Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Imam Al-Qusyairi dan Kitab Tafsir Lataif Al-Isyarat

Imam Al-Qusyairi
Sumber: https://islami.co/

Sekilas Biografi Imam al-Qusyairi

Ulama sufi kenamaan ini bernama lengkap Imam Abu Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad al-Istiwa al-Qusyairi al-Naisaburi al-Syafi’i. Beliau dilahirkan di Astawa, bulan Rabi’ul Awwal, tahun 376 H/986 M. Masyhur sebagai seorang sufi, serta menguasai berbagai disiplin ilmu, berangkat dari hadis, fiqih, ushul, serta tafsir, serta banyak memilki karya dibidang tasawuf. Serta dikenal sebagai sesosok yang menggabungkan antara syari’at dan hakikat.

Dikenal yatim semenjak kecil sepeninggal ayahnya. Namun, sebagaimana petuah dalam mahfudzhot, bukanlah yatim itu yang telah meninggal bapaknya. Namun, yatim yang sebenarnya adalah yatim ilmu serta adab. Hal tersebut layak dilekatkan terhadap sosoknya, bagaimana tidak, semenjak kecil, seorang Imam al-Qusyairi sudah mempelajari etika serta bahasa Arab. Kemudian menginjak beranjak remaja, beliau melawat ke Naisabur untuk belajar ilmu hitung serta bertempat tinggal Basthu. Di Naisabur inilah sosok Imam al-Qusyairi menempuh jalan kesufian. Serta berkesempatan pula, untuk menelaah ilmu dari Syaikh Abu Ali bin Al-Husain bin Ali al-Naisabur, atau lebih pamor dengan sebutan, al-Daqaqq.

Selain itu, disiplin keilmuan dibidang fiqih didalaminya lewat Imam Abu Bakar Muhammad bin Bakr al-Thusi. Serta ushul fiqih digalinya lewat Imam Abu Bakar bin Faruq, lalu pasca Imam Abu Bakar bin Faruq wafat, didalaminya ushul fiqih melalui Abu Ishaq al-Isfarayni. Ditengah hiruk-pikuk kesibukanya menelaah ilmu dari para guru-gurunya. Imam al-Qusyairi justru masih menyempatkan dirinya untuk menghadiri majelis Abu Ali al-Daqaqq, hingga berujung Abu Ali al-Daqaqq menikahkan al-Qusyairi dengan putrinya. (Muhibudin, 2018)h. 24-25

Baca Juga  Sebagian Manusia Perusak Bumi: Kajian Tafsir QS. Ar-Rum [30]: 41

Karya-karya Imam al-Qusyairi

Adapun karya-karyanya adalah sebagai berikut: Ahkam al-Syar’i, Adab al-Shufiyah, al-Arba’un fi al-Hadis, Istifadha al-Muradat, Bulghah al-Maqashid fi al-Tasawuf, al-Tahbir fi al-Tazkir, Tartib al-Suluk fi Tariqillahi Ta’ala, al-Tauhidun Nabawi, al-Taisir fi Ilmi Tafsir, al-Jawahir, Hayah al-Arwah wa Dalil ila Tariq al-Islam, Diwan Syi’r, al-Dzikr wa al-Dzakir, al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ilmi Tasawuf, Sirah al-Masyayikh, Syarh al-Asma’il Husna, Syikayatu ahl-al-Sunnah maa nalahum min al­-Mihnah, Uyun al-Ajwibah fi Ushul al-As’ilah, al-Fushul fi al-Ushul, Lataif al-Isyarat, al-Luma fi al-I’tiqad, Majalis Abi Ali al-Hasan al-Daqqaq, al-Mi’raj, al-Munajat, Mantsur al-Khittab fi Syuhud al-Bab, Naskh al-Hadis wa Mansukh, Nahw al-Qulub al-Shagir, Nahw al-Qulub al-Kabir, Nukatu ulin Nuha. (Muhibudin, 2018) h. 36

Guru-guru Imam al-Qusyairi

Abu Ali al-Hasan bin Ali al-Naisaburi, Abu Abdurrahman Muhammad bin Husain bin Muhammad al-Azdi al-Sulami al-Naisaburi, Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakar al-Thusi, Abu Bakar Muhammad bin Husain bin Furak al-Ansari al-Asbahani, Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Mahran al-Asfarayaini, Abu al-Abbas bin Syuraih, Abu Manshur Abdul Qahir bin Muhammad al-Baghdadi al-Tamimi al-Asfarayaini. (Muhibudin, 2018)h. 38

Sekelumit Tafsir al-Qusyairi

Tafsir buah tangan karya Imam al-Qusyairi memilki nama lengkap Lataif al-Isyarat. Kitab tafsir ini tidak seperti kitab-kitab tafsir lainya, yang berkutat diarea lini kebahasaan serta aneka ragam ilmu yang dibutuhkan bagi seorang mufassir. Namun, Imam Qusyairi berupaya menyingkap tabir hijab rahasia dibalik kata-kata yang menyentuh perasaan.

Susunan kitab tafsir ini disusun oleh Imam al-Qusyairi dengan pendekatan tasawuf. Terkait metode tafsir, seorang Imam al-Qusyairi mengungkapkan dalam muqaddimah kitab tafsirnya, terkait penafsiran ayat-ayat suci Tuhan. Yaitu, pertama, menukil ucapan, pendapat ataupun kaidah yang bersumber dari orang-orang yang dianggap shalih yang disinyalir sebagai orang suci, wali-wali Allah SWT, melalui cara mendengar secara langsung dari guru-gurunya. Kedua, pengejawantahan Imam al-Qusyairi terhadap ayat-ayat suci al-Qur’an melalui ilmu-ilmu tasawuf yang dikuasainya. (Muhibudin, 2018) h. 40-41

Baca Juga  Ulasan Sederhana Mengenai Tafsir Esoterik

Karakteristik Tafsir

Selanjutnya, menelisik mengenai karakteristik penafsirnya, sejatinya tafsir ini beraliran teologi sunni  yang secara sadar bertolak belakang dengan faham mujassimah. Yaitu sebuah faham yang secara tidak langsung mensamaratakan Allah SWT dengan makhluknya. Yang mana pada dasarnya mustahil Tuhan bertempat serta berbentuk serupa dengan makhluk ciptaanya, dalam kitab al-farqu baynal firaq diungkapkan:

وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَا نٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ

Artinya: ‘’Ahlusunnah Wal-Jama’ah juga bersepakat, yaitu bahwasanya Allah SWT itu tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui oleh zaman’’. (Al-Baghdadi, p. 256)

Hal selaras juga diutarakan oleh seorang khulafaur Rasyidin yang keempat, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, perihal bahwasanya Allah SWT itu sudah ada terlebih dahulu, sebelum tempat itu ada, dan keberadaan Allah SWT sekarang, pungkas Ali, sama halnya keberadaanya sebelum adanya tempat itu sendiri, berikut ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

قَالَ سَيِّدُنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَا لِب كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ : كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah berkata: ‘’Allah SWT itu ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah SWT sekarang seperti keberadaanya sebelum adanya tempat.’’ (Al-Baghdadi, p. 256) Wallahua’lam