Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengenal Muhammad Asad, Wartawan dan Muallaf Yahudi yang Mengarang Tafsir

Muhammad Asad
Gambar: Babelio.com

Umumnya pengkaji serius al-Qur’an merupakan kalangan yang terlahir Islam semenjak lahir. Namun apa jadinya, jika pengkaji al-Qur’an tersebut seorang muallaf, ya. Hal tersebut memang tak ada salahnya, serta cocok disematkan kepada Muhammad Asad. Terlahir dalam naungan keluarga Rabi Yahudi Ortodoks dan saintis pada 2 Juli 1900 di Lviv, Austria, serta diberi nama, yaitu Leopold Weiss. Sebelum akhirnya hidayah menghampirinya pada tahun 1926, hingga berujung masuk Islam, serta berganti nama menjadi Muhammad Asad

Penulis The Message of The Quran semenjak muda memang boleh dikatakan mempunyai semangat berlebih dalam menimba ilmu. Terbukti sosok Muhammad Asad telah menelaah secara mendalam ajaran Yahudi. Pengembaraan intelektualnya memacu dirinya untuk melahirkan karya-karya yang cukup brilian.

Maklum saja, dikenal sebagai wartawan, diplomat, hingga linguis. Dan tak terlepas dari nuansa background (latar belakang) keluarga Rabi Yahudi, menjadikanya menguasai dua bahasa semitik, yaitu Aramaik dan Ibrani. Asbab kemampuan bahasa yang mumpuni itulah, julukan linguis disematkan kepada Muhammad Asaad. (Safitri, 2019) hlm. 179

Perjalanan intelektualnya boleh dikatakan cukup krusial. Terbukti pernah menakhkodai dua Universitas, seorang Muhammad Asad justru tak merampungkan studinya. Pertama, pada tahun 1921 Muhammad Assad sempat mengenyam pembelajaran sejarah seni hingga filsafat di Universitas Wina. Kedua, pada tahun 1925 Muhammad Asad juga pernah mengenyam pendidikan di Akademi Geopolitik. (Safitri, 2019) hlm`180

Karya-Karya Muhammad Asad

Karya-karyanya seperti, Islam at the Crossroad (Islam di Persimpangan Jalan), Road to Mecca (Perjalanan ke Makkah), hingga The Principles of The State and Government in Islam (Prinsip-Prinsip Negara dan Pemerintahan dalam Islam). Selain itu, terdapat pula buah karya Muhammad Asad yang cukup masyhur, seperti Unromantisches Morgendland: Aus demTagebuch eine Reise.

Dengan karya-karya tulisannya yang cukup menginspirasi diri penulis khususnya, menjadi mafhum, karena sedari awal sosok Muhammad Asad merupakan seorang wartawan Eropa kala itu, yang menulis di surat kabar ternama di Eropa, sebut saja, seperti  Frankfurter Zeitung, Neune Zurcher Zeitung, hingga De Telegraaf.

Alasan Menulis Tafsir

Dalam bahtera perjalanan hidupnya mengarungi Eropa, kegelisahan sempat menyelimuti diri Muhammad Asad. Dengan bekal keilmuan bahasa Arab yang dipelajarinya melalui suku Badwi saat berada di Saudi Arabia. Muhammad Asad menulis terjemah dan kitab tafsir berbahasa Inggris, yaitu The Message of the Quran.

Penulisan kitab tafsir terjemah itupun berangakat dari segelintir alasan, pertama, membuat jalan penghubung antara muslim dan non-muslim. Terkhusus pengguna bahasa Inggris yang ingin mendalami al-Qur’an, Kedua, memunculkan tafsir sebagai pioner dalam rangka mengatasi problema sosial kemasyarakatan. Ketiga, memunculkan sebuah terjemaham al-Qur’an yang memberikan inspirasi kepada setiap pembacanya baik muslim maupun non-muslim. Keempat, memotori kemunculan terjemahan al-Qur’an yang menjaga ‘’spirit’’ bahasa Al-Qur’an dan objektifitasnya. (Safitri, 2019) hlm. 181

Baca Juga  Perintah Islam: Pentingnya Berusaha dan Bekerja

Perjalanan dan Kiprah Muhammad Asad

Semenjak tahun 1921, melakukan pengembaraan intelektualnya di beberapa benua, seperti Afganistan, Iran, Mesir, Pakistan hingga India. Terbukti saat berada di Mesir sendiri, seorang Muhammad Asad gemar bertukar fikiran serta berdiskusi dengan salah seorang murid daripada Muhammad Abduh (1850-1905), yaitu Musthafa al-Maraghi (1883-1952).

Selanjutnya, saat di Pakistan, Muhammad Asad turut bersedia membantu Muhammad Iqbal dalam rangka menyusun dasar-dasar kenegaraan Islam. Tak sampai disitu, pada tahun 1951-1955, seorang Muhammad Assad mengemban amanah sebagai duta Pakistan untuk PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dan menetap di Amerika.

Perlawatan Muhammad Assad dari berbagai negara, seperti Maroko, Portugal, hingga Spanyol, dan mengakhirinya dengan menghembuskan nafas terakhir pada 23 Februari 1992. Rekam jejak pelawatan ke berbagai negara inilah, yang menjadikanya sebagai sesosok yang banyak menguasai bahasa, Semisal, Ibrani, Aramaik, Prancis, Inggris, Jerman, hingga bahasa Arab. Terkait bahasa Arab sendiri, Muhammad Assad secara langsung melalui suku Badwi selama dirinya hidup di Saudi Arabia. (Safitri, 2019), hlm.181

Karakter Tafsir The Message Of The Qur’an

Penyusunan The Message Of The Qur’an sendiri, mengacu pada tartib mushafi. Yaitu berdasarkan urutan-urutan ayat berikut surah-surah dalam kitab suci al-Qur’an. Selanjutnya, jenis terjemah The Message Of The Qur’an, yaitu terjemah tafsiriyyah, yang tak hanya mengalihbahasakan. Lebih dari itu, karena memperhatikan juga konteks sebuah ayat, oleh karenanya cakupan bahasan segi kebahasaanya amat sangat luas.(Safitri, 2019) hlm.190

Mengenai sumber-sumber penafsiran The Message Of The Qur’an, merujuk dari al-Qur’an sendiri. Yaitu berupa cross reference (munasabah). Serta tak menampik pula akan rujukan pendapat para mufassir, baik kalangan mufassir klasik maupun kontemporer. Selain itu, merujuk juga dari hadis Nabi Muhammad SAW, berikut syarh-nya (penjelasan). Kamus-kamus, kitab fiqih, hingga buku-buku sejarah.

Baca Juga  Pendidikan Karakter dalam Al-Qur’an: Belajar dari Kisah Para Nabi

Sosok Muhammad Asad memakai berbagai sudut pandang dalam tafsirnya. Namun, dilihat dari dominasi karakteristiknya, terkesan mengarah pada corak al-adab al-ijtima’i (sosial kemasyarakatan). Wallahua’lam

Penyunting: Bukhari