Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Aksin Wijaya dan Konsep Baru Mengenai Wahyu

Aksin Wahyu

Perdebatan mengenai konsep wahyu sudah terjadi sejak era klasik. Setidaknya ada empat unsur terkait dengan wahyu (Al-Qur’an), yang diperdebatkan oleh para ulama. Empat unsur tersebut adalah, asal usul kata Al-Qur’an, hadits atau qadim, lafadz atau makna, dan bahasa Arab atau non-Arab.

Menurut Aksin Wijaya, perdebatan tentang wahyu sebagaimana penulis sebut diawal, nyatanya tidak bisa membuat Al-Qur’an sanggup menjalankan fungsinya sebagai kitab petunjuk dalam setiap situasi dan kondisi. Masih menurut Aksin, hal tersebut terjadi karena perdebatan seputar wahyu pada akhirnya masih tetap menempatkan wahyu di tempat yang sakral.

Dalam artian, akal siapapun, kecuali akal ulama klasik tidak diperkenankan menyentuh wilayah sakral tersebut. Selain itu, hanya boleh ada satu pendekatan untuk mengkaji wahyu Tuhan (Al-Qur’an), yaitu tafsir klasik.

Karena itu, Aksin mencoba menawarkan konsep baru tentang wahyu, yang ia maksudkan untuk membongkar sakralitas yang selama ini melingkupi wahyu. Setelah selubung sakralitas itu terbongkar, maka menurut Aksin akan terbuka ruang untuk berbagai metode untuk mengkaji wahyu Tuhan.

Menurut Aksin, perdebatan klasik mengenai konsep wahyu disebabkan karena mereka (ulama klasik), tidak melakukan kategorisasi antara, wahyu sebagai kalam Tuhan, Al-Qur’an (wahyu yang terucap menggunakan bahasa Arab), serta mushaf utsmani. Oleh karena itu, Aksin melakukan kategorisasi tersebut, dan menurutnya kategorisasi itu sekaligus akan membongkar selubung budaya yang selama ini melekat pada wahyu Tuhan.

Wahyu Menurut Aksin Wijaya

Pemahaman yang umum dikalangan umat Islam adalah bahwa Tuhan menyampaikan wahyu-Nya kepada Muhammad saw melalui Jibril. Akan tetapi menurut Aksin, tidak ada perantara dalam penyampaian wahyu Tuhan kepada Muhammad saw, melainkan Tuhan secara langsung bertemu dengan Muhammad saw untuk menyampaikan pesan-Nya.

Baca Juga  Akar Masalah Pembahasan Childfree dan Sudut Pandang Islam

Hal ini bisa saja terjadi karena Muhammad saw melepaskan dimensi kemanusiaanya, dan Tuhan memasuki dimensi kemanusiannya. Ketika keduanya bertemu, Tuhan kemudian menyampaikan pesan-Nya dengan bahasa yang diketahui oleh keduanya.

Aksin menyebut, bahwa bahasa yang digunakan Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada Muhammad disebut bahasa parole. Selain Tuhan dan Muhammad, tidak ada yang tahu bahasa apa yang digunakan keduanya (Tuhan dan Muhammad), apakah bahasa Arab atau bahasa yang lain.

Proses penyampian pesan seperti yang penulis uraikan diatas, itulah yang menurut Aksin disebut “Wahyu”.

Al-Qur’an

Pasca pesan Tuhan “wahyu” disampaikan langsung oleh Tuhan kepada Muhammad, sebagai seorang Rasul, Muhammad berkewajiban untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia, khususnya masyarakat Arab sebagai audiensi awal. Wahyu yang awalnya menggunakan bahasa non-ilmiah (yang hanya diketahui oleh Tuhan dan Muhammad), oleh Muhammad dikomunikasikan kepada manusia menggunakan bahasa Arab.

Menurut Aksin, bahasa Arab dipilih oleh Muhammad karena sasaran awal penerima wahyu adalah masyarakat Arab, yang menggunakan bahasa Arab.

Dari proses ini mulai terlihat bahwa, wahyu mulai bersinggungan dengan sistem bahasa manusia (bahasa Arab). Aksin menyebut bahwa dalam proses ini wahyu Tuhan mulai mengalami naturalisasi. Dalam proses ini, wahyu Tuhan menggunakan bahasa Arab disampaikan oleh Muhammad kepada masyarakat Arab secara oral dengan tujuh variasi bacaan. Wahyu Tuhan yang dibahasakan dengan bahasa Arab dan sudah mengalami naturalisasi inilah yang disebut “Al-Qur’an”.

Mushaf Utsmani

Seiring berjalannya waktu, mulai terjadi konflik diantara sahabat mengenai tujuh variasi bacaan dalam Al-Qur’an. Sehinngga pada kepemimpinan Utsman, dibentuklah tim khusus yang bertugas untuk membukukan Al-Qur’an. Selain karena perdebatan tentang variasi bacaan, alasan dibukukannya Al-Qur’an adalah karena banyak penghafal Al-Qur’an saat itu meninggal di medan perang.

Baca Juga  Ciri Khas Penafsiran Gus Baha’

Produk dari pembukuan (penulisan), Al-Qur’an itulah yang disebut sebagai mushaf utsmani. Di dalam mushaf utsmani, tidak ada lagi tujuh variasi bahasa sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an. Hanya satu bahasa yang digunakan dalam mushaf utsmani, yaitu bahasa Quraisy.

Dari uraian diatas bisa kita simpulkan bahwa “pesan Tuhan” telah mengalami perjalanan panjang, pertama, pesan Tuhan sebagai wahyu, yaitu pesan Tuhan yang masih berbentuk bahasa non-ilmiah. Menurut Aksin, pada tahap ini pesan Tuhan masih autentik.

Kedua, pesan Tuhan yang berbentuk bahasa ilmiah (bahasa Arab), yang disampaikan secara oral, yang disebut Al-Qur’an. Menurut Aksin, pada tahap ini, pesan Tuhan sudah mulai bergumul dengan pesan pemilik bahasa Arab.

Ketiga, pesan Tuhan dalam bentuk bahasa tulisan yang disebut mushaf utsmani. Aksin menyebut, pada tahap ini, pesan Tuhan mulai terpenjara. Melalui mushaf utsmani inilah, umat Islam belakangan mencari pesan Tuhan.

Dengan pendefinisian ulang seperti diuraikan diatas, menurut Aksin akan membuat kita lebih kritis dan berhati-hati dalam menggali pesan Tuhan dalam mushaf utsmani. Sehingga pesan Tuhan tidak bercampur dengan pesan pemilik bahasa.

Penyunting: Bukhari