Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Urgensi kalimat Syukur dan Hamdalah dalam Islam

syukur
Sumber: https://katalucubergambar.blogspot.com/

Kaum muslimin secara sadar ataupun tidak sadar, tidak asing(gharib) ditelinga mereka dengan kalimat ‘’alhamdulillah’’ dan atau ‘’wa syukurillah’’ tatkala memperoleh kenikmatan dari Allah SWT. Khususnya dikala ritual-ritual keagamaan umumnya, namun kita sebagai ummat Muhammad SAW, pernahkah berfikir termenung sejenak mengenai urgensi perbedaan daripada dua kalimat tersebut. Penulis dalam hal ini mencoba merujuk ke dalam Buku Pintar Memahami Al-Qur’an.

Makna Syukur dan Alhamdu

Masduha dalam bukunya mencoba menelisik perihal perbedaan dua kalimat tersebut. Beliau menyatakan bahwa الحَمْدُ  merupakan kalimat yang mengandung pujian, baik yang mengandung balasan kenikmatan atau mewujudkan kenikamatan itu sendiri. Sementara itu syukur adalah upaya membalas kenikamatan, maka penggunaan al-hamdu hanya sebatas secara lisan, sedangkan syukur, penggunaanya lebih luas dari hanya sebatas ucapan lidah (taqrir bi lisan).

Lain halnya dengan Mahmud Yunus Pengarang Tafsir Al-Qur’anul Al-Karim dalam kamusnya. Ulama berasal dari Sumatera tersebut menjelaskan dari akar  kalimat الحَمْدُ, yaitu يَحْمَدُ حَمْدًا  حَمِدَ yang berarti memuji, berterima kasih. Sedangkan kalimat syukur berakar kata dari kalimat شَكَرَ يَشْكُرُ شُكْرًا شُكُوْرًا yang berarti berterima-kasih (kepadanya), mesyukurinya, memujinya..

Namun yang lebih eksplisit dan menyeluruh perihal penjelasan kalimat الحَمْدُ , dalam hal ini penulis menukil kupasanya dari Ar-Raghib Al-Asfahani dalam bukunya jilid yang pertama yaitu penjelasan lengkap makna kosakata asing (gharib) dalam Al-Qur’an. Ucapan الِلّهِ   الحَمْدُ merupakan pujian kepada Allah SWT dengan keutamaan, dan kata alhamdu ini cakupanya lebih khusus daripada kata المَدْحُ (sanjungan), dan lebih umum daripada  kata الشُّكْرُ (syukur, berterima kasih), karena kata المَدْحُ mampu diucapkan seseorang kepada kebaikan yang ada pada diri seseorang dengan kehendaknya sendiri, dan juga kebaikan yang Allah SWT telah takdirkan melekat pada diri seseorang tersebut.

Baca Juga  Bagaimana Jika Benar Iblis Itu Martir Bagi Manusia?

Misalnya seperti المَدْحُ (sanjungan) kepada seorang yang memiliki paras rupawan, berperawakan badan yang tinggi,  adapun kata الشُكْرُ  ,hanya diucapkan sebagai pembanding dari nikmat yang diperoleh. Oleh karenanya, setiap الشُكْرُ   pasti termasuk الحَمْدُ ,akan tetapi tidak semua  الحَمْدُ dapat disebut atau dikategorikan sebagai الشُكْرُ, dan setiap الحَمْدُ pasti termasuk المَدْحُ (sanjungan, namun tidak semua المَدْحُ (sanjungan) dapat disebut sebagai الحَمْدُ.

Al-hamdu wa Asyukru Perspektif Al-Qurthubi

Sebelum menjurus ke Tafsir Jami’li Ahkam Al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan, penulis mencoba menukil sedikit ungkapan daripada kitab Hilyatul Aulia. Di sana dijelaskan perihal apa itu makna daripada syukur, berikut penjelasanya:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّ عِبَادِ اللهِ الصَّبَّا رِ الشَّكُوْرَ الَّذِي إِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ وَإِذَ أُ عْطِيَ شَكَرَ

‘’Sesungguhnya, di antara hamba Allah SWT yang paling dicintai adalah orang yang sangat penyabar dan orang yang sangat pandai bersyukur. Jika diuji, menjadikan sabar sebagai sikapnya dan jika diberi, menjadikan syukur sebagai sikapnya’’.

Penulis juga tak lupa mengutip pendapat-pendapat dari ulama tafsir klasik, diantaranya seoarang penulis produktif bernama Al-Qurthubi, beliau menyatakan mengenai apa itu syukur dan apa itu alhamdu, dan dimana letak perbedaan diantara keduanya, perihal syukur berikut penjelasanya:

فشكر العبد الله تعا لى ثنا ؤه عليه بذكر إحسانه إليه وشكر الحق سبحانه للعبد ثنا ؤه عليه بطا عته له إلا أن شكر العبد نطق باللسان وإقرار با القلب بإنعام الرب مع الطا عات

Rasa syukur seorang hamba kepada Allah SWT, melalui pujian kepadanya,dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang telah Allah SWT anugerahkan kepadanya, dan perlu kita simak bahwasanya bentuk wujud rasa syukur sebenarnya kepada Allah SWT, yaitu dengan senantiasa taat serta patuh kepadanya. Hanya saja, rasa syukur seorang hamba mesti dilakukan melalui pengucapan lisan (taqrir bil lisan) serta keteguhan hati, atas curahan nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada seorang hamba diringi dengan ketaatan“.

Baca Juga  Bermaksiat Tanda Menzalimi Diri: Nasehat Imam Al-Ghazali

Namun di sisi lain penulis juga mencoba memparodikan makna dari lafadz syukur tersebut dengan al-hamdu , agar supaya kita sama-sama tahu apa titik perbedaan dari kedua istilah tersebut, dalam hal ini perbedaan antara syukur dan alhamdu, sebagai berikut:

قلت : الصحيح أن الحمد ثناء على الممدوح بصفاته من غير سبق إحسان و الشكر ثناء على المشكور بما أولى من الإحسان

Imam Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, bahwasanya pendapat yang shahih adalah bahwa al-hamdu merupakan sebuah bentuk sanjungan kepada yang dipuji dengan sifat-sifatnya tanpa didahului oleh perbuatan yang baik darinya, sementara itu syukur merupakan sanjungan terhadap yang disyukuri disebabkan kebaikan yang telah diberikan kepadamu. 

Kesimpulanya

Al-hamdu itu sifatnya lebih umum daripada as-syukur, dikarenakan dalam al-hamdu itu terdapat tsanaa (sanjungan), at-tahmid (pujian), serta asyukur (syukur). Wallahu’alam