Tidak ada habisnya jikalau berbicara mengenai keindahan bahasa dalam Al-Qur’an. Banyak sekali kata-kata yang memiliki beragam makna yang mendalam dan mengandung nilai yang tinggi. Hal itu, sangat dibutuhkan perangkat ilmu untuk memahami kandungan isi Al-Qur’an agar tidak terjebak dengan tekstual ayatnya saja. Akan tetapi harus memahami kontekstual dan arti pesan ayat yang disampaikan. Khususnya berkaitan dengan mutarādif.
Kaidah Mutarādif
Menurut Al-Jurjani dalam kitab Al-Ta’rifat, mutarādif merupakan setiap kata yang memiliki satu makna dan memiliki beberapa nama. Juga mutarādif itu berlawanan dengan kata musytarak. Seperti kata al-laits dan al-asad yang berarti singa.
Kendati demikian, kalau kita hanya berpatokan dengan kamus atau terjemahan ayat, menganggap setiap lafadz yang kelihatan sama, juga memiliki arti dan makna yang sama. Namun, di dalam Al-Qur’an sebenarnya ada sebagian ayat yang seakan-akan bersinonim tapi bila diteliti lebih jauh lagi memiliki makna yang berbeda.
Pendapat Az-Zarkasyi misalnya, dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an berpendapat bahwa seorang mufasir harus memperhatikan penggunaan-penggunaan majaz di dalam lafadz yang disangka tarāduf. Harus berusaha menghilangkan tarāduf sebisa mungkin. Karena suatu susunan itu memiliki suatu makna lebih daripada makna satu. Karena itulah, kebanyakan ulama ushul fiqh tidak mengakui adanya dua kosakata yang saling sinonim dalam susunan kalimat. Walaupun mereka mengakui keberadaannya dalam bentuk tunggal.
Begitu juga dengan pendapat Quraish Shihab, dalam bukunya Kaidah Tafsir diterangkan mengenai mutarādif. Terdapat perbedaan makna antara kedua kata yang kelihatan sama, baik dalam satu susunan kalimat atau dua ayat yang berbeda. Seperti kata rahmān dan rahīm yang mempunyai makna berbeda.
Kata mathar dan ghaits
Kata yang seakan sama, tapi ayat tersebut dihubungkan dengan objek yang berbeda maka kata-kata tersebut memiliki makna yang berbeda pula. Maka sangat penting untuk mengetahui perbedaan makna yang terdapat pada ayat Al-Qur’an sesuai konteks dan penggunaan ayat tersebut.
Setelah saya perhatikan, diberbagai terjemahan Al-Qur’an, menunjukkan bahwa kedua lafadz tersebut sama-sama mengalihbahasakan dengan arti hujan. Begitupun juga, saya cek di berbagai kamus Arab-Indo, Kamus Al-Munawwir misalnya al-mathar sama dengan al-ghaits artinya hujan.
Kalau kita perhatikan, dengan pemaknaan dalam lafadz Al-Qur’an yang hanya bermodalkan dengan kamus terjemahan saja. Akan terasa kurang tepat untuk pemaknaan lafadz dalam Al-Qur’an. Karena kurang sesuai dengan konteks dan sasaran ayat tersebut.
Lafadz Mathar
Berdasarkan penelusuran di kitab al-Mu’jam al-Muhfaras li Alfadz Al-Qur’an karya Fuad Abdul Baqi, disebutkan lafadz Mathar sampai 15 kali dalam 9 surat. Di antaranya An-Nisa: 102, Al-A’raf: 84, Al-Anfal: 32, Hud: 82, Al-Hijr: 74, Al-Furqan: 40, Asy-Syu’ara: 173, An-Naml: 58, Al-Ahqaf: 24. Berikut penjelasan dari salah satu ayat:
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
Artinya: “Maka tatkala datang ketentuan Kami, Kami jadikan yang di atasnya ke bawahnya dan Kami hujani mereka dengan sijjil dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)
Ayat ini menceritakan tentang keadaan Nabi Luth dan para kaumnya yang melanggar syari’at berupa melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis. Nabi Luth as. mendapatkan perintah dari Malaikat untuk meninggalkan kota Sodom sebelum datangnya waktu subuh. Karena akan datang siksa yang besar bagi kaum tersebut.
Quraish Shihab menjelaskan siksa tersebut berupa hujan batu yang bercampur tanah. Kemudian membeku dan mengeras menjadi batu yang menimpa kaum mereka secara bertubi-tubi.
Di dalam kitab tafsir At-Tahrīr wa at-Tanwīr, Syekh Ibnu ‘Asyur menyebutkan lafadz Sijjīl dimaknai dengan batu yang diambil dari lembah api di neraka jahanam. Dikatakan juga Sijjīl merupakan kata berasal dari bahasa Persia (Sanka Jil). Yang berarti batu yang dicampur dengan tanah. Dan lafadz Mandhūd artinya hujan tersebut turun secara berurutan tanpa adanya jeda.
Al-Maraghi menjelaskan, hujan ini biasanya terjadi dengan Allah mengirimkan angin kencang dengan membawa beberapa batu dari lembah atau sungai. Kemudian Allah melemparkannya ke tempat yang di kehendaki.
Lafadz Ghaits
Sedangkan penyebutana lafadz Ghaits sebanyak 6 kali dalam 5 surat. Di antaranya Yusuf: 49, Al-Kahfi: 29, Luqman: 34, Asy-Syura: 28, Al-Hadid: 20. Berikut penjelasan salah satu ayat tersebut:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya: “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28)
Syekh Ibnu ‘Ashur dalam tafsirnya memaknai al-Ghaits yaitu hujan yang turun setelah kekeringan. Hal itu merupakan rezeki yang agung dan Allah menurunkan dengan kadarnya. Dapat dipahami bahwa Allah menurunkan hujan dengan kadar jumlah dan waktu hujan.
Maksud kata ar-rahmah disini yaitu rahmat-Nya dengan hujan. Ayat ini turun berkenaan dengan doa Nabi Muhammad atas berakhirnya musibah kekeringan yang dilanda oleh kaum Quraisy selama tujuh tahun berturut-turut. Ini terjadi setelah mereka memakan bangkai dan tulang untuk menyambung hidup.
Dalam tafsir al-Maraghi, diterangkan bahwa Dialah (Allah) yang menurunkan hujan dari langit dan memberikan pertolongan setelah mereka berputus asa atas turunnya hujan. Ketika mereka membutuhkannya, kemudian Allah menyebarkan keberkahan, kemanfaatan dan menghasilkan kesuburan tanah atas hujan tersebut.
Kesimpulan
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa, antara mathar dan ghaits memiliki arti yang sama yaitu hujan. Akan tetapi setelah diteliti sesuai dengan konteks lafadznya, masing-masing dari kedua lafadz tersebut memiliki makna yang berbeda. Mathar bermakna hujan disertai dengan azab. Sedangkan Ghaits bermakna hujan disertai dengan rahmat dan pertolongan.






























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.