebut tentu melahirkan kebahagiaan yang juga menjadi salah satu makna dari فلح.

Hakikat Menang dalam Al-Quran

Salah satu bentuk dari lafal فلح adalah aflaha ( اَفْلَحَ ) yang merupakan fi’il madzi dan disebutkan sebanyak 4 kali dalam 4 surah. Salah satunya ada dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun ayat 1, yang berbunyi:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ

Artinya: “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman”.

Kalimat “beruntung” disitu bisa diartikan dengan menang. Menang adalah bukti bahwasannya perjuangan telah dilalui dalam menghadapi musuh atau berbagai kesulitan. Orang tidaklah sampai kepada menang kalau dia belum melalui dan menyelesaikan rintangan yang terdapat di tengah jalan.

Di dalam ayat tersebut juga diberi keterangan bahwasannya kemenangan pastilah didapat oleh orang yang beriman. Hal itu ditegaskan dengan kalimat “qod” yang terletak di pangkal fi’il madzi (Aflaha). Menurut undang-undang tata bahasa Arab adalah menunjukkan kepastian akan sesuatu.

Allah Swt. menyebutkan beberapa sifat agar menjadi seorang beriman yang beruntung atau menang dan mencerminkan pula usaha-usaha penyucian diri. Hal tersebut dijelaskan dalam ayat selanjutnya yaitu ayat 2-9.

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ

 Artinya: “(Yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya”.

Syarat-Syarat Menjadi Menang

Dijelaskan bahwa usaha yang pertama harus dilakukan orang menang adalah bersikap khusyuk. Sikap ini ditekankan oleh agama dalam sholat yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Serta menghadirkan nuansa hati atas kebesaran Allah SWT. Sehingga dengan kekhusyukan itu, manusia dapat meresapi makna betapa kecil dan tidak berdayanya diri kita di hadapan Allah swt.

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ

 Artinya: “ Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna”.

Usaha yang kedua adalah orang yang menjauh dari hal-hal yang tidak berguna. Karena hal itu merupakan tanda bahwa ia merupakan seseorang yang memiliki kesungguhan dalam menyibukkan diri. Jika di dalam sholat seseorang harus berpaling dari sesuatu kecuali Tuhannya, maka wajarlah jika di luar sholat pun manusia harus berpaling dari segala hal yang tidak bermanfaat.

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَاعِلُوْنَ ۙ

Artinya:” Dan orang yang menunaikan zakat”.

Mendermakan Harta

Usaha yang ketiga dalah menunaikan zakat. Zakat secara bahasa adalah membersihkan jiwa dari syirik dan hal-hal kotor. Menunaikan zakat merupakan bentuk penyucian jiwa dari kotoran dan kemaksiatan. Membersihkannya dari segala bentuk penyakit seperti hati yang semakin iri, dengki, benci dan sebagainya. Terkadang sifat lalai manusia membuat tercampurnya hal-hal syubhat dan haram pada hartanya. Maka, perlu mensucikannya dengan cara bersedekah atau berzakat.

Baca Juga  Tafsir atas Delapan Ashnaf Zakat dalam Al-Qur'an

Keimanan yang mantap dalam diri seseorang akan mendorong pandangannya untuk menafkahkan sebagian hartanya. Dalam banyak penelitian, orang yang secara rutin mendonasikan hartanya setiap bulan cenderung akan memiliki kehidupan yang lebih bahagia dibandingkan orang yang tidak melakukan hal yang serupa.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Artinya: “Mereka ( orang-orang yang beruntung ) adalah orang-orang yang menjaga kemaluan mereka . Kecuali kepada pasangan atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barang siapa mencari di balik itu, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas”.

Menyucikan Diri

Dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis, menurut Islam bukanlah sesuatu yang tercela dan kotor selama pemenuhannya tidak melanggar ketentuan agama. Usaha yang ke empat dalam tahap penyucian diri adalah orang-orang beriman harus menjaga kemaluannya dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt, seperti zina dan perbuatan keji lainnya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki.

Misalnya melakukan tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Melakukan hubungan intim ketika sedang menstruasi ataupun menanam benih tidak pada tempatnya dan hal lain seperti mengeluarkan sperma dengan menggunakan tangannya sendiri.

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ

Artinya: “Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya”.

Usaha orang beriman yang selanjutnya adalah menjaga kesakralan amanah dan kesucian janji. Saat kita membuat janji dengan seseorang itu berarti adanya satu ikatan yang harus dipenuhi antara satu orang dengan orang lain. Jika salah satu pihak yang melanggar perjanjian tersebut maka akan merusak kepentingan pihak lainnya.

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ

Artinya: “Serta orang yang memelihara salatnya”.

Penutup

Setelah ayat kedua yang menjelaskan tentang satu aspek dalam sholat yaitu kekhusyukan. Pada ayat ini dijelaskan aspek lainnya yaitu perlunya memelihara waktu beserta rukun, syarat dan sunnatnya. Ayat ini mengindikasikan agar seorang mukmin memiliki sifat disiplin atas waktu.

Baca Juga  Etika Bergaul yang Baik Menurut Al-Qur'an

Sama halnya seorang atlet akan senantiasa disiplin dalam mengalokasikan waktu untuk berlatih dan menjaga kondisi fisiknya setiap hari. Jika ia tidak disiplin dalam berlatih tentu akan berpengaruh pada kondisinya ketika pertandingan. Begitu pula seorang mukmin tentu akan disiplin dalam melaksanakan sholat pada waktunya, karena ibadah merupakan kebutuhan rohani yang harus ditunaikan setiap orang.

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوَارِثُوْنَ ۙالَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya: “Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.

Setelah menyebutkan sifat-sifat orang mukmin pada ayat sebelumnya, maka barangsiapa yang mampu melakukan hal-hal yang telah disebutkan dalam beberapa ayat di atas mereka itulah pewaris surga Firdaus, mereka kekal dan menempati tempat mulia di dalamnya.

Penyunting: Bukhari