Saya selalu terngiang kata-kata Pramoedya mengenai betapa pelik manusia. Pram pernah menulis dalam Bumi Manusia : “Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana ; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”
Walau begitu, pertanyaan tentang manusia selalu muncul dari masa ke masa. Semenjak ribuan tahun yang lalu, orang sudah memikirkan mengapa manusia ada di bumi ini?. Baik dari segi agama, filsafat, maupun dari tradisi serta sudut kebudayaan.
Mengenali Tuhan
Pengetahuan tentang manusia memang tidak pernah surut dicari dan dipelajari. Orang masih mempertanyakan eksistensinya di dunia ini. Pengetahuan eksistensial inilah yang amat sangat penting. Sebab dengan menemukan jawaban dari pertanyaan eksistensial ini, kita akan mengenali Tuhan, menemukannya.
Di tahun 2009, Garin Nugroho menulis buku berjudul Who Is God?. Ia menulis pernyataan tentang Tuhan dan Manusia. Menyitir pendapat Mario Teguh “bukti bahwa kita mencintai Tuhan adalah ketika kita mencintai sesama manusia.”Dengan menggunakan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita, maka kita telah mengucapkan terimakasih kepada Tuhan. Semua tindakan itu didorong oleh akal sehat. Garin menyimpulkan “Semua tindakan manusia didasari oleh akal sehat. Begitupula dengan pencarian Tuhan.”
Ketika kita merenungi setiap inci ciptaan Tuhan dalam diri kita, kita akan menemukan tidak hanya keajaiban penciptaan. Namun kita juga menemukan setiap apa yang diciptakan Tuhan dalam diri kita tidaklah sia-sia. Semua mengandung “hikmah”, tamsil, ilham untuk kita.
Betapa seluruh organ dalam hidup kita adalah satu kesatuan yang serasi, tidak bisa dipisahkan satu sama lain, memiliki sistem yang teratur, dan juga memiliki satu sifat “taat” pada pembuat atau pencipta-Nya. Mari kita membayangkan sejenak satu sel saja yang mengalami kerusakan. Satu bagian dari tubuh kita memiliki masalah atau problem, maka satu tubuh kita pun akan merasakan hal yang tidak normal alias sakit. Satu sel di otak kita misalnya rusak, maka sudah tentu bukan hanya bagian kepala saja yang akan terganggu, tapi juga seluruh badan kita.
Setiap elemen tubuh kita memiliki fungsi masing-masing tetapi tidak bergerak atau bergeser dari perintah Tuhan. Mereka semua berada dalam kuasa-Nya. Begitupula kita (manusia) meskipun berbeda suku, budaya, mereka kelak tidak bisa tidak harus menerima dan menaati perintah Tuhan. Ketika Tuhan menghendaki sesuatu terjadi pada tubuh kita, pada alam kita, pada bumi ini, maka terjadilah. Ini menandakan bahwa setiap diri kita, alam semesta memiliki satu sifat taat atau patuh sebagai hamba Tuhan.
Mengenal Hamba
Apa itu hamba? Seperti apa kewajiban-kewajibannya? Dan bagaimana seorang hamba meski bersikap pada tuannya?. Rumi menjawab pertanyaan ini dengan perumpamaan yang indah dalam Fihi Ma Fihi. “Seorang raja memerintahkan para pelayan agar masing-masing memegang satu gelas emas karena tamu akan datang. Sang Raja juga memerintahkan hal yang sama pada pelayan yang paling dekat hatinya. Ketika sang Raja menampakkan wajahnya, pelayan yang paling dekat hatinya itu hilang kesadaran, dan tidak bisa mengendalikan diri karena melihat sang Raja. Cangkir dan kacanya pecah. Pelayan-pelayan lain saling berkata “barangkali ini yang harus kita lakukan” Mereka melemparkan cangkir-cangkir itu.
Sang Raja marah, “ mengapa kalian melakukan itu?”
“karena pelayan yang paling dekat denganmu melakukannya.”
“Bodoh! Bukan dia yang menjatuhkan cangkirnya, tetapi aku yang melakukannya.”
Kehambaan si pelayan paling dekat itu hanya bentuk lahiriah. Ia dipenuhi keindahan sang Raja.
Dari cerita itu kita mahfum, bahwa sejatinya adanya kita, seorang hamba hanyalah karena kasih sayang, keindahan, dan juga kekuasaan Tuhan. Dan tidaklah seorang manusia diciptakan kecuali ia menjadi seorang hamba Tuhan.
***
Penemuan-penemuan penting abad modern, hasil ciptaan manusia dari zaman purba hingga era sekarang semakin membuktikan betapa hebat dan agungnya pencipta manusia. Penemuan-penemuan itu bukan hanya menegaskan betapa hebatnya manusia, melainkan memberikan bukti betapa ajaibnya sistem organ, maupun karunia yang diberikan oleh pencipta manusia (Tuhan).
Kehidupan dan kematian adalah yang paling bisa kita lihat secara nyata betapa semua itu tidak hadir dengan sendirinya, melainkan ada yang mengatur. Tuhan pada akhirnya tidak bisa dijangkau layaknya akal yang menjangkau semesta ini.
***
Mengutip Jalaluddin Rumi “ Akal ibarat laron dan sang kekasih seperti api lilin. Laron akan terbakar mati jika mendekatkan dirinya ke api lilin. Karakter laron adalah meski ia akan terbakar dan menanggung deritanya, ia tak bisa menjauhkan diri dari api lilin.”
Itulah esensi dari seorang hamba yang senantiasa mencari dan mendekati cahaya. Meski tahu bahwa dirinya akan hangus dan terbakar, ia tetap mendekat pada api lilin, mendekat pada cahaya. Pada akhirnya, kita (manusia) sejatinya adalah makhluk yang merindu cahaya, saat kita berjalan dalam jalan yang gelap gulita, dan fana ini. Dan kita tahu, Tuhan adalah cahaya maha cahaya.
Editor: An-Najmi Fikri R



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.