Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Masjid sebagai Pusat Gerakan Islam

Masjid Gerakan
Gambar: https://www.sinergifoundation.org/

Masjid merupakan tempat suci umat Islam yang digunakan dari dulu sampai sekarang. Baik sebagai sarana ibadah atau kegiatan-kegiatan yang bersifat praktis. Akan tetapi, saat ini masjid hanya dijadikan sebagai media atau sarana yang dikhususkan untuk melakukan kegiatan hablu minallah saja.

Jika kita melihat di zaman Rasul SAW, eksistensi masjid bukan hanya sebagai sarana ibadah saja akan tetapi lebih dari itu semua. Mulai peradaban, sosial budaya, pendidikan, dan bagaimana ekonomi umat bisa berjalan dan berkembang bisa dari masjid itu sendiri.(Putra dan Rumondor: 2019)

Tidak usah jauh-jauh menelusuri, cukup melihat masjid Jogokariyan yang berada di Yogyakarta saja. Itu sudah memberikan pemahaman bahwa salah satu pusat gerakan umat Islam berasal dari masjid. (Republika)

Masjid sebagai Gerakan Ekonomi

Sebagai umat Islam perlulah kita sadar akan potensi ini. Bahwa gerakan umat Islam berasal dari masjid itu sendiri. Sebagaimana yang tertulis di Qur’an surah at-Taubah ayat 8, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian….”.

Jika kita melihat arti dari ayat ini, bahwa keimanan seseorang dilihat dari bagaimana dia memakmurkan rumah Allah. Sangat jauh apa yang dilakukan umat saat ini bahwa masjid hanya dijadikan sarana dalam beribadah saja. Padahal sudah sangat jelas bahwa masjid merupakan institusi paling strategis karena berhadapan langsung dengan masyarakat sekitar dalam hal ini umat.(Saputra dan Agustina: 2021)

Pergeseran esensi dalam peranan masjid sudah sangat terlihat jelas. Dari yang tadinya masjid merupakan pusat gerakan akan tetapi hanya dijadikan instrumen sampingan saja. Bisa kita lihat dari anggapan orang-orang terkait keberadaan masjid yang, meminjam istilah Kuntowijoyo, hanya dijadikan layaknya terminal bis saja, ketika orang mau istirahat atau hanya sekedar melaksanakan sholat lima waktu.

Baca Juga  Karakteristik Mutawalli Al-Sha’rāwī dalam Menafsirkan Al-Quran

Pergeseran tersebut disebabkan oleh apa? Dikarenakan masjid kalah bersaing dengan bangunan-bangunan fungsional saat ini. Bisa kita lihat dari adanya pasar. Bahwa dahulu orang-orang berkata bahwa “masjid itu punya pasar”. Akan tetapi berganti menjadi “pasar itu punya masjid”, jadi yang terpenting pasarnya dan bukan masjidnya.(Kuntowijoyo: 2017)

Perlu kita sadari bahwa masjid merupakan identitas umat Islam itu sendiri. Hal ini bisa dilihat ketika Rasul hijrah ke Madinah. Bangunan yang pertama kali dibangun oleh Rasul adalah Masjid.(Imron 2013)

Bangunan yang dinamakan Masjid Quba ini, karena dibangun di daerah Quba. Lantas, akan menjadi sebuah pertanyaan, mengapa yang dibangun Muhammad adalah masjid bukan Istana? Dikarenakan masjid merupakan lambang organisasi yang disandarkan kepada Allah SWT. Sementara istana merupakan lambang birokrasi yang disandarkan kepada penguasa.(Kuntowijoyo 2017).

Singkatnya menurut penulis, masjid merupakan lambang dari peradaban umat Islam sementara istana adalah lambang dari masyakarat umum.

Perlunya Objektifikasi

Pemberdayaan ekonomi yang akan dilakukan umat jika dilakukan di masjid akan ada stigma bahwa hal ini hanya untuk Umat Islam aja. Padahal lebih dari itu, ketika kita berbicara mengenai ekonomi perlunya seluruh umat merasakan akan dampak itu bukan hanya Islam saja, karena tujuan Islam saja Rahmatallil’alami bukan Rahmatalil muslimin.

Jika kita lihat saat ini, umat Islam seakan-akan tidak menggunakan Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan. Seperti halnya sosial, ekonomi, psikologi, dll. Mungkin bisa saja kita sebut bahwa semua keilmuan tersebut berasal dari Islam, akan tetapi kebanyakan metodologi yang digunakan selalu condong ke barat.

Umat perlu ada perubahan Paradigma, bukan hanya membaca lalu menghafal “redaksi” Qur’an akan tetapi mengaplikasikan apa yang ada di dalamnya. Maka dari itu diperlukannya Objektifikasi. Hal ini mengerucut apa yang ditulis Kunto dalam bukunya Islam Sebagai Ilmu, bahwa tujuan Objektifikasi adalah untuk menghilangkan dominasi atas satu kelompok tertentu.

Baca Juga  Mengatasi Anxiety dalam Kurikulum Islam: Resep Qurani

Itulah yang pada akhirnya Islam diakui sebagai Rahmatallil ‘alamin, yang pada akhirnya masyarakat non muslim tidak melihat bahwa dibalik pemberdayaan ekonomi itu ada Islamnya, akan tetapi substansi dari pemberdayaan ekonominya yang dilihat.

Sebagai umat Islam, perlunya kesadaran ini diberlakukan. Jangan sampai pada akhirnya umat Islam tetinggal. Jikalau dalam sebuah keilmuan yang lahir dari daerah manapun, kita ambil baiknya bukan buruknya. Sehingga intergrasi-interkoneksilah yang muncul, bukan sentimen terhadap golongan tertentu yang muncul.

Penyunting: Bukhari