Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir At-Tanwir Q.S Al-Fatihah (1): Rahmah Allah Bagi Manusia dan Alam

Melanjuti pengajian Tafsir At-Tanwir yang diselenggarakan Kajian Islam Muhammadiyah Amerika (KalamMU), pada sesi ke-2 ini memasuki kajian tafsir Surat Al-Fatihah. Sebagai pemateri Dr. Ustadi Hamzah, M.Ag memulai penafsiran surat Al-Fatihah dengan menafsirkan makna Rahman dan Rahim dalam ayat 1: bismillahir-rahmanir-rahim. Beliau menyampaikan bahwa makna Rahman dan Rahim memiliki satu sifat yang paling mendasar dari Allah yaitu sifat Rahmah.

Perbedaan Makna Rahman dan Rahim

Rahmah dapat dimaknai sebagai kelembutan yang mendorong untuk memberikan kebaikan kepada yang dikasihi. Maka, dengan sifat kelembutan yang dimiliki Allah untuk memberikan curahan rahmah, menegaskan bahwa Allah tidak pernah menzalimi kepada makhluk dan hambanya.

Sifat Rahmah Allah merupakan dua sifat dari Rahman dan Rahim, yang keduanya memiliki persamaan dan perbedaan.

“Makna Rahman adalah Allah melimpahkan rahmat-Nya yang berbuat baik kepada hamba-Nya, tanpa pengecualian dan tanpa batas. Tetapi sifatnya tidak permanen atau . Termasuk orang yang kufur kepada Allah tetap diberi fasilitas oleh Allah, karena Maha Pengasih Allah hanya diberikan di dunia saja. Sedangkan Rahim Allah kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang taat, dan sifatnya permanen di dunia dan akhirat”, jelas Ustadi.

Rahman dan Rahim sebagai Rububiyyah Ihsan

Sifat Rahman dan Rahim adalah sifat yang melekat dalam diri Allah yang berimplikasi pada ihsan (kebaikan) Allah kepada hamba-Nya. Karena itu tidak mungkin Allah memiliki sifat Rahmah tetapi berbuat kejam walaupun hamba-Nya melanggar hukum Allah.

“Misalnya manusia yang disiksa Allah di akhirat nanti, itu merupakan implikasi dari perbuatan manusia itu sendiri bukan keinginan dari Allah. Tetapi justru Allah memberikan siksa atau hukuman itu adalah bentuk Rahmah Allah karena manusia sudah keluar dari jalan hidup yang benar, bukan karena Allah membenci”, jelas Ustadi.

Baca Juga  Tafsir Al-Baqarah Ayat 213-214 (2): Nabi Membawa Petunjuk

Sifat penegasan Rahmah ini dapat dilihat dalam surat al-An’am ayat 12

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلْ لِّلّٰهِ ۗ كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۗ لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِۗ اَلَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ – ١٢

Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.

Al-Qur’an merupukan Wujud Rahmat Allah

Allah memiliki nama-nama yang Indah (al-asma al-husna) yang pada esensinya adalah bahwa sifat Rahman dan Rahim adalah sifat yang paling utama dimiliki Allah. Hal ini menunjukan, nama-nama lain Allah adalah derivasi dari nama Rahman dan Rahim Allah sebagai Rahmat yang meliputi segala sesuatu.

Al-Qur’an yang diturunkan Allah adalah wujud Rahmat atau kasih sayang Allah bagi umat manusia untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat. Walaupun manusia menetapkan diri tidak taat kepada Allah, sifat Rahmat yaitu Rahman Allah tidak akan pernah terputus. Meskipun ia tidak mendapatkan kerahiman Allah.

“Intinya Al-Qur’an diturunkan sebagai bentuk Rahmat Allah, apapun yang dilakukan manusia itu tidak terlepas dari sifat Rahman dan Rahim Allah”, jelas Ustadi.

Reporter: An-Najmi