Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengurai Pendidikan Perspektif Hadis Nabi

Nabi
Sumber: https://harakah.id/

Hadis disepakati oleh kaum muslimin sebagai sumber hukum atau ajaran kedua setelah al-Qur’an. Hadis dihubungkan dengan pernyataan (ucapan), perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad Saw. Sesuatu yang dihubungkan pada ketiga hal ini hampir disepakati oleh para ulama, tak terkecuali ulama ahli hadis. Ajaran pada hadis  banyak memuat hal yang dapat dijadikan rujukan dalam menjalani kehidupan, termasuk di dalamnya terkait dengan pendidikan.

Hal ini diasumsikan karena Nabi Muhammad Saw sebagai seorang rasul, juga menjadi pendidik bagi sahabat ketika beliau masih hidup. Juga, ajarannya yang menyebar hingga saat ini melalui kodifikasi hadis (kutub al-hadits) yang kita kenal pada masa sekarang, menjadi referensi utama dalam pendidikan perspektif Islam. Mungkin, sebarannya lebih banyak dari jumlah ayat yang langsung berhubungan dengan pendidikan, karena hadis jumlahnya lebih banyak dalam sebaran matan dan kitab. Meskipun hal ini, perlu ketelitian dalam menelaah jumlah hadis tersebut.

Mengapa Hadis Tarbawi?

Pertanyaan ini cukup filosofis. Bukan hanya karena kepentingan mata kuliah atau kajian tertentu, namun posisinya penting dalam menguatkan asumsi ajaran dan teori dalam Islam mengenai pendidikan. Hadis tarbawi (hadis tentang pendidikan) memuat penelaahan tentang ‘ibarat (teks), makna, sebab munculnya hadis, juga implikasi yang secara eksplitis (manthuq) atau implisit (mafhum).

Ia memuat informasi penting–yang apabila digali lebih mendalam–mengenai posisi Nabi Muhammad Saw sebagai pendidik, penelaahaan lebih mendalam mengenai kondisi sosial pendidikan, hubungan makna hadis dengan sumber ajaran pertama (al-Qur’an). Setidaknya, hal ini yang menguatkan asumsi bahwa pada prodi yang berada pada cabang ilmu pendidikan Islam, mata kuliah hadis tarbawi penting untuk dikaji.

Baca Juga  Renungan Lebaran: Kemenangan Hidup Seorang Manusia

Secara ontologis, hadis tarbawi menjadi salah satu kajian penting dalam mata kuliah. Hadis tarbawi menempatkan posisinya pada hubungan antara teori dalam disiplin ilmu pendidikan Islam. Karena posisi seperti ini, tak salah apabila ingin mendalami pendidikan Islam, tidak bisa melepaskan diri dari kajian hadis tarbawi. Ontologis ini mengajengkan teks hadis dengan muatan pendidikan yang berada dalam medan makna teks tersebut.

Kajian Hadis Tarbawi

Hadis tarbawi sebagai kajian atau bahkan ranting ilmu pendidikan, memuat sumber dan metode untuk memahaminya. Sumbernya tentu adalah hadis Nabi yang kuat (sahih) yang tersebar dalam puluhan atau bahkan ribuan kitab hadis yang pernah ditulis oleh para ulama hadis.

Sebagai sumbernya, kita dapat mencari, menelaah, mencatat ulang, dan mengkategorikan teks yang baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan tema pendidikan. Atau, mungkin dapat ditelaah pula pada kitab yang langsung berhubungan dengan tema pendidikan perspektif hadis. Untuk verifikasi lebih lanjut, dapat pula mengintegrasikan muatan yang ada pada kutub al-hadits dengan kitab yang langsung membahas hadis tarbawi.

Sebuah sebuah kajian, cara untuk memahaminya pun layak untuk dipertimbangan penting. Metode ilmiah pada kajian ini menjadi kata kunci penting dalam epistemologinya. Pendekatan deduktif dan induktif dapat dipertimbangkan untuk kelayakan ilmiahnya. Deduktif memuat sajian pendekatan langsung turunan konsep dari teks hadis yang ditelaah. Induktif menyajikan hubungan beberapa terma khusus yang digali kemudian ditarik kesimpulan sesuai dengan substansi pendidikan. Induktif ini dapat pula dengan merinci beberapa temuan penting dari berbagai sumber yang dijadikan rujukan.

Langkah Metodologis Hadis Tarbawi

Sebagai kajian ilmiah, prosedur metodologis patut untuk dijadikan pegangang. Hal ini dapat diperoleh seperti halnya pada kajian ayat mengenai pendidikan (tafsir tarbawi), yang lebih mengandalkan kajian tematik pada terma kajian khusus berdasarkan komponen pendidikan Islam.

Baca Juga  Untukmu Mahasiswa Muslim: Pengantar Motivasi Dakwah

Pertama, menetapkan tema yang dikaji. Apa yang akan dibahas tentu dikaitkan dengan objek apa yang akan digali. Tidak hanya menentukan tema, argumentasi penting mengapa tema ini dikaji perlu dijelaskan dengan beberapa asosiasi ilmiah. Fenomena pendidikan pada saat ini juga penting untuk dijadikan landasan. Ini akan semakin menarik, apabila dikaitkan dengan “kerancuan” dalam teori modern mengenai pendidikan, perspektif penulisnya.

Kedua, penelusuran, pemetaan, dan pemilihan hadis yang sesuai. Pengetahuan mengenai sebaran hadis dalam berbagai kitabnya penting untuk diperhatikan mengingat banyaknya sebaran hadis. Secara ideal, penelaah hadis tarbawi perlu memiliki kemampuan untuk pelacakan ini. Pencatatan hadis ini pada kitab apa, nomor berapa, pada bab apa, menjadi pertanyaan dalam benaknya untuk mengajegkan hadis ini berhubungan dengan tema tertentu. Uraian ini dapat dibantu dengan rujukan indeks hadis atau Mu’jam Mufahras li Alfazh al-Hadits.

Ketiga, menganalisis jalur periwayatan hadis. Penguraian tentang jalur sanad dan perawi dalam untaian sanad dapat merujuk langsung pada sanad yang disebut atau dapat pula dengan bantuan kitab-kitab tentang ruwah al-hadis (perawi hadis), tarikh al-rijal (sejarah tentang sosok perawi), dan al-jarh wa al-ta’dil (penentuan kecacatan dan keadilan perawi). Hal ini sangat diperlukan untuk penentuan validitas periwayatan.

4 Langkah Selanjutnya

Keempat, penentuan validitas atau kesahihan hadis. Penentuan ini diperlukan untuk menguatkan bahwa hadis sahih diduga lebih kuat validitasnya pada perawi dan matan hadis, dibandingkan dengan kualitas hadis yang lemah, sehingga dapat diterima secara umum. Meskipun, ada sebuah pandangan untuk keutamaan amal dapat menggunakan hadis yang lemah untuk kepentingan semangat beramal.

Kelima, analisis teks hadis. Penguraian ini membantu untuk memahami teks yang pasti berkaitan dengan tema yang dikaji. Analisis ini dapat diuraikan melalui struktur gramatika, arti teks, dan makna umum (al-ma’na al-ijmali) pada teks yang dikaji. Uraiannya dapat dibantu dengan kamus atau ensiklopedi kebahasaan. Kitab seperti al-Ta’rifat karya al-Jurjani dan Lisan al-Arab karya Ibn Manzhur dapat dijadikan rujukan. Keenam, menganalisis sebab munculnya hadis (asbab al-wurud).  Penelusuran tentang sebab hadis tertentu muncul dapat dibantu dengan beberapa syuruh al-hadits.

Uraian ini berkaitan dengan pemahaman makna kondisi sosial masyarakat ketika hadis muncul, posisi Nabi Muhammad Saw ketika hadis ini beredar, juga untuk menghubungkan kondisi saat hadis muncul dengan fenomena yang dikaji saat ini. Ketujuh, menguraikan tentang makna hadis yang dihubungkan dengan tema yang dikaji. Ini menjadi inti dari pemaknaan akan hakikat yang dibahas pada hadis yang dikaji. Kajian pada tahap ini dapat dibantu dengan beberapa kitab syuruh al-hadis, buku hadis tarbawi, juga teori-teori ilmu pendidikan Islam.

Baca Juga  Esensi Pentingnya Pendidikan pada Diri Seorang Perempuan

Kesimpulan

Ketujuh tahapan di atas dapat menjadi alternatif prosedural. Tahap demi tahap  secara epistemologis membantu dalam menarik implikasi tema yang dikaji dengan singgungan tema yang dikaji. Banyaknya instrumen yang diperlukan tidak hanya menghasilkan satu kajian, Seiring dengan banyak referensi yang dikaji, akan memunculkan khazanah pemikiran yang beragam. Keragaman ini akan mengajengkan bahwa Islam dalam dimensi pemikiran memuat kekayaan pengetahuan. Wallahu A’lam.