Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Para Penafsir Itu Al-Qussas

Al-Qussas
Sumber: istockphoto.com

“Al-Qur’an tidak berbicara dengan lidah, ia membutuhkan para penafsir dan para penafsir itu adalah manusia.” Penggalan kata-kata ‘Ali (w. 661) ini memperkuat tesis yang diformulasikan melalui risalah ini bahwa Qur’ān itu diam, tak berbicara dengan lisan, dan tidak mengandung makna apa pun di dalam dirinya sendiri.

Tidak ada makna inheren di dalam teks Qur’ān. Adalah para penafsir yang berbicara melalui Al-Qur’än dan memproduksi makna atas teks-teks wahyu. Lautan makna yang beragam dan plural itu adalah produk pikiran para penafsir Al-Qur’ãn.

Para penafsir Al-Qur’an itu adalah al-qussas, suatu nomenklatur yang akrab dalam tradisi awal Islam untuk merujuk kepada mereka yang gemar bercerita tentang banyak aspek kehidupan, termasuk penafsiran Al-Quran. Karena itu, para penafsir Al-Quràn itu identik dengan para tukang cerita dan pendongeng (al-qussas). Sumber cerita, dongeng, dan bahkan karangan mereka berasal dari hadis, cerita-cerita para nabi sebelumnya (qisas al-anbiya) dan lebih dikenal secara peyoratif dalam tradisi Islam sebagai isra’illiyyat.

Padahal, cerita, dongeng, dan fabrikasi kuno sebelum Islam yang berasal dari tradisi Yahudi dan Kristen itu menjadi sumber dan rujukan dalam tradisi penafsiran Al-Qur’an. Para penafsir memang identik dengan al-qussas, para tukang cerita dan pendongeng yang gemar menukil cerita-cerita isra’illiyyat untuk memproduksi makna Al-Qur’än dalam diskursus polemis dengan tradisi Kristen dan Yahudi.

Qass yang heretik dan kontroversial dalam tradisi awal Islam merujuk pada penafsir Basrah Muqatil b. Sulayman al-Balkhi (w. 150/767). Muqatil adalah mufassir dan qass, penafsir dan pendongeng sekaligus. Hal ini terbukti pada Tafsir Muqatil b. Sulayman (2002) yang bercorak pada penafsiran naratif dan cerita dengan sumber-sumber utama pada israiliyyat.

Sebagai mufassir dan qãss sekaligus, Muqätil memiliki pengetahuan yang istimewa tentang tradisi isra’iliyyat dan mentransformasikan tradisi Kristen dan Yahudi sebagai bagian sentral dalam penafsiran Al-Qur’än. Pada Tafsir Muqâtil b. Sulayman, Quran menjadi Kitab yang hidup, bercerita, dan berbicara kepada audiens melalui sang penutur cerita: Mugätil b. Sulayman.

Baca Juga  Kisah Nabi Musa Sebagai Basis Perjuangan
***

Meskipun dikiritik secara luas sebagai penafsir yang menafsirkan Al-Qur’an tanpa sumber yang terpercaya dan tanpa otoritas yang memiliki mata rantai kesinambungan pada para sahabat Nabi Muhammad, Muqatil tetap memperoleh legitimasi otoritatif dalam tradisi penafsiran Al-Qur’an.

la terasosiasikan pata figur terbesar dalam tafsir: ‘Abd Allah b. Abbas (w. 687/688) dan bahkan sejumlah penafsirannya atas teks-teks wahyu berpengaruh pada imam dan figur terbesar dalam penafsiran Al-Qur’ an di awal abad pertengahan: Abu Ja’far Muhammad b. Jarir al-Tabari (W.310/923) melalui kompendium penakwilan Al-Qur’än: Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’än.

Meskipun bersandar pada transmisi otoritas yang terpercaya dengan tipe tafsir yang ditandai dengan mata rantai transmisi otoritas, al-Tabari adalah mufassir dan qãss, yang menafsirkan Al-Qur’an dengan sandaran otoritas pada kisah-kisah isra’illiyyat yang diproduksi oleh al-qussas yang hidup di awal Islam, mulai dari Mujahid b. Jabr (w.102/720), Said b. Jubayr (w. 95/714) dan Al- Hasan al-Basri (W. 110/728). Muqätil dan Tabari adalah sekedar representasi mufassir dan qass, yang berpikiran terbuka pada kisah-kisah isra’iliyyat sebagai sumber rujukan penting dalam penafsiran Al-Qur’an.

Sumber: Suara Muhammadiyah – 17/108 – 1-15 Sepmber

Penyunting: Bukhari