Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mempertemukan Aliran Tradisionalis dan Aliran Revisionis

Sumber: https://ahmadbinhanbal.com/

Aliran tradisionalis dan aliran revisionis  merupakan dua aliran besar dalam pengkajian Islam, khususnya dalam pendekatan sejarah. Aliran tradisionalis identik dengan cendikiawan Muslim, di mana mereka menggunakan sumber-sumber tulisan Islam dalam kajian mereka. Sedangkan aliran revisionis identik dengan cendikiawan Barat. Di mana mereka menggunakan bukti-bukti empiris berupa temuan-temuan sejarah (arkeologis) dalam kajian mereka tentang sejarah Islam.

Dua aliran ini memiliki pemahaman dan asumsi dasar yang sangat berbeda dalam mengkaji Islam. Masing-masing mereka saling mengklaim bahwa aliran mereka adalah yang paling benar.

Dua Aliran Besar Dalam Pengkajian Islam

Pertama aliran tradisionalis. Mereka meyakini bahwa literatur Islam yang berasal dari pertengahan abad ke-2 H/ke-8 M dan setelahnya, benar-benar telah menggambarkan fakta sejarah Islam masa lalu. Oleh karena itu mereka mencukupkan diri dengan sumber-sumber tertulis. Serta tidak memerlukan temuanan arkeologis dalam proses analisa peristiwa sejarah. Kemudian apabila ditemukan perbedaan informasi sejarah, maka diselesaikan dengan cara mengkaji dan menelaah rangkaian transmisi. Transmisi dari para pembawa berita (rawi) yang dikenal dengan istilah sanad atau isnad.

Kedua aliran revisionis. Mereka meyakini bahwa sumber tertulis tidak bisa menggambarkan apa yang benar-benar telah terjadi. Tetapi hanya menjelaskan apa yang telah terjadi menurut penulis. Atau apa yang penulis inginkan agar orang lain percaya bahwa sesuatu atau peristiwa itu telah terjadi. Mereka juga meyakini bahwa temuan arkeologis mampu mempresentasikan apa yang telah terjadi. Maka informasi yang terdapat dalam karya tertulis harus diperiksa kembali kebenarannya melalui temuan arkeologis.

Mengapa bisa terjadi perbedaan pandangan yang sangat signifikan antara dua aliran tersebut? Tentu ada faktor yang melatarbelakanginya.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Seks Bagi Anak

Aliran tradisionalis yang umumnya dianut oleh cendikiawan Muslim meyakini bahwa literatur Islam betul-betul bisa menggambarkan sejarah Islam masa lalu. Ini disebabkan karena adanya unsur teologis dan ideologis mereka sebagai seorang penganut agama Islam. Di mana mereka melakukan kajian berangkat dari rasa percaya dan keimanan sebagai seorang Muslim.

Sedangkan aliran revisionis yang umumnya dianut oleh cendikiawan Barat dalam mengkaji Islam, mereka melakukan kajian tidak berangkat dari rasa keimanan tersebut. Sehingga mereka lebih kritis dalam melakukan kajiannya.

Kelemahan Masing-Masing Aliran

Sebenarnya masing-masing aliran saling memiliki kelemahan satu sama lain. Aliran tradisionalis memiliki kelemahan. Di mana sumber-sumber tertulis/literatur yang mereka gunakan baru muncul ratusan tahun setelah terjadinya peristiwa sejarah. Dan ada kemungkinan bahwa literatur tersebut ditulis oleh orang-orang yang berada di bawah kekuasaan Abbasiyah yang berkuasa pada saat itu.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuktikan bahwa peristiwa sejarah yang bersumber dari literatur Islam tidak benar-benar terjadi.

Adapun aliran revisionis juga terdapat kelemahan di dalamnya. Bukti-bukti arkeologis juga tidak luput dari problem. Selain karena bukti-bukti arkeologis memang tidak terlalu banyak jumlahnya. Bukti-bukti tersebut juga tidak lepas dari kemungkinan perubahan bentuk, kadang hanya tersisa sebagiannya, atau bahkan telah menjadi serpihan-serpihan yang terpisah.

Namun demikian, bukti arkeologis tetaplah menjadi salah satu bukti empiris yang bisa menguatkan bahwa peristiwa sejarah banar-benar telah terjadi.

Awal Mula Munculnya Kajian Sejarah Islam

Awal mula kajian sejarah Islam yang dilakukan oleh cendikiawan Muslim sebenarnya memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan studi hadis. Di mana pada mulanya kajian sejarah Islam merupakan cabang dari studi hadis.

Kajian sejarah Islam bisa disebut bermula dari penghimpunan hadis yang dilakukan oleh para ahli hadis. Hal ini bisa dilihat karena hadis berisi pemberitaan tentang diri Nabi saw. dalam segala aspeknya. Menurut para ahli hadis (muḥadditsūn) pengertian/cakupan hadis ialah meliputi perkataan (qaul), perbuatan (fi’l), persetujuan (taqrīr), serta budi pekerti dan penampilan fisik (shifah) Nabi Muhammad saw, juga mencakup biografi (sīrah) beliau. Lebih jauh, ekspedisi militer (maghāziy) atau disebut juga dengan peperangan (ayyām), oleh para sarjana hadis juga dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hadis.

Baca Juga  Ibn al-Qayyim: Hermeneutika Tradisionalistik-Rasional dalam Tafsir

Sejak masa paling awal, ulama-ulama hadis telah membuat pembedaan antara hadis hukum (hadīts al-ahkām) dan hadis yang murni historis. Kemudian dalam perkembangannya, materi hadis hukum menjadi bahan utama dalam perumusan hukum Islam/fikih. Sementara materi hadis non-hukum atau hadis historis menjadi sumber informasi bagi penulisan sejarah Islam awal.

Para ahli hadis telah merumuskan kriteria yang sangat ketat dalam menyeleksi dan menentukan kesahihan hadis. Hal ini terlihat jelas dari rumusan kaidah yang mereka terapkan, di antaranya adalah sanad yang bersambung sampai kepada Nabi Muhammad saw. periwayat bersifat adil dengan segala kriterianya yang ketat; periwayat bersifat dabit (kuat hafalan), terhindar dari syādz (penyimpangan) dan terhindar dari ‘illah (cacat).

Saling Melengkapi Antara Dua Aliran

Pertanyaannya sekarang adalah: “Pendapat mana yang paling benar antara dua aliran tersebut, apakah aliran tradisionalis atau aliran revisionis?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak bisa mengatakan pendapat mana yang paling benar. Hal ini didasari karena pendapat dan pemahaman aliran tradisionalis sangat bermanfaat sebagaimana bermanfaatnya pendapat dan pemahaman aliran revisionis. Sebaiknya kita ganti pertanyaannya dengan: “Bisakah kedua aliran tersebut saling mendukung satu sama lain?”

Sebenarnya antara aliran tradisionalis dan aliran revisionis bisa saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain. Apa yang dilakukan oleh aliran revisionis tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena salah satu bukti empiris yang bisa menguatkan bahwa peristiwa sejarah benar-benar telah terjadi adalah dengan ditemukannya bukti-bukti arkeologis yang mendukung. Pun, sumber-sumber tertulis yang diperpegangi oleh aliran tradisionalis tidak bisa ditolak mentah-mentah begitu saja. Karena sumber awal penulisan sejarah Islam adalah bersumber dari hadis yang memiliki seleksi yang sangat ketat oleh para ahli hadis dalam penerimaanya. Dengan demikian, kedua pandangan antara aliran tradisionalis dan aliran revisionis sebenarnya bisa dipadukan. Bahkan bisa saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain.

Baca Juga  Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Bagi Kaum Lemah