Sahal bin Abdullah al-Tustari merupakan ahli tafsir pada bidang sufi. Beliau hidup pada awal abad ke-3 H karyanya yang paling terkenal adalah Tafsir Al-Qur’an al-Adzim. Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab tafsir yang pertama dalam bidang tafsir sufi; yang sampai pada masa sekarang sehingga banyak kemungkinan kitab-kitab sesudahnya yang beraliran sufi; merujuk, mengikuti atau bahkan menjadikan acuan utama kepada kitab tafsir ini. Karena tafisr ini merupakan model tafsir yang khas dengan dalil-dalil penafsiran sufi yang lurus. Tafsir ini dicetak dalam satu jilid kecil, karena pengarangnya tidak menafsirkan Al-Qur’an secara keseluruhan tapi hanya membicarakan beberapa ayat yang terpisah-pisah dari tiap-tiap surah.
Sementara ini, singkatnya dapat dikatakan bahwa kitab tafsir Al-Tustari merupakan kitab tafsir sufi pertama atau tertua yang dapat kita jumpai hingga saat ini. Hal ini diperkuat oleh bukti-bukti otentik yang mengindikasikan bahwa kitab ini telah muncul sejak jauh sebelum abad ke-4 hijriyah silam.
Adapun beberapa argumen tersebut di antaranya; pertama dimulai dari yang paling dekat jarak waktunya dengan saat ini yaitu dalam edisi cetak. Tafsir ini pertama kali dicetak di Kairo pada tahun 1326 H/ 1908 M dengan tebal 204 halaman. Kedua, ditemukannya manuskrip tertua tentang tafsir ini yaitu merujuk pada kisaran abad 9 H/ 5 M atau 10 H/16 M. Namun, hal ini belumlah cukup, meskipun manuskrip tertua dari kitab ini di temukan di abad pertengaha. Akan tetapi, ada bukti lain dengan ditemukannya pengantar dalam manuskrip-manuskrip lain yang berisikan komentar dari Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami dalam kitab haqaiq al-tafsir yang ditujukan kepada al-Tustari yang merujuk pada abad ke 6H/12M. Kemudian dari cara penulisannya juga diduga kuat bahwa format tulisan yang mirip dengan tafsir al-Tustari semacam itu setidaknya berada di akhir abad ke-4 hijriyah.
Corak dan Metode Tafsir Al-Tustari
Kitab Tafsir Al- Qur’an al-‘Azim karya Sahal al-Tustari adalah sebuah karya tafsir pertama tentang tafsir simbolik dan analogis. Sebagaimana yang Al-Tustari sebutkan dalam pendahuluan kitab (muqaddimah), bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Qur’an itu mempunyai empat makna, yaitu:
- Zahir adalah makna yang sudah terbaca lewat katanya.
- Batin adalah makna pemahaman yang dikandungnya.
- Hadd adalah batasan kehalalan dan keharamannya.
- Matla’ adalah terangnya hati dengan pemahaman atas apa yang dikehendaki oleh ayat-ayat tersebut; pemahaman yang datang dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Menurut al-Tustari, tafsir ini termasuk dalam ketegori tafsir sufi. Pegangan dasarnya ada tujuh; berpegang teguh terhadap kitab Allah Swt; mengikuti sunnah Rasulullah Saw; memakan makanan yang halal, menghentikan perbuatan jelek, menghindari dosa, taubat dan menunaikan hak. Sahal al-Tustari menggunakan metode tersebut dalam menafsirkan Al-Qur’an, beliau juga memuat perkataan ulama lainnya. Al-Qur’an tidak mungkin pas dengan asumsi satu orang saja. Arti secara bahasa dalam al-Qur’an bukan merupakan maksud keseluruhan dari kalimat-kalimat al-Qur’an tersebut. Karena arti secara bahasa adalah ungkapan lahiriyah saja. Al-Qur’an semenjak munculnya tidak hanya dipandang secara lahiriyah saja.
***
Sebagaimana yang dipaparkan di atas, setidaknya ada dua metode yang digunakan Sahal al-Tustari. Ia menekankan pada harfiah dan simbolik. Signifikansi moral ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi fokus utama pelaku tasawuf. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Sahal al-Tustari tidak menafsirkan seluruh ayat yang ada di dalam al-Qur’an; hanya menaruh perhatian pada makna batin yang sejalan dengan fokusnya dalam mengusung panji-panji ajaran moral Al-Qur’an.
Pengungkapan signifikansi moral Al-Qur’an ini pada umumnya dilakukan terhadap kelompok ayat-ayat muhkamat yang memiliki makna harfiah yang jelas. Walaupun terdapat dalam beberapa kasus, meski sangat jarang, metode penafsiran ini juga diterapkan kepada ayat-ayat mutasyabihat. Seperti ayat-ayat yang tergolong ke dalam kelompok ahruf muqatta‘at yang menjadi ayat pembuka bagi surah-surah tertentu; meskipun ayat-ayat ini tidak memiliki pemahaman makna secara zahir.
Kedua jenis metode penafsiran inilah yang dipakai dalam corak penafsiran Sahal al-Tustari. Sepenuhnya pada jelas atau kurang jelasnya indikasi ke arah ajaran moral yang dikandung Al-Qur’an di dalam sebuah ayat yang hendak ditafsirkan.
Contoh Penafsiran
Seperti contoh pada Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
Sahal al-Tustari berkata: “Allah SWT. mengumpamakan anggota tubuh ini bagaikan daratan dan mengumpamakan hati bagaikan lautan. Lautan itu lebih bermanfaat dan lebih membahayakan. Inilah ungkapan secara bathin, tidakkah kamu memperhatikan bahwa hati itu dinamakan dengan al-qalb. Karena artinya adalah sesuatu yang berbolak balik dan sesuatu yang terombang-ambing setelah tenggelam.”
Dalam menafsirkan sebuah ayat, Sahal al-Tustari tidak serta merta menafsirkan Al-Qur’an dengan cara taqlid kepada orang lain. Untuk melakukan penafsiran, Sahal al-Tustari mengumpulkan ayat Al-Qur’an secara menyeluruh terlebih dahulu. Kemudian ia mengkaji ayat maupun pembahasannya dengan mempertimbangkan beberapa aspek; baik dari segi bahasa, syari’at, akhlak, alam, dan aspek lain yang mendukung. Selanjutnya beliau menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai dengan kesan yang diberikan Al-Qur’an kepada hatinya, dan perasaan jiwanya. Sahal al-Tustari tidak mengatakan bahwa penafsirannya yang paling tepat, ataupun itulah satu-satunya tafsir yang benar.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.