Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Paradigma Thomas Kuhn dalam Transformasi Penafsiran Al-Qur’an

Sumber: https://www.askourimam.com

Konsep pemikiran ilmu pengetahuan yang semakin berkembang salah satunya disebabkan karena para tokoh ilmuwan yang tidak mempercayai atas tawaran teori-teori tertentu ilmuwan lainnya, sebagaimana Thomas Kuhn. Hal ini jelas bahwa era modern adanya kebebasan berfikir dalam menguasai alam semesta kuncinya pada diri manusia sendiri. Sehingga era baru tersebut dinamakan antroposentris yang sebelumnya telah melewati gaya berfikir era  kosmosentris dan teosentris.

Salah satu tokoh filsuf yang menguraikan pola perubahan ilmu dalam sejarah manusia adalah Thomas Kuhn. Seorang tokoh filsuf, fisikawan, dan sejarawan Amerika Serikat yang lahir pada tahun 1922-1996 memberikan pengaruh kontribusi terutama pada bidang akademik. The Stucture of Scientific Revolution karya fenomenalnya yang mengusung terkait konsep pegeseran paradigma. Dalam hal ini sains mengalami pergeseran paradigma dan juga tidak bergerak dalam jalur yang lurus.

Revolusi Pemikiran Thomas Kuhn

Adapun konsep revolusi pemikirannya meliputi preparadigma, normal science, anomaly, crisis, revolution yang mana urutan tersebut menjadi kesatuan yang utuh. Sehingga nantinya terbentuk dengan istilah pergeseran paradigma baru. Dalam tahap preparadigma maksudnya adalah bahwa masing-masing ilmuwan menyampaikan argumen teori-teori sendiri tanpa belum adanya kesepakatan dan tidak ter-organisir. Dengan demikian, apabila teori tertentu telah disepakati maka akan muncul paradigma tunggal yang diterima oleh semua ilmuwan. Hal ini berarti menurut Thomas Kuhn bahwa sains sendiri bukan sesuatu yang benar dari dirinya, melainkan sebuah ilmu yang telah disepakati kebenarannya. Jadi benar salahnya ilmu itu sebab adanya kesepakatan.

Sesudah preparadigma dan telah terjadi kesepakatan paradigma, pada tahap ini memasuki normal science yang mana tidak ada sengketa pendapat terkait hal-hal flundamental antara para ilmuwan. Situasi ini menggambarkan aktivitas pembentukan suatu ilmu menjadi terarah. Adapun ciri paradigma yang bisa diterima adalah terdiri dari sifatnya yang akurat, konsisten, general, dan simpel. Setelah normal science berjalannya waktu, tahap selanjutnya akan memasuki anomaly, yang muncul adanya kejanggalan ataupun penyimpangan dalam paradigma ilmiah yang telah disepakati sebelumnya. Jika anomaly semakin banyak, akibatnya memasuki tahap crisis, sehingga adanya paradigma yang telah disepakati mulai diragukan kebenarannya.

Baca Juga  Bahaya Penafsiran dengan Pendapat Pribadi (Bira'yi)

Pada tahap crisis paradigma telah menjadi tidak jelas dalam menanggapi persoalan-persoalan baru dan tentunya perubahan-perubahan yang terjadi sesuai dengan kondisi bertentangan dengan paradigma lama. Dalam hal ini para ilmuwan mulai mengekspresikan kegalauannya dan mulai muncul beberapa tawaran solusi untuk memecahkan tahap crisis. Dengan begitu muncullah paradigma baru yang menjadi jawaban dari permasalahan tersebut. Sehingga pada tahap pergantian paradigma lama ke paradigma baru merupakan era revolution.

Transformasi Pemikiran Thoman Kuhn Terhadap Al-Qur’an

Siklus diatas menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan bersifat non-kumulatif yang dapat berkembang secara terus-menerus. Kemunculan sebuah paradigma baru juga memberikan petunjuk terkait cara merubah metodologi yang lebih baik dalam menanggapi anomaly dan crisis. Begitupun ketika ditransformasikan pemikiran Thomas Kuhn dengan Al-Qur’an. Yang ditekankan adalah paradigma manusia itu sendiri. Dengan demikian, dalam pemikiran Islam yang direvolusi bukan teks Al-Qur’annya, tetapi paradigma metodologi dalam memahami teksnya.

Perlunya menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan dengan realitas perkembangan zaman. Interpretasi penafsiran Al-Qur’an mampu memberikan kesan agama Islam sebagai agama yang rahmatallil’alamin. Dinamika paradigma umat Islam harus dilakukan secara terus-menerus sesuai dengan konteks zaman. Sehingga dalam menafsirkan Al-Qur’an tidak hanya menggunakan metode lama, tetapi juga harus memperhatinkan antara teks dan konteks.

Karena belajar dari konsep paradigma lama dan baru tentu metodologi yang baru dinilai lebih relavan. Artinya telah terjadi pengembangan paradigma yang telah melewati berbagai permasalahan-permasalahan yang dihadapi, dengan begitu metode yang baru lebih komprehensif dalam menanggapi problem yang luas.

Paradigma Penafsiran Yang Dinamis

Pemikiran para tokoh filsuf sejatinya mempengaruhi cara berpikir manusia. Adanya mencentuskan sebuah konsep juga tidak hanya didasari dengan angan-angan semata. Tetapi sudah dilakukan dengan pembuktian yang nyata.

Baca Juga  Sekilas Implikasi Manusia, Nafsu, dan ‘Ilm menurut Semantik Al-Qur’an

Apabila direnungkan adanya teori Thomas Kuhn terkait revolusi Ilmiah juga dapat dikaitkan dengan keilmuwan Islam salah satunya dalam ilmu Al-Qur’an. Sesuai dengan perubahan konteks pewahyuan Al-Qur’an juga tidak dapat disamakan dengan konteks yang akan datang. Maka hal ini benar bahwa paradigma manusia mengalami pergeseran karena dilandasi dari kondisi sosial yang berbeda. Singkatnya teks Al-Qur’an bersifat statis tetapi paradigma dalam memahami Al-Qur’anlah yang bersifat dinamis.