Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tanwir dan Intelektualisme Tafsir Kaum Muda

Intelektualisme Tafsir
Gambar: rumaysho.com

Dua hari yang lalu (5-6 Februari) baru saja berkumpul penggiat kajian-kajian tafsir di Gedung Tabligh Institute, Yogyakarta. Mereka berdiskusi dan berdialektika tentang wacana tafsir kekinian, terkhusus di era digital.

Mereka datang dari latar belakang yang tak seragam. Ada yang dari Muhammadiyah, namun tak sedikit pula yang dari kalangan Nahdhiyyin. Semuanya membaur dan melebur dalam forum ini.

Inisiator dari forum ini adalah Tanwir. Sebuah kanal tafsir asuhan kader-kader muda Muhammadiyah. Tujuan dari forum ini sederhana: ingin membentuk dan melahirkan penafsir muda yang menjadi ujung tombak Tanwir dalam menyebarkan narasi-narasi tafsir yang moderat dan progresif di media sosial.

Hal itu tentu berangkat dari tema yang diangkat, yakni: Menulis Asyik Kajian Tafsir di Media Digital. Komitmen menjadi makelar tafsir mencerahkan di media sosial adalah titik landasnya. Sebab, seperti temuan yang dikeluarkan oleh PPIM UIN Jakarta, tren beragama di jagat maya hari ini banyak diwarnai oleh narasi-narasi tafsir keagamaan ekstrem-konservatif.

Mazhab Fazlurian dalam Forum Tanwir

Bagi banyak orang, ilmu tafsir barang kali adalah momok yang “menakutkan”. Ilmunya dianggap berat dan bikin kepala mumet. Tapi tidak dengan peserta dalam kegiatan ini. Mereka mengkaji tafsir dengan gembira. Buku-buku soal tafsir, dari yang paling ringan sampai yang paling berat, semuanya dilahap.

Di forum ini saya melihat panorama yang tidak biasa. Intelektualisme tafsir kaum muda betul-betul menyala. Oleh karenanya kekhawatiran sebagian kita bahwa keilmuan ini telah kehilangan peminatnya jelas terbantahkan.

Intelektualisme tafsir kaum muda ini harus dirawat dan diruwat. Salah satunya tentu dengan melalui forum-forum semacam ini. Selain misalnya menyediakan kanal media online yang menjadi wadah bagi mereka mencurahkan isi pikirannya. Sebab hanya di forum semacam inilah mereka dapat bertukar pikiran dengan lepas.

Baca Juga  Ulasan Sederhana Mengenai Tafsir Esoterik

Hal yang menarik lain dari di kegiatan ini adalah para pesertanya rata-rata merupakan penganut mazhab tafsir kontekstual atau Fazlurian. Sebuah mazhab yang dirintis oleh Fazlur Rahman dan dikembangkan secara apik oleh Abdullah Saeed

Oleh karenanya tidak berlebihan kiranya jika saya mengatakan bahwa melalui forum ini akan lahir Fazlur Rahman-Fazlur Rahman baru. Generasi tafsir yang selalu berusaha menangkap makna zaman al-Quran dan mendedahkannya dengan gaya yang sesuai dengan tantangan zaman

Selain itu intelektualisme tafsir kaum muda yang andil dalam kegiatan ini betul-betul menawan. Hal itu dapat dilihat pada tulisan-tulisan yang mereka kirimkan sebagai prasyarat mengikuti Forum Keakraban Penulis Tanwir

Intelektualisme Tafsir Kaum Muda

Miftahur Rohmah misalnya. Dengan paradigma perkembangan ilmu pengetahuan Thomas Khun, ia mencoba memetakan perkembangan metode tafsir dari masa ke masa. Khun mengatakan bahwa pengetahuan bersifat non-kumulatif dan dinamis. Maka begitu pula dengan keilmuan tafsir. Ia akan terus bergerak dan berkembang

Salah satu contohnya ialah pembahasan Rasulullah tentang pentingnya memanah sebagai teknik memenangkan peperangan. Bagi ulama terdahulu, barang kali hal tersebut hanya dimaknai secara tekstual. Yakni kalau ingin menang dalam peperangan, maka belajarlah memanah yang baik.

Pemahaman itu tentu berbeda dengan zaman sekarang. Di zaman sekarang penjelasan Rasulullah tersebut tidak hanya dimaknai sebatas memanah. Apalagi dengan melihat perkembangan senjata di era modern. Jika ingin menang dalam peperangan di era modern, gunakanlah senjata-senjata modern jua

Itu hanya contoh. Jangan diartikan melegalkan peperangan

Zulfikar Nur Falah, peserta forum yang lain, juga menuliskan hal yang serius. Ia secara khusus membahas tentang semiotika al-Quran. Apakah kajian itu relevan di medsos? Atau paling tidak, bagaimana cara membuat kajian tersebut relevan dan dirasakan kehadiran dan manfaatnya di medsos?

Baca Juga  2 Model Perjanjian dalam Surat Al-Baqarah dan Al-Isra'

Kemudian ada di sisi lain juga ada Riyan Hidayat yang mencoba merumuskan dan mendiskusikan tentang tafsir ideal di masa kini. Pertimbangannya tentu banyak dalam menentukan apakah sebuah tafsir itu ideal atau tidak. Dan kesemua pertimbangan dan penilaian itu bersifat relatif

Namun di tengah banyaknya pertimbangan dan parameter itu, Riyan tetap meneguhkan sikap dan pandangannya. Baginya, tafsir yang ideal adalah tafsir yang banyak dirujuk. Khususnya di era digital saat ini

Makanya tafsir seperti tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab tidak dimasukkannya sebagai kategori tafsir ideal. Sebab menurutnya, karya tafsir tersebut memiliki segmentasi pembaca yang esklusif, yakni hanya kalangan akademisi. Tafsir harus meluaskan horison pembacanya. Sebuah tafsir, lanjut Riyan, harus dapat diakses semua lapisan masyarakat. Makanya, di zaman ketika orang-orang beralih ke medsos, tafsir juga harus “hijrah”. Ia juga harus memasifkan penyebarannya di media sosial.

Jalan Sunyi Intelektualisme Tafsir

Terlepas dari setuju atau tidaknya dengan tawaran-tawaran anak-anak muda di atas, saya kira kita harus mengacungkan jempol pada peserta-peserta tersebut. Di saat anak-anak muda lainnya lebih tertarik dan lebih banyak terjerat virus pragmatisme, mereka malah memilih mengembangkan intelektualisme mereka, khususnya intelektualisme mereka di bidang tafsir.

Tentu, itu adalah pilihan yang gagah. Berani beda di saat yang lainnya lebih menunjukkan syahwat dan minatnya terhadap politik dan kekuasaan adalah pilihan yang harus diapresiasi. Memang tidak salah jika ada kaum muda yang terjun dan tertarik ke politik. Namun hal tersebut jangan sampai menjadi gerakan arus utama. Tetap harus ada sekelompok orang yang mengabdikan dirinya pada pengembangan Intelektual.

Sebab itulah mandat peradaban kita. Hendaklah ada sebagian dari kita yang  tafaqquh fi ad-din. Memperdalam wawasan keagaaman dan mengembangkan spirit iqra seperti yang tertuang dalam Q.S. Al-‘Alaq.

Baca Juga  Al-Baqarah 183: Siapa dan Bagaimanakah Umat Terdahulu Berupuasa?

Mengembangkan Spesifikasi

Di sesi materi terakhir forum penulis ini, saya kira menarik melihat pertanyaan pematerinya. Saat itu pemateri bertanya kepada peserta satu per satu tentang tulisan mereka yang paling berkesan di Tanwir. Setelah semuanya menjawab, terlihat bawa isu yang mereka tuliskan lumayan beragam. Ada yang fokus membahas tafsir feminis, semiotika al-Quran, ayat-ayat yang dekat kehidupan sehari-hari dan masih banyak lagi yang lain.

Dan setelah dijawab, pemateri kemudian mengejar dengan pertanyaan berikutnya. Apakah mereka tertarik menuliskan tema tersebut secara simultan dan konsisten? Beberapa peserta dengan mantap mengatakan iya dan sebagiannya lagi masih nampak ragu-ragu.

Namun satu hal yang ingin tegaskan di sini ialah, memiliki spesifikasi itu perlu. Sebab hal itulah yang akan menjadi ciri khas yang melekat pada diri kita. Orang akan mengenal kita dengan spesifikasi yang kita ambil. Menjadi pakar tafsir bagi semua tema tentu boleh-boleh saja. Namun akan lebih baik lagi jika memiliki tema garapan khusus dan menjadi identitas kita.

Seperti halnya Prof. Nasaruddin Umar yang terkenal dengan kepakarannya di bidang tafsir gender; Dr. Abdul Moqsith Ghazali dengan kepakarannya pada tafsir ayat-ayat pluralisme, Dr. Yusuf Rahman dengan kepakarannya di bidang hermeneutika al-Quran; dan KH. Piet Hizbullah Khaidir dengan kepakarannya di bidang semiotika al-Quran.

Demikianlah jalur yang mereka tempuh. Lalu, apakah kita sudah memiliki identitas serupa? Jika belum, maka segeralah temukan. Sebab memiliki uniqueness adalah keniscayaan jika kita ingin dikenal.

Wallahu ‘Alam

Alumni Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta, Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI), Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta 2024-2026.