Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Peringatan Al-Quran: Jangan Mengolok Sesembahan Agama Lain!

Sesembahan
Sumber: istockphoto.com

Sebagai seorang muslim sejati, sudah sepatutnya role model kehidupan yang menjadi tolak ukur adalah kitab suci al-Qur’an. Salah satu role model yang diajarkan kitab suci al-Qur’an, yaitu larangan mengolok-olok terhadap sesembahan agama lain. Pun termasuk juga menjaga relasi dengan non-Muslim dari berbagai aspek kehidupan. Selagi mereka tidak memerangi ummat Islam, maka wajib bagi ummat Islam untuk berlaku adil terhadap mereka. Berikut ulasan ayat-ayat kitab suci al-Qur’an terkait larangan mengolok-olok sesembahan agama lain, serta membangun relasi bersama mereka, berikut ulasanya:

Larangan Memperolok Sesembahan Agama lain

Janganlah kamu cerca (berhala) yang mereka sembah, selain daripada Allah SWT nanti mereka mencerca Allah SWT juga dengan aniaya, tanpa ilmu pengetahuan. Dimikianlah kami hiaskan bagi tiap ummat amal perbuatanya, kemudian tempat kembali mereka kepada Tuhanya, lalu Allah mengabarkan kepada mereka apa-apa yang telah mereka perbuat’’. QS. Al-An’am[6]:108

Mahmud Yunus menjelaskan dalam tafsirnya tafsir al-Qur’anul al-karim, bahwasanya dalam ayat ini Allah SWT melarang mencela berhala yang mereka jadikan sesembahan. Karena hal itu akan membawa dan menarik mereka untuk mencela Allah SWT, sebagai balasan bagi mereka karena telah mencela berhala atau sesembahannya. Inilah petunjuk Al-Qur’an yang wajib kita taati pungkas Mahmud Yunus. Kita tidak boleh mencela orang, meskipun dia bersalah. Karena hal itu akan dibalasnya dengan mencela kita pula. Kemudian lanjut Mahmud Yunus, mencela berhala mereka saja dilarang, apalagi mencela orang yang menyembahnya. (Yunus, 2003, p. 195)

Membangun Relasi Dengan Non-Muslim

           لاَيَنْهكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْا اِلَيْهِمْ  اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Allah SWT tidak mencegah kamu untuk berbuat kebajikan dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dan tidak mengusirmu dari kampung-kampungmu. Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berlaku adil’’ QS.Al-Mumtahanah [60]:8

Dalam pengalan ayat ini,  اَيَنْهكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِي الدِّينِ, tidak ada larangan dari Allah SWT untuk berlaku baik kepada orang-orang kafir. Selagi orang-orang kafir tersebut tidak memerangi kalian. Selanjutnya, kalimat penggalan ayat اَنْ تَبَرُّوْهُمْ, berkedudukan badar daripada الَّذِيْنَ. Selanjutnya kalimat, وَتُقْسِطُوْا اِلَيْهِمْ, bermakna pemberlakuan yang bernuansa keadilan terhadap mereka dalam perkara pengambilan keputusan perkara-perkara mereka. (az-Zuhaili, 2013)h. 508

Baca Juga  Islam dan Tradisi dalam Surah Al-A’raf Ayat 199

Dalam ayat ini, pungkas Wahbah Az-Zuhaili, tidak terdapat larangan dari Allah SWT, yaitu untuk bersikap baik terhadap orang-orang kafir, yang senantiasa berperangai secara damai dengan kalian, berupa, tidak mengusir kalian dari tempat tinggal ataupun senantiasa memerangi kalian karena agama. Dalam hal ini, Wahbah Az-Zuhaili mencontohkan perangaian baik tersebut, yaitu menyambung kekerabatan, menghidangkan jamuan saat mereka berkunjung, ataupun bertetangga secara baik. Selain itu, pun termasuk penunaian hak-hak mereka secara adil. Berupa, menunaikan janji dan amanah mereka, maupun menyangkut aspek ekonomi seperti perniagaan secara adil.

Hal tersebut, penulis buktikan melalui sosok Rasulullah SAW sendiri selaku utusan Tuhan. Beliau terbukti pernah bermuamalah dengan seorang Yahudi, yang mana Rasulallah SAW menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi tersebut.. (Az-Zuhaili, 2012).h. 412. Allah SWT sangat mencintai keadilan serta tidak mecintai tindak-tanduk yang mengarah kepada kedzhaliman. Dan salah satu bentuk perjanjian damai itu, untuk menghindari kedhazliman tersebut, pungkas Wahabah az-Zuhaili. Yaitu layaknya Khuza’ah yang berjanji dengan Rasulallah SAW, untuk tidak memerangi beliau serta kaum Mukminin.  (az-Zuhaili, 2013)h. 510.

Asbabun Nuzul Surah al-Mumtahanah Ayat 8

قَدِمَتْ اُمِّي, وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ, إِذْ عَاهُوْا, فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم, فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ وَهِيَ رَاغِبَةٌ, أَفَأَصِلُهَا ؟ قَالَ : نَعَمْ, صِلِي أُمِّكِ, فَأَنْزَلَ اللهُ فِيْهَا : (لاَيَنْهكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِي الدِّينِ)

‘’Pada saat perjanjian damai antara Rasulallah SAW dengan Quraisy, ibuku mengunjungiku. Sedangkan kala itu ibuku seorang perempuan musyrik. Lantas aku mengunjungi Rasulallah SAW serta bertanya, ‘’wahai Rasulallah SAW, sesungguhnya ibuku datang untuk mengunjungiku serta mengharapkan baktiku kepadanya, lantas, bolehkah aku berbuat baik kepada ibuku?, kemudian Rasulallah SAW, mengakatan: ‘’ya, lakukakanlah kebaikan kepada ibumu, sambutlah ia, serta perlakukanlah ibumu dengan elok’’. Lalu turunlah surah al-Mumtahanah ayat delapan.  (az-Zuhaili, 2013, h. 509)

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 62 (3): Iman dan Islam

Asma binti Abi Abi bakar dikunjungi oleh ibunya yang merupakan perempuan musyrik bernama Qutailah binti Abdul Uzza sembari membawa bingkisan berupa hadiah, yang berisi ‘’shinab’’, yaitu makanan yang terbuat dari bizi sawi serta zabib, aqith(keju), serta samn(mentega). Lantas, putrinya Asma menolak hadiah serta melarang ibunya masuk kedalam kediamanya. Selanjutnya, Asma mengutus seseorang untuk mengunjungi Aisyah r.a, lalu meminta bantuan untuk kesediaan Aisyah menanyakanya kepada Rasulallah SAW, pasca Aisyah menanyakanya, lantas Rasulallah SAW pun, membolehkan ibu Asma tersebut masuk, serta memperbolehkanya untuk menerima bingkisan hadiah dari ibunya. Kemudian turunlah surah al-Mumtahanah ayat delapan.’’  (az-Zuhaili, 2013) h. 509

Dan berkenaan dengan cerita Asma binti Abu Bakar yang diberi hadiah oleh ibunya yang musyrik. Pun terlukis juga dalam tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur karya Hasby Ash-Shidiqiey. Yaitu perihal surah al-Mumtahanah ayat delapan, yang mana pada dasarnya Nabi Muhammad SAW mempersilakan ibu dari Asma tersebut untuk masuk kedalam rumahnya dengan menyambutnya sebagaimana mestinya, serta menerima pemberian hadiah dari ibunya. (Ashiddieqy, 2000)h. 4193.

Dalam tafsir al-Qur’anul Majid An-Nur, disebutkan bahwa terdapat juga yang menyebutkan, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Khuza’ah Banil Harts, Kinanah, Muzainah, serta segelintir golongan Arab yang sudah berdamai dengan Rasulallah SAW. Yaitu untuk tidak memeranginya serta tidak memihak terhadap musuh. (Ashiddieqy, 2000)h. 4193 Wallahua’lam

Penyunting: Bukhari