Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengenal Tokoh Tafsir Kontemporer: ‘Abid al-Jabiri

Abid al-Jabiri
Gambar: Islamlib.com

Penafsiran Al-Qur’an terus berkembang dari masa ke masa. Dari zaman klasik hingga masa kontemporer. Salah satu tokoh yang menuangkan pemikirannya dimasa kontemporer terutama di bidang tafsir adalah Muhammad ‘Abid al-Jabiri. Untuk mengenal lebih dekat dan mengetahui lebih dalam sosoknya, maka dalam artikel ini akan mengupas lebih sosok tokoh tafsir kontemporer. Berikut adalah penjelasannya :

Profil ‘Abid al-Jabiri

‘Abid al-Jabiri atau yang memiliki nama lengkap Muhammad ‘Abid al-Jabiri merupakan seorang dosen filsafat dan pemikiran Islam di Fakultas Sastra Universitas Muhammad V yang berada di Ibukota Maroko, yakni Rabat. Ia lahir pada tanggal 27 Desember 1935 di Fejij atau Figuig, Maroko. Ayahnya bernama Muhammad dan ibunya bernama al-Wazinah. Ibunya merupakan seorang berdarah nasionalis, sedangkan ayahnya adalah seorang pejuang kemerdekaan negara Maroko yang mana Maroko ini termasuk salah satu negara jajahan dari Perancis dan Spanyol.

Keluarga ayah dan Ibunya sangat menyayangi al-Jabiri. Salah satu bukti cinta kedua belah pihak ayah dan ibunya adalah dengan terpenuhinnya kebutuhan al-Jabiri. Tak hanya itu, ia juga selalu mendapatkan fasilitas serta kasih sayang dengan cukup dari ayah dan ibunya. Meskipun ayah dan ibunya telah bercerai sejak al-Jabiri masih berada didalam kandungan. Tetapi, al-Jabiri telah mendapatkan hak-haknya dari ia lahir hingga memasuki usia ke tujuh tahun.

Pendidikan dan Karya-karyanya

‘Abid Al-Jabiri mulai masuk pendidikan di Madrasah Hurrah Wathaniyyah. Sebuah sekolah agama swasta yang berdiri atas gerakan kemerdekaan pada saat itu di tahun 1949. Kemudian ia melanjutkan pendidikan menengahnya di tahun 1951 hingga 1953 di Casablanca dan mendapatkan Diploma Arabic High School saat Maroko telah merdeka. Kemudian pada tahun 1953-1955 terjadi transisi. Terjadi panasnya perjuangan kemerdekaan untuk Maroko. Dari sanalah al-Jabiri berkecimpung di dunia politik.

Baca Juga  Pengajian Tafsir Gus Mus: Perempuan Itu Setara dengan Laki-laki

Selain itu,  keluarga al-Jabiri juga merupakan pejuang kemerdekaan negara Maroko. Di tahun tersebut al-Jabiri mengalami transisi dari masa remaja menuju ke masa dewasa. Pemikirannya tidak hanya di bidang politik, tetapi ia juga menekuni filsafat. Ia menekuni pendidikan filsafatnya pada tahun 1958 bertempat di Universitas Damaskus, Syiria selama setahun. Kemudian berpindah di Universitas Rabat dan kebetulan saat itu baru dibangun.

Kemudian ia melanjutkan program masternya di tahun 1967 dengan judul tesis Falsafah al-Tarikh ‘inda Ibn Khaldun yang dibimbing oleh Muhammad Aziz Lahbabi. Sementara disertasi doktoralnya juga masih terkait tokoh Ibn Khaldun, yakni “Fanatisme dan Negara: Elemen-elemen Teoretis Ibn Khaldun dalam Sejarah Islam”. Disertasinya dibukukan di tahun 1971 yang dibimbing oleh Najib Baladi.

Sejak tahun 1964 al-Jabiri telah aktif menjadi seorang guru filsafat di sekolah menengah serta aktif di bidang pendidikan nasional. Selain aktif di bidang pendidikan, ia juga ahli di bidang bahasa dimasa itu. Yakni bahasa Arab, bahasa Perancis yang menjadi bahasa kedua bekas dari kolonial dan mahir di bahasa Inggris. Dari kemampuannya di tiga bidang bahasa tersebut kemudian mempermudah mudah ia dalam mengakses referensi yang juga memengaruhi pemikirannya.

Pengaruh Pemikiran Perancis

Kemudian saat negara Maroko merdeka, ditentukanlah dua bahasa resmi, yakni bahasa Arab dan bahasa Perancis. Dalam tesis kaum post-strukturalis dikatakan bahwa bahasa menentukan ukuran, bentuk, bahkan kandungan atas pemikiran seseorang. Oleh karena itu, adanya tradisi Perancis dapat memudahkan para sarjana Maroko dalam mengenal warisan pemikiran yang memakai bahasa Perancis.

Tidak hanya itu, tokoh-tokoh yang hidup pada masa ‘Abid al-Jabiri, seperti Fatima Mernissi, Muhammad Arkoun serta Hassan Hanafi sempat merasakan tradisi filsafat Perancis yang mana pada saat itu terjadi pemberontakan kaum strukturalis, post-strukturalis, dan post modern. Dari adanya penguasaan bahasa dan konflik tersebut, terbitlah karya Michel Foucault yang diterbitkan oleh al-Markaz al-Thaqafi al- ‘Arabi yang berada di Casablanca.

Baca Juga  Tafsir Realis Hassan Hanafi dalam Upaya Pembaharuan

Selain bidang pendidikan, al-Jabir juga merupakan aktivis politik. Hal ini dapat dilihat kontribusinya pada Partai Union Nationale des Forces Popularies (UNFP) yang kemudian berganti nama menjadi Union Sosialiste des Forces Popularies (USFP). Di tahun 1975 ia menjadi biro politik USFP. Ditahun 1964 al-Jabiri dengan teman-temannya dimasukkan penjara akibat adanya tuduhan melakukan konspirasi terhadap negara. Tetapi, di tahun tersebut juga al-Jabiri dikeluarkan dari penjara.

Karya-karya ‘Abid al-Jabiri

Kemudian ditahun 1980-1981 al-Jabiri memilih untuk lebih fokus di bidang akademik dan mengundurkan diri dari dunia perpolitikan. Pengambilan fokusnya terhadap akademisi memunculkan beberapa karya besar ‘Abid al-Jabiri. Diantarannya : al-‘Asabiyah wa al-Daulah Haula Fikr Ibn Khaldun tahun 1971, Adwa ala Musykil al-Ta’lim tahun 1973, Madkhal ila Falsafah al-Ulum tahun 1976, Nahnu wa al-Turas Qira’ah Muasiroh fi Turasina al-Falsafi>tahun 1980 yang diterjemahkan menjadi “Kita dan Tradisi: Pembacaaan kontemporer atas tradisi Filsafat”.

Kemudian Al-Khitab al-Arabi Al-Muasir Dirasah Taqliliyah Naqdiyyah tahun 1982. Artinya “Wacana Arab Kontemporer: Studi Kritis dan Analitis”, dan yang menjadi karya monumentalnya ialah trilogi Naqd al-‘Aql al-‘Arabi terdiri atas kisaran 1200 halaman lebih.

Karya selanjutnya adalah Takwin al-‘Aql al-‘Arabi, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, al-‘Aql al-Siyasi Arabi, al-Turas wa al-Hadasah; Dirasah wa Munaqasyah, Madkhal ila al-Qur’an al-Karimal -Juzz al-Nuzul. Serta karyanya yang populer dan banyak dikaji oleh pengkaji tafsir ialah Fahm al-Qur’an al-Hakim al-Tafsir al-Wadih hasba Tartib al-Nuzul yang merupakan karya tafsir ditulis dengan berdasar tartib nuzuli. Berbeda dengan kitab – kitab tafsir pada umumnya yang disusun berdasar tartib mushafi.

Dari banyaknya pemikiran, karya tulis serta banyaknya peran yang digeluti al-Jabiri menjadikan namannya agung dan menjadi guru besar hingga akhir hayatnya. Bahkan, namanya di zaman sekarang banyak dikenal orang karena peran, karya, dan pemikirannya. Pada akhirnya, ‘Abid al-Jabiri menghadap sang kuasa tepat ditanggal 3 Mei 2010 di Casablanca pada usia yang ke 75 tahun.

Baca Juga  Keistimewaan Perempuan dalam Islam: Tinjauan Al-Quran

Penyunting: Bukhari