Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memaknai Kata Istawa dalam Surat Thaha Ayat 5

istawa
Sumber: istockphoto.com

Di dalam mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an kita diharuskan untuk mengetahui isi dari ayat-ayat tersebut terlebih dahulu dengan cara mengetahui arti serta memaknai arti dari ayat-ayat tersebut. Setiap ayat yang termaktub di dalam al-Qur’an memiliki asbabun nuzul atau peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat tersebut, seperti ayat ayat muhkam maupun ayat ayat mutashabihat. Di sini penulis akan mencoba menafsirkan kata “Istawa” dalam surat Thaha ayat 5:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

Ayat tersebut mengartikan bahwa tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas “arsy” atau singgasana. Kata “istawa” inilah yang mengumpamakan bahwa tuhan bersemayam atau duduk diatas singgasana seperti layaknya mahluk. Secara tidak langsung ayat tersebut mengesakan adanya keserupaan antara allah dengan mahkluknya.   

Teori Semantik Kata Istawa

  • Teori perluasan makna

Di dalam teori Perluasan makna kalimat “istawa” yang terkandung di dalam surat thaha ayat 5 dapat diperluas dari kata bersemayam atau duduk menjadi kalimat yang mengandung unsur latar tempat. Tempat yang dimaksud di sini ialah “arsy” yang digambarkan sebagai tempat dimana hanya allah swt yang yang layak menempati tempat tersebut.

  • Teori penyempitan makna

Di dalam teori Penyempitan makna kalimat “istawa” dapat di persempit menjadi tonggak kekuasaan allah swt yang meliputi alam semesta dan seisinya. Secara harfiah kalimat bersemayam di persempit menjadi kalimat berkuasa atas kekuasaan

  • Teori perubahan total

Di dalam teori Perubahan total makna dapat diubah total menjadi arti lain seperti yang di gambarkan oleh para mufasir. Disini kata “istawa” yang berarti bersemayam atau duduk diubah menjadi kalimat kekuasaan allah swt yang meliputi alam semesta dan seisinya. Jadi kalimat istawa ialah pengibaratan atas allah yang memiliki kekuasaan berupa alam semesta dan seisinya.

  • Teori pengasaran dan penghalusan makna
Baca Juga  Lima Argumen Lailatul Qadar sebagai Malam Kemuliaan

Di dalam teori Pengasaran makna dapat dikasarkan menjadi kursi atau singgasana raja. Sedangkan jika di kaji dalam teori penghalusan kalimat “istawa” dapat diartikan sebagai berkuasa atas kekuasaan.

  • Teori perpindahan makna

Yang terahir ialah teori Perpindahan makna yang dapat mengubah kalimat yang seharusnya dimaknai secara khusus menjadi multi tafsir. Seperti kalimat ”istawa” dapat diartikan menjadi berbagai macam penafsiran diantaranya seperti: bertempat, bersemayam, berkuasa, mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta dan lain-lain

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, bahwa kalimat “istawa” memiliki makna bahwa allah berkuasa atas segala kekuasaan yang ada di alam semesta dan seisinya seperti yang tertera di dalam QS Thaha ayat 5. Dapat diketahui bahwa suartu kata atau kalimat pasti memiliki makna serta rujuan di dalamnya. Seperti kalimat “istawa” yang memiliki berbagai tafsiran di dalamnya sehingga terdapat berbagai perbedaan para mufasir didalam mengkaji serta menafsirkan ayat-ayat yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Editor: An-Najmi