Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang diturunkan Allah sebagai mukjizat terbesar kepada Nabi Muhammad Saw. Isi Al-Quran dipenuhi dengan berbagai kisah para nabi dan rasul. Al-Quran menyebutkan kisah mereka agar dapat dijadikan sebagai suri teladan dan contohan bagi umat manusia. Kisah nabi dan rasul tentu sangat menarik untuk diceritakan. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba menelusuri satu kisah menarik yaitu kisah Nabi Yusuf. Diketahui bahwa, kisah Nabi Yusuf adalah kisah yang sangat indah ditinjau dari seni cerita dengan perempuan mesir. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa Al-Quran menceritakan kisah tersebut secara lengkap dalam satu surah yang diabadikan dengan namanya sendiri, yaitu surah Yusuf.
Nabi Yusuf adalah anak kandung dari Nabi Ya’kub dan nasabnya bersambung sampai kepada Nabi Ibrahim as. Nabi Yusuf adalah seorang nabi yang dianugrahi wajah tampan dan menawan serta keimanan yang kuat. Kondisi perempuan mesir menarik dikaji. Ketampanan rupa Nabi Yusuf terlihat sejak ia mulai menginjak usia dewasa. Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan Al-Quran: “wa lamma balagha asyuddahu”. Kata “asyuddah” dapat diartikan dewasa, dimana usia dewasa adalah usia matang yang menunjukkan keperkasaan bagi laki-laki dan kecantikan bagi perempuan.
***
Menurut M. Quraish Shihab dalam tarsirnya Al-Misbah menyebutkan: bahwa usia kematangan yang dimaksud dalam pernyataan di atas adalah usia muda dengan kisaran antara 33 sampai 40 tahun. Di usia tersebut Yusuf sangat tampan dan menawan sehingga banyak perempuan yang menaruh perhatian kepada Yusuf. Salah satunya adalah perempuan cantik bernama Zulaikha. Ia sangat tergila-gila kepada Yusuf dengan ketampanan yang dimilikinya. (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah. Jakarta, Lentera Hati: 2002, jilid 6, hal 420).
Ketika Zulaikha jatuh cinta kepada Yusuf. Suatu hari, Zulaikha masuk kekamar Yusuf ingin melakukan perbuatan mesum dengannya. Awalnya Zulaikha hanya memandang dan memperhatikan Yusuf serta menahan nafsunya yang sedang menggejolak. Namun, hari demi hari yang selih berganti nafsunya tidak dapat lagi dibendung lagi. Kemudian Zulaikha bertekat akan menggoda Yusuf dengan cara masuk kekamar Yusuf serta menggunci pintu kamar dengan harapan hasratnya tersalurkan bersama Yusuf.
Ketika pintu dan celah-celah dibagian kamar telah dipastikan tertutup rapat. Kemudian Zulaikha mulai mengutarakan rayuannya kepada Yusuf dengan nada halus dan lembut. Ia berujar “Haita laka” (kemarilah engkau wahai Yusuf)! Mendengar rayuan manis Zulaikha, Yusuf terdiam serta tetap bertahan dan panggilan itu tidak dikabulkan. Kemudian Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya tuanku amat baik kepadaku” (QS. Yusuf ayat 23). Kata “tuanku” yang dimaksud adalah suami Zulaikha. Ia telah memberi kepadaku tempat tinggal, mengasihi, menyayangi dan menganggap diriku sebagai anaknya sendiri.
***
As-Samarkandi berkata, Yusuf menolak ajakan Zulaikha karena mempertimbangkan dua hal: Pertama, karena ia takut berbuat dosa. Kedua, karena ia tidak ingin berbuat dhalim kepada tuannya. Selama ini tuannya (suami Zulaikha) telah memperlakukannya dengan baik, Yusuf tidak ingin membalas suatu kebaikan dengan kejahatan. (As-Samarkandi, Tafsir Samarkandi Bahr Al Ulum. Beirut, Dar al-Fikr: 1996 jilid 2, hal 187).
Maka Yusuf akan tetap menjaga kebaikan tuannya supaya tidak rusak oleh kejahatan yang ia lakukan. Oleh karena itu, Yusuf menahan diri dari perbuatan tidak baik itu. Yusuf beranggapan bahwa, tidak mungkin melakukan hubungan tidak baik dengan istri tuannya sendiri dan akhirnya Yusuf bertekat untuk menolak ajakan Zulaikha.
Karena rayuan Zulaikha ditolak, Yusuf segera ingin keluar dari kamar agar terhindar dari godaan itu. Saat menuju pintu kamar, Zulaikha menarik baju Yusuf hingga sobek dibagian belakang. Setelah sampai di pintu, datanglah suami Zulaikha. Ia datang untuk mendamaikan persengketaan yang terjadi antara mereka berdua. Kejadian ini merupakan peristiwa yang bisa dikatakan memalukan, karena istri tuan yang terpandang pada masa itu telah menggoda seorang pemuda di rumahnya.
Setelah peristiwa itu terjadi, mulailah muncul berbagai macam isu tidak baik tentang Zulaikha dan Yusuf keberbagai penduduk Mesir pada waktu itu. Zulaikha mendengar berbagai gunjingan datang dari perempuan-perempuan Mesir yang dialamatkan kepadanya. Kemudian Zulaikha bertekat mengundang seluruh perempuan Mesir kerumahnya untuk membuktikan bahwa tuduhan yang selama ini beredar itu tidak benar. Merekapun datang memenuhi undangan tersebut dan mereka dilayani sebagaimana layaknya tamu dalam sebuah penjamuan makan. Zulaikha menghidangkan berbagai macam makanan dan diberi aneka buah-buahan beserta pisau untuk dikupas.
***
Saat mereka sedang mencicipi makanan dan asyik mengupas buah-buahan. Zulaikha memanggil Yusuf, “Wahai Yusuf, keluarlah dan nampakkan dirimu dihadapan mereka” Maka Yusuf pun keluar. Perempuan tadi sedikitpun tidak menduga akan kehadiran Yusuf dihadapan mereka. Maka dengan serta-merta pandangan mereka semua tertuju kepada Yusuf. Mereka semua melihat keelokan rupa dan penampilan Yusuf dengan rasa taajjub (heran). Sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang melukai jari tangannya sendiri dengan pisau yang diiris berkali-kali.
Ibnu Katsir berkata: saking tidak terasa, mereka terus memotong jari tangannya sampai terputus dan jatuh. Seraya berkata: “Maha suci Allah, sungguh ini bukanlah manusia biasa melainkan malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf [12]:31) Kemudian Zulaikha membalas tuduhan tadi dengan berkata: “kalian baru sekali melihat Yusuf sudah melakukan hal itu, maka bayangkan diriku yang serumah dengannya”! Akhirnya mereka mengakui bahwa yang dihadapi oleh Zulaikha saat ini bukanlah manusia biasa tetapi manusia luar biasa. (Ibnu Katsir. Bidayah wa al-Nihayah, Suriah, Damaskus: 1350 Jilid 4, hal 285).
Demikianlah gambaran ketampanan Yusuf yang dapat menarik perhatian dan membuat hilang kesadaran perempuan Mesir ketika melihatnya. Ketampanan Yusuf tidak hanya perempuan saja yang terpukau, bahkan siapapun yang memandangnya maka akan berkata: “Maha sempurnalah Allah atas ciptaan-Nya”. Wallâhu A’lam.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.