Ar-raja’ atau harapan adalah suatu fitrah yang melekat pada diri manusia. Karena setiap manusia tentu memiliki potensi untuk berharap dan tentu saja harapannya ialah mengacu kepada hal-hal positif yang membawa kepada perubahan lebih baik.
Memupuk harapan bisa menjadikan hidup seseorang lebih semangat. Sebab, dengan berjuta harapan yang dimiliki dapat menjadikan mereka senantiasa mengusahakan yang terbaik. Mereka berpendapat bahwa hidup ini penuh dengan tujuan-tujuan yang terstruktur sehingga harus diupayakan semaksimal mungkin.
Maka dari itu, berharap merupakan suatu keharusan untuk bisa memacu semangat dalam hidup ini.
Ar-Raja’ dalam Al-Qur’an
Lafadz ar-raja’ dalam bahasa Inggris ialah ‘hope’. Dalam bahasa sehari-hari kita artikan dengan ‘harapan’. Al-Qur’an telah menyebutkan lafaz “ar-raja” beserta derivasinya sebanyak 28 kali. Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk memperdalam pembahasan salah satu ayat tentang harapan, tepatnya pada QS. Al-Kahfi: 110 yang berbunyi:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya: Katakanlah (muhammad), “sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa”. Maka, barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya.
Tafsir QS. Al-kahfi:110 dalam kitab “Taisir Al-Karim Ar-Rahman” yang dikarang oleh Abdurrahman Nashir As-Sa’di yakni Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menegaskan kepada orang-orang kafir dan selainnya bahwas sesungguhnya Nabi Muhammad bukanlah seorang tuhan ataupun sesembahan.
Nabi Muhammad adalah manusia biasa seperti kita. Yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang hal-hal ghaib, tidak juga memiliki pengetahuan tentang perbendaharaan Allah.
Akan tetapi, Nabi Muhammad adalah seorang hamba yang sangat taat menyembah Allah. Allah mengutamakan Nabi Muhammad dengan wahyu yang diberikan kepada beliau. Wahyu tersebut berisikan berita-berita agung untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.
Harapan Terhadap Tuhan
Yang menyerukan bahwa Tuhan kamu sekalian adalah Tuhan yang Maha Esa. Tidak ada yang menyekutui-Nya. Tidak ada yang berhak disembah selain-Nya. Beliau menyeru seluruh manusia kepada perbuatan yang mendekatkan kepada Allah dan kepada balasan yang mulia serta mencegah dari siksa dan hukuman-Nya.
Maka dari itu, barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, maka hendaklah hamba tersebut mengerjakan amalan yang sholih. Menjalankan syari’at Allah dengan sepenuh hati. Disamping itu juga agar jangan menyekutukan Allah ataupun berbuat riya’ dengan apa yang telah dilakukannya. Akan tetapi, berbuatlah baik dengan hati yang murni dan ikhlas lillahi ta’ala.
Dialah orang yang akan mendapatkan apa yang diharapkan itu. Adapun yang menolak dan lari dari perintah Allah tersebut, maka sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang merugi di dunia dan di akhirat. Dan sesungguhnya kedekatannya kepada Tuhan telah hilang dan jauh dari mendapatkan ridha dari Tuhan.
Ar-Raja Perspektif Psikologi
Ar-raja’ atau harapan, menurut seorang psikolog berdarah Amerika yang fokus dalam psikologi positif bernama Charles Richard Synder ialah kemampuan untuk merencanakan jalan keluar dengan upaya mencapai tujuan walau dengan berbagai rintangan dan menjadikannya sebagai motivasi sebagai cara untuk menggapai apa yang diharapkannya. Artinya, ketika seseorang itu memiliki harapan yang besar, maka semakin besarlah semangat dan jiwa optimisme yang ia miliki.
Beliau juga mengatakan bahwa, hope (harapan) ini dapat mempengaruhi mental positif seseorang sehingga dengan keyakinan yang terpupuk tersebut dapat memaksimalkan pencapaian di masa depan. Menurut Snyder,dkk (1997), aspek atau komponen dari pencapaian sebuah harapan itu ada 3 hal, yaitu Goal, Pahtway, dan Agency Thinking. Berikut penjabarannya:
- Goal (tujuan)
Goal atau tujuan merupakan sasaran dari tahapan tindakan mental yang menghasilkan komponen kognitif. Bisa dibilang, suatu target yang telah ditentukan oleh seseorang sebelum melakukan apa yang hendak ia lakukan. Tujuan ini bisa jangka pendek maupun jangka panjang.
- Pathway Thinking (mengembangkan strategi)
Pathway Thinking ialah kemampuan atau usaha seseorang untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Hal ini berkaitan erat dengan bagaimana cara seseorang untuk bisa meniti jembatan harapan hingga bisa sampai ke tujuan yang telah ditargetkan diatas.
- Agency Thinking (daya tahan dalam menggunakan strategi)
Agency thinking ini mencerminkan persepsi individu bahwa dia mampu mencapai tujuannya melalui jalur-jalur yang dipikirkannya, agency juga dapat mencerminkan penilaian individu mengenai kemampuannya bertahan ketika menghadapi hambatan dalam mencapai tujuan.
Disamping aspek-aspek harapan sebagaimana diuraikan diatas, ternyata ada pula faktor-faktor yang mampu mempengaruhi harapan itu sendiri. Menurut Weil (2000), Faktor-faktor yang mempengaruhi harapan adalah:
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harapan
- Kepercayaan religius
Kepercayaan religius serta spiritual telah diidentifikasikan sebagai sumber utama dalam pencapaian harapan. Karena, setinggi apapun harapan yang kita miliki muara teringginya adalah kehendak Allah Swt. Sang Maha Kuasa.
Hal tersebut menjadi kekuatan tersendiri yang mampu menyulut api semangat seorang hamba untuk lebih positif thinking dan semangat untuk mencapai harapan demi kebahagiaan dalam kehidupan abadi.
Oleh karena itu, orang-orang yang selalu mempraktikkannya dalam meniti harapan tidak akan merasa berkecil hati ketika harapannya belum tercapai. Karena dia tahu, bahwa keputusan dari Tuhan adalah keputusan yang terbaik.
- Dukungan sosial
Dukungan sosial ini juga merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh seseorang. Lingkungan hidup nyatanya amat berpengaruh, terutama adalah lingkungan keluarga yang selalu memberikan semangat terbaik bagi seseorang yang memiliki harapan tersebut.
Banyak kasus yang menunjukkan betapa pentingnya peran supporter terhadap orang-orang yang tengah tervonis penyakit ganas. Seorang psikolog, Weil mengatkan bahwa keluarga dan teman pada umumnya diidentifikasikan sebagai sumber harapan untuk para penderita penyakit kronis dalam berbagai aktivitas, misalnya membawanya ke sebuah tempat yang berkesan, mengajak bicara tentang hal-hal yang positif, mendengarkannya bercerita, pun membantunya secara fisik dan tidak membuatnya merasa sendiri.
- Kontrol
Kontrol yang dimaksud disini ialah kontrol diri. Yaitu, kemampuan seseorang untuk bisa mengendalikan dirinya dan menstabilkan semangatnya agar tidak mudah goyah dan putus harapan. Salah satu yang mempengaruhi seorang individu untuk selalu bisa mengontrol diri ialah dengan meningkatkan self-efficacy, yang mana hal tersebut dapat meningkatkan persepsi individu untuk bisa mengontrol dirinya.
Kawan, jangan pernah takut untuk menanam harapan. Asalkan tidak lupa bahwa sandaran segala harapan hanya kepada Sang Maha Kuasa. Yang tentunya lebih mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Akan tetapi, disamping harapan yang tertanam tersebut, hendaklah diselaraskan dengan perbuatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Sehingga dapat menjadi amal sholeh dan membawa keberkahan dalam hidup kita baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Penyunting: Bukhari


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.