Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengapa Kita Harus Beriman Kepada Malaikat?

beriman malaikat
Sumber: https://kumparan.com/
Contents

Beriman kepada malaikat adalah salah satu rukun iman. Keberadaan malaikat wajib dipercayai. Mereka adalah makhluk Allah yang berbeda dengan manusia. Meskipun tidak tampak dalam penglihatan manusia, keberadaan mereka wajib diimani. Hal ini, oleh para ulama, disandarkan pada hadis populer tentang iman, islam, dan ihsan. Keimanan pada hadis itu menyebutkan keimanan pada malaikat setelah menyebutkan iman kepada Allah.

Kita bisa menemukannya pada redaksi an tu’mina billah wa malaikatihi, “hendaknya kamu beriman kepada Allah dan para malaikatnya”. Redaksi ini mengokohkan bahwa keimanan kepada malaikat menjadi pilar keimanan. Apabila ini menjadi pilar, maka semua mukmin wajib mengimaninya. Tidak mengimaninya dianggap ingkar.

***

Kepercayaan kepada malaikat mencakup empat hal. Pertama, keyakinan akan keberadaan mereka. Kedua, iman kepada mereka yang namanya dikenal (seperti Jibril), dan mereka yang namanya tidak dikenal. Seorang muslim hendaknya beriman kepada mereka secara umum. Ketiga, keyakinan pada apa yang diketahui dari sifat-sifat mereka. Keempat, keyakinan terhadap apa yang diketahui dari perbuatan mereka atas perintah Allah, seperti memuji-Nya, dan menyembah-Nya siang dan malam tanpa rasa bosan atau apatis. Pernyataan ini salah satunya dijelaskan oleh al-Suyuthi dalam al-Haba’ik fi Akhbar al-Mala’ik.

Setelah memahami tentang beriman kepada malaikat, tentu yang penting lagi adalah mengapa beriman kepada mereka itu penting? Atau dalam kehidupan di dunia, apa makna iman kepada mereka?  Sementara mereka tidak kelihatan kasat mata oleh manusia biasa.

Pertama, keyakinan akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, dan kesempurnaan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya dalam menciptakan malaikat. Hal ini menunjukkan perilaku  makhluk untuk kebesaran Yang Maha Menciptakan. Hal ini dapat dilihat pada Q.S. Fathir:1, “Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap. Masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Baca Juga  Prinsip Rasulullah Dalam Menyampaikan Risalah Islam
***

Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menugaskan malaikat menyampaikan wahyu kepada para nabi-Nya, untuk menyampaikan berbagai macam urusan. Malaikat itu adalah sejenis makhluk yang mempunyai sayap yang beraneka ragam, ada yang dua, tiga, atau empat bahkan ada yang lebih dari itu. Malaikat bertugas untuk menyampaikan segala perintah dan larangan Allah kepada para nabi-Nya. Allah berkuasa menambah sayap para malaikat lebih banyak lagi menurut kehendak-Nya, sesuai dengan keperluan. Tidak ada kekuatan yang dapat menghalangi-Nya, karena Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu.

Kedua, mencontoh perilaku ketaatan malaikat kepada Allah. Malaikat selalu beribadah dan taat sesuai perintah Allah tidak menambah dan mengurangi. “Malaikat berkata,) “Tidak satu pun di antara kami, kecuali masing-masing mempunyai kedudukan tertentu. Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah). Sesungguhnya kamilah yang benar-benar terus bertasbih (kepada Allah). (QS. Ash-Shaffat:164-166).

Ketiga ayat ini memnginformasikan pengakuan malaikat mengenai dirinya, yaitu bahwa mereka memanggul fungsi dan tugas tertentu. Malaikat  menjalankan fungsi dan tugasnya itu tanpa mengurangi atau menambah sedikit pun dari yang diperintahkan Allah.  Mereka pun selalu sigap melaksanakan tugasnya dan bekerjasama dalam kesatuan-kesatuan yang kuat.

***

Dengan berbaris-baris seperti itu maka tugas dilaksanakan mereka dengan penuh semangat, gegap-gempita, dan sempurna, sehingga pelaksanaan tugas itu sukses secara maksimal tanpa ada yang kurang atau yang lebih. Pelaksanaan tugas secara serius itu memberikan petunjuk bahwa mereka sangat patuh kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Mereka tetap selalu bertasbih kepada-Nya.  Ini salah satu penafsiran yang dikutip dari Al-Qur’an Kemenag (2022).

Ketiga, berharap permintaan dikabulkan oleh Allah karena doa dan istigfar para malaikat. Hal ini akan menguatkan keimanan dan bergegas dalam melaksanakan ketaatan serta mengingat Allah. Dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Nabi Muhammad Saw bersabda, “Malaikat bersalawat (berdoa) untuk kalian”, yaitu beristigfar untuk kalian. Ibnu Bathal berkomentar malaikat berdoa untuk seseorang selama ia berada di tempat salatnya.

Baca Juga  Tasawuf Dalam Pandangan Muhammadiyah

Kata salawat pada hadis ini dengan bentuk tushalli memiliki makna dari malaikat berupa istigfar dan doa. Sementara dari Allah, dimaknai sebagai rahmat. Pendapat ini salah satunya dikuatkan oleh Mahlab ketika mengomentasi hadis di atas.

***

Senada dengan hadis di atas, seorang perempuan yang salat di rumah sementara ia menunggu waktu salat, ia termasuk dalam maksud hadis ini. Kata tempat salat atau mushalla pada hadis ini tidak hanya dipahami masjid atau tempat salat bagi laki-laki. Perempuan pun selama ia ada di tempat salat di rumahnya dan menunggu waktu salat, ia termasuk orang yang didoakan oleh malaikat.

Dalam berperilaku, keimanan terhadap malaikat akan melahirkan sikap hati-hati. Sebab, setiap perbuatan akan dicatat oleh malaikat yang diberi tugas mencatat amal, Rakib dan Atid. Seorang muslim harus menimbang dulu perwujudan perilaku negatif yang akan dilakukan. Sebab, ketika perilaku tersebut terjadi, perbuatan buruknya tercatat oleh malaikat. Dari sikap hati-hati ini memunculkan dorongan agar yang diwujudkan  adalah kebaikan. Apabila kebaikan yang diwujudkan maka catatannya penuh dengan kebaikan. Perilaku kebaikan, sebagaimana hadis di atas, akan didoakan oleh malaikat. Wallahu A’lam